KUA di Aceh Barat polisikan penghulu diduga gadungan

KUA di Aceh Barat polisikan penghulu diduga gadungan

Sejumlah pejabat dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat, melaporkan dugaan tindak pidana terkait pelanggaran Undang-Undang tentang Pernikahan/Perkawinan di mapolsek setempat, Jumat (13/9/2019). (ANTARA/Istimewa)

Meulaboh (ANTARA) - Seorang penghulu diduga gadungan berinisial Teungku IL, warga sebuah desa di Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, terpaksa diserahkan ke Polsek Kaway XVI, kabupaten setempat karena diduga melakukan tindakan poliandri (menikahkan isteri orang lain) dengan pria lainnya, Jumat (13/9).

Informasi yang diterima dari Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat, Teungku Safrizal, Sabtu (14/9) di Meulaboh menyebutkan, terungkapnya kasus tersebut setelah dilaporkan oleh aparat desa di daerah itu karena diduga bahwa telah terjadi pernikahan secara liar.

Pernikahan secara tidak sah dan diduga dilakukan oleh seorang penghulu gadungan terhadap pasangan laki-laki berinisial MW (36) warga Desa Peunia, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat dengan pasangannya berinisial NU (20) warga Tanjung Tiram, Sentang, Medan, Sumatera Utara yang terjadi pada Selasa (10/9) lalu.

"Karena persoalan (nikah liar) ini melanggar Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, makanya kasus tersebut kita serahkan ke polisi," kata Teungku Safrizal kepada ANTARA, di Meulaboh.

Pernikahan tersebut dilangsungkan pada sebuah rumah warga di Desa Pasi Teungoh, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat dan turut disaksikan dua orang saksi yang diduga sebagai aparat desa.

Baca juga: Pelaku kumpul kebo harus dihukum berat

Kata Teungku Safrizal, perempuan yang sudah dinikahkan oleh Teungku IY tersebut, merupakan isteri sah orang lain dan sudah memiliki satu orang anak, serta masih berada dalam ikatan sah pernikahan dengan seorang pria di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.

"Ini kan isteri orang lain, mengapa bisa dinikahkan begitu saja oleh penghulu liar ini," katanya menambahkan.

Pernikahan tersebut, kata Sagfrizal, juga tidak sah secara agama Islam maupun secara hukum negara, karena tidak tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) dan perempuan yang sudah dinikahkan tersebut masih isteri sah dari orang lain, karena belum pernah diceraikan oleh suaminya.

Penghulu liar tersebut juga berani mengeluarkan surat keterangan yang menyatakan bahwa pasangan tersebut sudah resmi menikah, dan menjadi pasangan suami isteri di atas selembar surat biasa yang turut ditandatangani dua orang saksi.

Pihaknya berharap kasus tersebut agar dapat diproses secara hukum karena persoalan ini sudah mengarah kepada perbuatan tindak pidana.

Kini kasus tersebut sudah dalam penyelidikan kepolisian di Mapolsek Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat.

Pewarta: Teuku Dedi Iskandar
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

KUA menyambut baik penerbitan Kartu Nikah

Komentar