counter

PWI NTT: Habibie membuka kran kebebasan pers

PWI NTT: Habibie membuka kran kebebasan pers

Dion DB Putra. (ANTARA/Bernadus Tokan)

Presiden BJ Habibie telah meletakkan fondasi demokratisasi di negeri ini. UU Nomor 40 tahun 1999 Tentang Pers merupakan produk hukum yang lahir di masa kepemimpinannya, katanya
Kupang (ANTARA) - Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (DK PWI) Nusa Tenggara Timur, Dion DB Putra mengatakan, Presiden Ketiga RI BJ Habibie telah membuka kran kebebasan pers, satu di antara pilar penting demokrasi Indonesia modern.

UU Nomor 40 tahun 1999 Tentang Pers merupakan produk hukum yang lahir di masa kepemimpinannya. UU itu belum direvisi sampai detik ini, kata Dion DB Putra kepada Antara di Kupang, Rabu malam, terkait peran BJ Habibie dalam membangun kebebasan pers di Tanah Air.

"Presiden BJ Habibie telah meletakkan fondasi demokratisasi di negeri ini. UU Nomor 40 tahun 1999 Tentang Pers merupakan produk hukum yang lahir di masa kepemimpinannya," katanya.

Baca juga: Habibie wafat, Batam kehilangan peletak tonggak pembangunan

Dia mengatakan, berkat UU No.40 tahun 1999, kebebasan dan kemerdekaan pers di Indonesia terjamin. Pengekangan selama 32 tahun Orde Baru pun pupus.

Efeknya menyebar ke berbagai lini kehidupan sosial kemasyarakatan, baik politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Rakyat Indonesia tidak lagi takut menyampaikan aspirasi mereka.

Selain itu, BJ Habibie pun taat asas, tidak mengejar kedudukan dan kuasa. Dia menerima dengan lapang dada ketika tidak dicalonkan lagi sebagai presiden pada tahun 1999.

"Dia hanya mengantar Indonesia memasuki pintu gerbang pemilu yang lebih jujur dan adil. Kiranya layak BJ Habibie ditempatkan sebagai Bapak Demokrasi Indonesia," kata mantan Ketua PWI NTT dua periode itu.

Baca juga: Wiranto: Habibie perintis awal teknologi Indonesia

Setelah tidak menjabat di pemerintahan, BJ Habibie memainkan peranannya sebagai negarawan. Tak henti-hentinya Habibie mengajak seluruh komponen bangsa agar tetap bersatu. Sampai akhir hayatnya, BJ Habibie terus berikhtiar merawat persatuan bangsa yang majemuk ini, katanya.

Pemimpin Redaksi Harian Umum Pos Kupang itu menambahkan, Indonesia kehilangan seorang putera terbaik dengan meninggalnya BJ Habibie.

Baca juga: Tjahjo Kumolo kenang Habibie sebagai teknokrat kelas dunia

Menurut dia, ada beberapa poin yang merupakan warisan Habibie yang luar biasa bagi bangsa Indonesia, yakni pertama Habibie merupakan presiden di masa transisi, peralihan dari rezim otoriter Soeharto ke era reformasi.

Meskipun hanya kurang lebih setahun memimpin Indonesia, BJ Habibie sukses mengantar bangsa ini memasuki era reformasi dengan damai, tanpa pertumpahan darah setetes pun. Presiden BJ Habibie meletakkan fondasi demokratisasi di negeri ini, kata Dion DB Putra.

Pewarta: Bernadus Tokan
Editor: Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar