counter

Kualitas udara Sampit kembali berbahaya, sebut Dinkes

Kualitas udara Sampit kembali berbahaya, sebut Dinkes

Murid SDN 1 Ketapang Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalteng menggunakan masker dan melambaikan tangan sebagai simbol menolak pembakaran lahan dan asap. (FOTO ANTARA/Norjani)

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kotawaringin Timur pada pukul 12.45 WIB, kualitas udara Sampit masuk kategori "berbahaya" dengan kadar indeks standar pencemaran udara 384,11 mikrogram per meter kubik
Sampit (ANTARA) - Masyarakat Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, diimbau Dinas Kesehatan (Dinkes) daerah itu meningkatkan kewaspadaan karena kualitas udara pusat kota itu kembali masuk dalam kategori berbahaya akibat pekatnya asap dan debu kebakaran lahan.

"Kami meminta masyarakat menggunakan masker dan menghindari aktivitas di luar ruangan karena asap beberapa hari ini kembali pekat dan rawan mengganggu kesehatan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur dr Faisal Novendra Cahyanto di Sampit, Kamis.

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kotawaringin Timur pada pukul 12.45 WIB, kualitas udara Sampit masuk kategori "berbahaya" dengan kadar indeks standar pencemaran udara 384,11 mikrogram per meter kubik.

Pantauan di lapangan pada Kamis pagi asap tidak terlalu pekat, namun sekitar pukul 07.00 WIB asap makin pekat. Sebagian besar warga yang beraktivitas menggunakan masker agar tidak terhirup asap bercampur debu kebakaran lahan.

Untuk kawasan Utara, kata Faisal, tidak terpantau adanya asap kebakaran hutan dan lahan. Namun potensi ISPA di kawasan ini justru bisa dipicu oleh debu jalan lantaran masih banyak jalan tanah sehingga saat kering seperti sekarang ini menjadi berdebu.

Menurut data Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA pada Agustus 2019 sebanyak 3.625 kasus dengan sebaran terbanyak di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang. Dua kecamatan ini memang banyak terdapat kebakaran lahan.

Jumlah kasus ISPA pada Agustus dan September, katanya, masih didata dan segera disampaikan. Namun, Faisal memperkirakan jumlahnya meningkat karena kebakaran lahan kembali marak sehingga menimbulkan asap, khususnya di kawasan kota Sampit.

Pihaknya mempersilakan masyarakat yang membutuhkan masker untuk minta ke puskesmas terdekat. Jika diperlukan dalam jumlah banyak atau kolektif, bisa disampaikan permintaannya kepada Dinas Kesehatan.

"Bagi penderita asma dan jantung kami sarankan untuk konsultasi ke dokter untuk persiapan obat sehingga bisa dibawa. Masyarakat juga diimbau memperbanyak minum air, serta mengonsumsi buah dan sayuran. Jaga stamina agar tidak mudah sakit," kata Faisal Novendra Cahyanto.

Sementara itu, petugas gabungan masih berjibaku memadamkan kebakaran lahan di sejumlah lokasi. Mereka cukup kewalahan lantaran makin banyak kebakaran lahan terjadi dekat permukiman sehingga harus segera dipadamkan.

"Kami sudah kewalahan karena makin banyak permintaan masyarakat karena kebakaran lahan banyak yang terjadi dekat permukiman. Titik panas setiap hari sudah di atas 100 semua," demikian Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kotawaringin Timur Muhammad Yusuf.

Baca juga: Penerbangan Pangkalan Bun-Sampit dibatalkan karena asap

Baca juga: Kabut asap turunkan kualitas udara Sampit ke level berbahaya

Baca juga: Umat Islam Kotawaringin Timur diimbau shalat Istisqa

Pewarta: Kasriadi/Norjani
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jarak pandang di Sampit hanya 10 hingga 20 meter

Komentar