counter

Rokok elektrik AS Juul masuki pasar China

Rokok elektrik AS Juul masuki pasar China

(Kiri ke kanan): Kent Sarosa, General Manager JUUL Labs, Indonesia; Ken Bishop, President, APAC South; James Monsees, Founder & Chief Product Officer JUUL Labs usai menghadiri acara temu media di Jakarta, Rabu (10/7/2019). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Jakarta (ANTARA) - Produk rokok elektrik asal Amerika Serikat, Juul memasuki China melalui jalur toko daring seperti Alibaba dan JD.com.

Distribusi Juul oleh Juul Labs Inc ke pasar China dilakukan di saat banyak aturan pengendalian terhadap rokok elektrik dibuat di Amerika Serikat.

Juul Labs Inc, perusahaan yang 35 persen sahamnya dikuasai Altria Group, telah memasarkan produknya ke pasar internasional, khususnya di Korea Selatan, Indonesia, dan Filipina sejak beberapa bulan lalu.

Dalam penjualan perdananya ke pasar internasional, Juul dikabarkan mampu menghimpun keuntungan lebih dari 750 juta AS.

Pemerintah AS pada Rabu mengumumkan rencana pengendalian peredaran rokok elektrik dari toko, karena rasa manis rokok elektrik menyebabkan jutaan anak-anak memiliki candu terhadap nikotin.

Sikap keras Pemerintah AS itu didasari hasil penyelidikan lembaga kesehatan yang menunjukkan kemungkinan rokok elektrik menyebabkan kematian beberapa orang, dan produk itu dinilai berpotensi merusak fungsi paru-paru penggunanya.

Akan tetapi, aturan pengendalian itu tak menyurutkan langkah Juul melebarkan sayap bisnisnya ke China. Toko resmi Juul mengumumkan rokok elektrik itu dapat dibeli via Tmall, laman milik perusahaan China Alibaba, pada 9 September. Juul juga tersedia di marketplace asal China lainnya, JD.com.

Toko resmi Juul yang tersedia di Tmall menjual satu unit rokok elektrik beserta dua bungkus perisa-nya seharga 299 Yuan (40 dolar AS). Rasa rokok yang ditawarkan, antara lain mint, mangga, dan stroberi.

Hingga berita diturunkan pada Kamis, Tmall dan JD.com belum memberikan tanggapan resmi terkait penjualan Juul di China.

China merupakan negara dengan jumlah perokok terbesar dunia dengan jumlah lebih dari 300 juta jiwa. Negara itu diyakini memiliki pasar yang menjanjikan sekaligus penuh risiko bagi perusahaan rokok.

Akan tetapi, China telah menjadi pasar rokok elektrik bagi sejumlah produsen, di antaranya Relx, Yooz, dan SNOW+. Industri rokok elektrik di China dikabarkan menelan dana sebanyak puluhan juta dolar AS dari para investor. Juul dan produsen rokok elektrik lain berhasil mengembangkan alat tersembunyi yang dapat mengubah butiran nikotin menjadi asap.

Di tengah industri rokok elektrik yang menjamur di China, pemerintah tetap gencar mengampanyekan gerakan anti rokok sebagai upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Awal tahun ini, Pemerintah China menyiarkan rancangan aturan pengendalian rokok elektrik sebagaimana yang telah diterapkan di banyak negara Eropa.

Industri tembakau di China dikendalikan oleh perusahaan milik negara, China Tobacco. Perusahaan itu menguasai penuh penjualan, distribusi, dan produksi rokok di China. Meskipun banyak kampanye anti rokok dibuat, Pemerintah China masih cukup bergantung pada pajak besar yang diperoleh dari industri tembakau.

Sumber: Reuters

Baca juga: Begini cara uap dihasilkan rokok elektrik
Baca juga: AS selidiki penyakit paru-paru terkait 'e-cigarette'
​​​​​​​


 

Penerjemah: Genta Tenri Mawangi
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Vape atau rokok elektrik bukanlah jalan untuk berhenti merokok

Komentar