counter

Gubernur minta aktivitas perkuliahan Unipa Manokwari segera pulih

Gubernur minta aktivitas perkuliahan Unipa Manokwari segera pulih

Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan. ANTARA/Toyiban/am.

Ingat bahwa untuk menghadirkan Unipa di sini tidak gampang, membangunya pun butuh biaya yang tidak sedikit, jangan karena emosi lalu berbuat seenaknya.
Manokwari (ANTARA) - Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan minta aktivitas perkuliahan di Kampus Universitas Papua (Unipa) Manokwari segera pulih.

Aktivitas perkuliahan di satu-satunya kampus negeri di Manokwari itu terganggu akibat aksi pemberian palang yang dilakukan mahasiswa di pintu-pintu masuk lingkungan kampus.

"Kita prihatin. Anak-anak tidak bisa belajar sejak beberapa hari lalu. Kalau ada masalah, pihak kampus harus segera selesaikan," kata Gubernur di Manokwari, Jumat.

Khawatir terhadap kondisi itu, Gubernur meminta keterangan kepada penyelenggara kampus. Sesuai informasi yang diperoleh, hal ini terjadi akibat persoalan internal.

"Awalnya saya pikir karena dampak dari aksi demo yang dilakukan mahasiswa terkait kasus rasisme di Surabaya. Ternyata tidak. Ada masalah internal," kata Gubernur.

Baca juga: Mahasiswa UNIPA praktik pengelolaan hutan di Biak Numfor

Baca juga: Papua Barat subsidi Rp24 miliar program kedokteran Unipa


Untuk itu, pemerintah daerah tidak bisa melakukan intervensi dan mengembalikan penuntasanya kepada pihak kampus. Ia pun berharap kampus bertindak cepat agar perkuliahan lancar kembali.

"Unipa ini satu-satunya kampus milik kita. 80 persen adik-adik yang kuliah di situ adalah anak-anak asli Papua. Jangan sampai karena ada persoalan kepentingan tertentu, anak-anak yang menuntut ilmu di kampus terganggu," ujar dia.

Kehadiran Unipa di Papua Barat untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) di tanah Papua. Ia juga menuturkan bahwa menghadirkan kampus tersebut di Manokwari membutuhkan waktu cukup lama.

Ia menjelaskan, Unipa berdiri setelah Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura membuka Fakultas Pertanian (Faperta) di Manokwari.

"Faperta adalah cikal bakal Unipa. Untuk menjadikanya sebagai Universitas, saat itu perjuangan kita tidak gampang. Banyak tarik ulur karena ada pihak-pihak yang menentang. Sekarang sudah bagus, maka harus dijaga baik-baik," ujarnya lagi.

Dia juga merasa sedih jika aksi pemasangan palang berkepanjangan. "Ingat bahwa untuk menghadirkan Unipa di sini tidak gampang, membangunya pun butuh biaya yang tidak sedikit, jangan karena emosi lalu berbuat seenaknya," katanya.*

Baca juga: Mahasiswa Manokwari sumbang pakaian dan dana untuk pengungsi banjir

Baca juga: IKA Unipa Manokwari buka rekening peduli Sentani

Pewarta: Toyiban
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wakil DPRD Papua dan Papua Barat minta pemerintah buka ruang dialog

Komentar