counter

Implementasi 4.0 di industri pangan butuh kerja sama semua stakeholder

Implementasi 4.0 di industri pangan butuh kerja sama semua stakeholder

Konsultan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan World Economy Forum (WEF) Shirley Santoso usai wawancara di Wisma Antara, Jakarta pada Senin (16/9/2019). ANTARA/Aji Cakti

80 persen tenaga kerja yang bekerja di sektor industri makanan dan minuman merupakan pelaku UMKM, dengan demikian tingkat adopsi teknologi industri 4.0 dalam industri berbeda-beda.
Jakarta (ANTARA) - Implementasi Making Indonesia 4.0 dalam sektor industri makanan dan minuman (pangan) membutuhkan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan atau stakeholder, termasuk kerja sama lintas kementerian, kata  Konsultan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan World Economy Forum (WEF) Shirley Santoso.

"Tentunya untuk menjalankan ini membutuhkan kerja sama dari para pemangku kepentingan yang berbeda-beda, bahkan dari kementerian pun perlu bantuan dari instansi atau kementerian lainnya, seperti dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Koperasi dan UKM tapi harus bergabung dengan publik dalam hal bagaimana bersama-sama dengan pihak swasta bisa membangun sektor industri makanan dan minuman tersebut mengingat potensinya sangat besar jika Indonesia menjadi produsen pangan terbesar di ASEAN," ujar Shirley Santoso dalam wawancara dengan Antara di Jakarta, Senin.

Selain itu dia juga berharap pemerintah dan pelaku industri membangun UMKM dan pemasok bagi industri-industri makanan dan minuman agar mereka sama-sama terangkat.

Hal ini perlu dilakukan mengingat 80 persen tenaga kerja yang bekerja di sektor industri makanan dan minuman merupakan pelaku UMKM, dengan demikian tingkat adopsi teknologi industri 4.0 dalam industri berbeda-beda.

Baca juga: Pemerintah sudah banyak menjalankan implementasi Making Indonesia 4.0

Konsultan yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT AT Kearney itu melihat dari sektor pertanian, teknologi seperti drone dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan hasil produksi sekarang mulai banyak digunakan.

Melihat dari sisi makanan kemasan, sudah mulai banyak perusahaan besar yang menerapkan industri 4.0. apakah itu dari sisi proses manufakturnya atau koneksi dengan pemasok.

Sektor-sektor seperti ini diharapkan bisa mendapatkan rujukan atau lighthouse yang juga dikembangkan oleh kementerian perindustrian supaya perusahaan-perusahaan tersebut bisa menjadi role model bagi pelaku industri lainnya untuk menerapkan industri 4.0.

Berdasarkan dokumen Making Indonesia 4.0 yang diterima Antara, strategi yang perlu dijalankan untuk industri makanan dan minuman salah satunya meningkatkan ekspor dengan memanfaatkan akses terhadap sumber daya pertanian dan skala ekonomi domestik.

Selain itu berkomitmen untuk berinvestasi pada produk makanan kemasan untuk menangkap seluruh permintaan domestik di masa datang seiring dengan semakin meningkatnya permintaan konsumen.

Baca juga: Pemerintah siapkan perpres percepatan implementasi industri 4.0

Sektor industri makanan dan minuman merupakan salah satu industri yang menjadi fokus dalam peta jalan industri Making Indonesia 4.0 yang diluncurkan Kementerian Perindustrian pada April 2018.

Pada 2016, sektor ini memberikan kontribusi 29 persen dari PDB manufaktur, 24 persen ekspor manufaktur, dan menyerap 33 persen tenaga kerja sektor manufaktur.

Jika dibandingkan dengan negara lain, sektor makanan dan minuman Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang besar karena didukung oleh sumber daya pertanian yang berlimpah dan permintaan domestik yang besar.
Baca juga: Konsultan Kemenperin minta industri 4.0 dijalankan dari hulu ke hilir

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar