Plt Gubernur Kepri ikut main film "Juara"

Plt Gubernur Kepri ikut main film "Juara"

Plt Gubernur Kepri, Isdianto tengah syuting film pendek "Juara" di Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat, Tanjungpinang. (Ogen)

Saya selalu katakan jangan anti dengan budaya asing, karena itu bagian dari risiko kita sebagai daerah terbuka dan tujuan wisata. Tapi kita harus menyaringnya, ambil yang baik dan tinggalkan yang bertentangan dengan Budaya Melayu kita.
Tanjungpinang (ANTARA) (ANTARA) - Plt. Gubernur Kepulauan Riau, Isdianto ikut menjadi pemain dalam film pendek berdurasi sekitar 30 menit dengan judul "Juara" yang mengambil lokasi di Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat, Tanjungpinang.

"Juara merupakan kependekan dari 'Tunjuk Ajar Budaya', yang merupakan sebuah garapan film pendek untuk memenuhi tugas proyek perubahan Sekretaris Camat Pulau Penyengat yang sedang mengikuti Diklat PIM IV," kata Isdianto, Jumat.

Dalam kesempatan ini, Isdianto tetap berperan sebagai Plt. Gubernur Kepri yang sedang melaksanakan shalat zuhur di Masjid Pulau Penyengat.

Dari alur ceritanya, usai shalat zuhur, Isdianto bertemu dengan seorang warga bersama keponakannya yang merupakan pengrajin tanjak.

Keduanya terlibat dalam obrolan yang isinya lebih banyak nasehat dan petuah dari Isdianto untuk warganya tersebut.

Menurut dia, inti dari film ini sendiri adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan Kepri, terutama yang bermuatan budaya lokal Melayu.

Baca juga: Sumur kering, warga Pulau Penyengat kesulitan air bersih

Baca juga: Kepri percantik Pulau Penyengat Tanjungpinang
 

Peringatan Maulid Nabi Di Pulau Penyengat


Dikatakan Isdianto, walaupun zaman sudah maju dengan berbagai teknologi yang canggih, tapi anak-anak Melayu tidak boleh melupakan adat dan budaya dasarnya sendiri.

Isdianto tampak menikmati setiap adegan yang dia lakukan. Seakan dia sedang tidak sedang berakting.

"Isi percakapan film ini sama seperti apa yang selalu katakan sehingga ketika saya baca naskahnya, saya rasa tidak perlu teks," kata Isdianto.

Isdianto juga mengatakan bahwa Melayu adalah benteng bagi budaya asing yang masuk. Masyarakat Melayu tidak boleh anti dengan budaya asing, namun tidak boleh melupakan budaya sendiri sebagai bentengnya.

"Saya selalu katakan jangan anti dengan budaya asing, karena itu bagian dari risiko kita sebagai daerah terbuka dan tujuan wisata. Tapi kita harus menyaringnya, ambil yang baik dan tinggalkan yang bertentangan dengan Budaya Melayu kita," tutur Isdianto.

Melalui film pendek ini pula, Isdianto berharap dapat ikut mempromosikan Pulau Penyengat sebagai daerah tujuan wisata budaya dan sejarah.

Salah satunya Masjid Pulau Penyengat yang sudah ditetapkan sebagai situs cagar budaya oleh pemerintah Republik Indonesia.*

Baca juga: Pemprov Kepri peringatkan masyarakat tidak bakar hutan

Baca juga: Isdianto: HUT RI momentum tingkatkan SDM Kepri

Pewarta: Ogen
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar