counter

Artikel

Menanti berlanjutnya pariwisata setelah Sail Nias 2019

Oleh Ade irma Junida

Menanti berlanjutnya pariwisata setelah Sail Nias 2019

Seorang anak mengikuti drama kolosal tarian "Faluaya" pada kegiatan acara puncak Sail Nias 2019 di Pelabuhan Baru Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (14/9/2019). ANTARA FOTO/Septianda Perdana/nz/pri

Posisinya yang berada di bawah Pulau Sumatera dan menghadap Samudera Hindia menyebabkan kawasan itu belum dilirik oleh para pelayar atau yachter.
Jakarta (ANTARA) - Selama ini Nias ternyata telah dikenal sebagai salah satu surga selancar dunia karena memiliki ombak tinggi dan panjang menggulung karena menghadap langsung Samudera Hindia.

Jenis ombak itulah yang menempatkan Nias sebagai lokasi selancar dunia terbaik nomor dua setelah Hawaii.

Namun, potensi Nias tidak hanya itu, posisinya yang berada di bawah Pulau Sumatera dan menghadap Samudera Hindia menyebabkan kawasan itu belum dilirik oleh para pelayar atau yachter.

Padahal, Nias menyimpan potensi wisata lengkap mulai dari keindahan bahari dan budaya yang akan disukai yachter.

“Nias ini belum jadi rute rally yacht karena kebanyakan yachter ke sisi dalam, sementara Nias tidak berada di sisi dalam,” kata Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani.

Seiring dengan fokus pemerintah untuk mendorong pariwisata, terutama wisata bahari, ajang Sail Indonesia yang tahun ini diselenggarakan di Nias melalui Sail Nias 2019 diharapkan dapat menjadi momentum revitalisasi pariwisata di Nias karena wilayah tersebut telah cukup dikenal dunia pada era 1980-an hingga 1990-an.

Perhelatan Sail Nias yang merupakan Sail yang ke-11 dari rangkaian Sail Indonesia yang dilaksanakan sejak 2009 di Bunaken, Sulawesi Utara, itu diharapkan dapat meningkatkan kembali popularitas Nias sebagai destinasi wisata bahari dunia.

Rizki menambahkan, pemerintah juga ingin mendorong Nias bisa dikunjungi oleh kapal pesiar (cruise) dan kapal layar (yacht) dengan digelarnya Sail Nias itu.

Kegiatan rally yacht dalam rangkaian Sail Nias 2019 yang telah diselenggarakan pada Mei lalu mendapat sambutan positif sehingga diharapkan bisa mempromosikan Nias sebagai destinasi wisata kapal layar.

“Kegiatan kapal layar sudah kami lakukan Mei lalu karena kondisi angin. Ternyata kami melihat yachter ini tertarik karena cukup banyak yang datang walaupun ‘short notice’ (pemberitahuan singkat),” katanya.
Baca juga: Sail Nias 2019, momentum kebangkitan pariwisata Nias
Baca juga: Sail Nias harapan bangkitnya singa tidur surga surfing dunia
​​​​​

 

Masyarakat dan wisatawan sedang menyaksikan latihan terjun payung dapam rangka persiapan puncak Sail Nias 2019. (Antara Sumut/Septianda)
​​

Dukungan infrastruktur

Untuk mendukung potensi pariwisata di Nias seusai perhelatan Sail Nias 2019, pemerintah bertekad untuk terus membenahi infrastruktur pendukung bandara yang menghubungkan objek wisata tersebut dengan wisata lainnya.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dalam puncak acara Sail Nias 2019 di Nias Selatan, Sabtu (14/9), mengatakan pemerintah serius membangun wisata secara total dan menyeluruh dengan membangun infrastruktur yang menghubungkan satu obyek wisata ke obyek wisata lainnya.

“Pemerintah akan membangun ‘link’ Toba ke Sibolga lalu Nias. Lapangan terbang sudah diperpanjang. Nah ini kita masih coba, karena di ujungnya itu ada gunung. Akan diperpanjang menjadi 2.700 meter supaya Boeing 737 itu bisa masuk. Sekarang kami sedang cari solusinya,” katanya.

Luhut menuturkan pembenahan infrastruktur terutama bandara sangat krusial untuk mendukung pariwisata. Ia mencontohkan kasus serupa terjadi di Danau Toba, di mana setelah Bandara Silangit diperbaiki bahkan dijadikan bandara internasional, kunjungan wisatawan pun terus meningkat.

“Jadi infrastruktur itu harus jalan seperti pengalaman kami di Silangit. Kalau ‘airport’ jalan sekarang tiap tahun ada 500 ribu orang yang berkunjung ke sana. Dari sini sama saja,” katanya.

Namun, pembangunan infrastruktur fisik tidaklah cukup. Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan Abdul Halim menilai pembangunan juga harus melibatkan sepenuhnya masyarakat karena manfaat ajang tersebut selama ini dinilai belum optimal.

"Pemerintah perlu memastikan pembangunan manusianya yang lebih adaptif terhadap tren wisata bahari," katanya.

Menurut Abdul Halim, sudah seharusnya berbagai kalangan masyarakat mampu bersuara lebih lantang untuk melakukan evaluasi total terhadap penyelenggaraan sail.

Baca juga: Sail Nias harapan bangkitnya singa tidur surga surfing dunia

Baca juga: Parade kapal nelayan meriahkan Puncak Sail Nias 2019

Tarian Indonesia timur warnai pembukaan Nias Pro International Surfing




Bermanfaat bagi masyarakat

Sail Indonesia awalnya digelar khusus untuk mendorong percepatan pembangunan di daerah tertinggal selain mempromosikan potensi wisata bahari.

Namun, seiring perkembangan yang ada, tujuan untuk mempercepat pembangunan daerah-daerah tertinggal di Indonesia tidak lagi relevan. Mulai Sail Sabang pada 2017, penyelenggaraan Sail Indonesia diutamakan untuk mendorong pariwisata di tempat-tempat pelaksanaannya.

Rangkaian Sail Indonesia pertama kali yang menggunakan nama tujuan akhir adalah Sail Bunaken pada tahun 2009, diikuti Sail Banda (2010), Sail Wakatobi-Belitong (2011), Sail Morotai (2012), Sail Komodo (2013), Sail Rajampat (2014), Sail Tomini (2015), Sail Selat Karimata (2016), dan Sail Sabang (2017), Sail Moyo Tambora (2018) dan Sail Nias (2019).

Oleh karena itu, ajang Sail Nias tentunya harus dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat di sekitarnya. .

Budaya yang ditampilkan tidak boleh hanya menjadi tontonan tetapi harus menjadi tuntutan yang perlu dipastikan manfaatnya bagi masyarakat setempat melalui program pembangunan.

Perhelatan Sail Nias 2019 juga diharapkan tidak sekadar mendongkrak popularitas kepulauan itu agar lebih dikenal dunia, melainkan bisa memberikan dampak ekonomi bagi kehidupan masyarakat setempat.

“Inti pariwisata tidak hanya soal mendunia, tapi bagaimana dampaknya terhadap ekonomi masyarakat,” kata International Yacht Rally Organizer Raymond T. Lesmana.

Raymond menuturkan saat ini Nias dikenal akan Sorake, surga bagi para peselancar dunia, karena letaknya yang menghadap Samudera Hindia. Kepopuleran pantai itu diharapkan dapat mengubah roda ekonomi masyarakatnya.

Diharapkan rangkaian kegiatan Sail Nias 2019 bisa memberikan dampak bagi masyaraka karena kegiatan Sail tidak hanya melibatkan kapal-kapal layar tetapi juga kompetisi selancar dunia yang akan mendatangkan banyak wisatawan.

Gelaran sail internasional merupakan salah satu cara yang digunakan pemerintah untuk memicu pembangunan pariwisata di kepulauan tersebut.

“Sail ini bisa memicu, misal, dibangunnya pelabuhan atau dermaga wisata di Nias yang nanti bisa digunakan tidak hanya kapal layar tapi untuk orang menyelam, selancar, mancing, dan lainnya. Untuk memicu konstruksi pertamanya melalui sail ini,” katanya.

Dengan demikian, pembangunan infrastruktur di kawasan pariwisata pun bisa lebih berkelanjutan sehingga roda pariwisata di Nias bisa terus bergulir meski Sail Nias telah usai.

Baca juga: Ekonom: Sail Indonesia bisa dorong keunggulan komparatif daerah
Baca juga: Sail Nias, pemerintah perlu buat pelatihan pariwisata
Baca juga: Sail Nias 2019, gerakkan perekonomian warga lokal

 

 

Oleh Ade irma Junida
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar