Direktur BPIP: Jangan rasa paling benar dalam suku, agama dan pendapat

Direktur BPIP: Jangan rasa paling benar dalam suku, agama dan pendapat

Pertunjukan pagelaran busana di Kediaman Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno dalam pengasingannya di Bengkulu, Jumat (13/9/2019). ANTARA/Abdu Faisal/aa.

Bengkulu (ANTARA) - Direktur Pembudayaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Irene Camelyn Sinaga, mengatakan Pancasila itu semestinya jangan merasa paling benar dalam hal suku, agama, pendapat.

"Pancasila adalah bungkus, arti yang sebenarnya adalah gotong royong, kerukunan," kata Irene saat mengisi acara Menyusuri Ajar Ibu, Dialog dan Metalog Antargenerasi Kalangan Perempuan yang digelar di Kota Bengkulu, Jumat.

Bhinneka Tunggal Ika, adalah semboyan yang mengatakan meski ada perbedaan yang harus kita hargai di dalam bangsa ini. Kita mencintai perbedaan bukan perpecahan.

Kaum perempuan memegang peranan penting dalam menjalankan dan menyebarkan nilai-nilai Pancasila tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dibahas secara mendalam kegiatan Menyusuri Ajar Ibu, Dialog dan Metalog Antargenerasi Kalangan Perempuan yang digelar pada Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Kota Bengkulu, Jumat (13/9).

Bengkulu dipilih karena menjadi tempat kelahiran tokoh bangsa, Fatmawati, istri Bapak Pendiri Bangsa, Soekarno.

Baca juga: BPIP: Nilai-nilai Pancasila tidak boleh memudar

Baca juga: BPIP khawatirkan pudarnya Pancasila pascareformasi

Baca juga: LPSK dibentuk dari nilai-nilai Pancasila


Menurut Irene, Fatmawati adalah salah satu sosok perempuan penggerak perjuangan kaum wanita Indonesia lewat kehidupannya sebagai seorang ibu dan ibu negara pertama.

"Banyak nilai-nilai yang ditanamkan Ibu Fatmawati untuk kaum perempuan di Bengkulu, untuk perempuan Indonesia. Lewat ajarnya, dia menguatkan anak-anaknya dan mendampingi masa-masa sulit Bung Karno di zaman perjuangan," ujar Irene.

Irene berharap kaum perempuan dari Bengkulu bisa meneladani sikap-sikap Fatmawati yang menjadi penyejuk di tengah perbedaan pendapat, agama, suku dan budaya di Indonesia.

"Perempuan Bengkulu harus mencegah terjadinya perpecahan dan mengusung nilai gotong royong serta kerukunan seperti Pancasila," kata Irene.

Selain itu, Irene juga mengajak para ibu untuk memberi nasehat tentang nilai Pancasila kepada anak-anak dan generasi muda. Dalam hal ini bukan Pancasila secara tekstual tetapi bagaimana menjalankannya dalan kehidupan sehari.

Dia mengingatkan kaum muda untuk menebarkan pesan-pesan positif tentang Pancasila, dibanding menyebar ujaran kebencian di media sosial yang merusak persatuan dan kesatuan.

Sementara itu, Asisten Tata Pemerintah Pemprov Bengkulu yang Hamkah Sabri mengatakan selama ini Ibu Fatmawati menjadi teladan kaum perempuan di wilayahnya.

Karena itu, dia mengapresiasi kegiatan BPIP yang mengedepankan peran perempuan dalam nilai Pancasila dengan menautkan pada perjuangan Fatmawati bersama Bung Karno.

"Peran perempuan, peran Ibu sangat besar dalam kemajuan bangsa dan negara. Ibu Fatmawati dengan menjahit Merah Putih menjadi bagian dari sejarah, baik bagi Indonesia maupun Bengkulu," tutur Hamka.

Hamka juga berpesan pada para ibu di Bengkulu agar memberikan petuah positif dan nilai kehidupan kepada anak-anak agar memiliki semangat membangun bangsa mulai dari Bumi Raflesia tersebut.

Dalam kegiatan itu, pekerja seni, Ayu Laksmi, ikut menyumbangkan suara merdunya lewat dua lagu tentang Ibu dan Maha Asa Alila.

Selain itu juga hadir Dian Oerip, desainer kain tradisional yang sudah mendunia dan mengedepankan kebudayaan Indonesia dalam karyanya yang bertemakan Nusantara. Ia mengenalkan salah satu tenun yang disebut wastra dalam sebuah peragaan busana di kediaman Bung Karno selama pengasingan.

BPIP juga mendengarkan testimoni dari para ibu dan kaum muda perempuan di Bengkulu tentang kehidupan Pancasila di kota itu.

Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BPIP dorong pendirian Klinik Pancasila

Komentar