Kabut asap di Banjarbaru ganggu proses belajar di sekolah

Kabut asap di Banjarbaru ganggu proses belajar di sekolah

Para murid SDN 2 Syamsudin Noor yang nampak menggunakan masker karena kabut asap tebal di sekolah. (antara/foto/firman)

Banjarbaru (ANTARA) - Kabut asap pekat menyelimuti wilayah Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru pada Sabtu pagi telah mengganggu proses belajar di sekolah.

"Sebaiknya sekolah diliburkan saja, kasihan anak-anak setiap pagi menghirup asap," ucap Risna, salah satu orangtua murid di SDN 2 Syamsudin Noor.

Diakui Risna, anaknya mulai sakit-sakitan sejak kabut asap menebal dalam beberapa hari terakhir ini akibat kebakaran lahan yang terjadi.

"Kemarin baru ke dokter karena anak batuk dan sesak napas. Matanya juga perih. Kami yang dewasa saja tersiksa tenggorokan sakit, apalagi anak kecil," jelasnya.

Para murid juga kompak mengeluhkan rasa sakit di pernapasan dan mata perih. Seperti yang diungkapkan Indri dan Dahayu,
murid Kelas IV SDN 2 Syamsudin Noor.

Baca juga: 6 titik karhutla kepung Bandara Syamsudin Noor

Keduanya mengaku ingin tidak sekolah saja jika kabut asap terus terjadi.

Sementara guru SDN 2 Syamsudin Noor, Eka Setiawan mengakui kabut asap yang tebal di pagi hari begitu menyiksa.

Tercatat beberapa hari terakhir ada sejumlah murid yang tidak masuk sekolah karena izin sakit lantaran menghirup asap.

"Kami kasihan sama anak-anak harus menghirup udara tidak sehat ini. Konsentrasi anak juga terganggu saat belajar di kelas, karena asap masuk hingga ke ruang kelas," tuturnya.

Untuk itu, guru yang akrab disapa Pak Wawan itu berharap ada kebijakan dari Pemerintah Kota Banjarbaru menyikapi kabut asap yang terjadi.

"Kami pihak sekolah menghimbau orangtua untuk memberikan anaknya masker ke sekolah. Anak-anak juga kami batasi bermain di luar kelas terutama ketika pagi hari yang kabutnya begitu pekat," tandasnya.

Baca juga: Lahan kosong sekitar Bandara Syamsudin Noor terbakar hebat
Baca juga: Kabut asap sudah menyelimuti Banjarbaru

 

Pewarta: Firman
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar