Program 35.000 MW, pembangunan PLTU Cirebon II mencapai 61 persen

Program 35.000 MW, pembangunan PLTU Cirebon II mencapai 61 persen

Para pekerja sedang melakukan pekerjaan disekitar kawasan PLTU 2 Cirebon, Jumat (9/8/2019). ANTARA/Ist/am.

Hingga saat ini tidak ada kendala yang menghambat pembangunan tersebut sehingga PLTU tersebut diharapkan bisa beroperasi atau "commercial operational date/COD" pada 2022, sesuai dengan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.
Jakarta (ANTARA) - Perusahaan pembangkit listrik swasta independen power producer (IPP) Cirebon Power terus mengoptimalkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon 2 berkapasitas 1.000 megawatt (MW) yang sudah mencapai 61 persen.

Kapasitas 1.000 MW tersebut yang merupakan bagian dari program listrik 35.000 MW

“Konsentrasi kami saat ini pada pekerjaan konstruksi fisik, dan manufacturing beberapa fasilitas utama pembangkit,” kata Presiden Direktur Cirebon Power Hisahiro Takeuchi dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Hingga saat ini tidak ada kendala yang menghambat pembangunan tersebut sehingga PLTU tersebut diharapkan bisa beroperasi atau "commercial operational date/COD" pada 2022, sesuai dengan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.

"Semuanya berjalan dengan optimal, untuk memenuhi target operasional atau COD pada tahun 2022," ujar Hisahiro.

PLTU Cirebon 2 menggunakan teknologi batu bara ramah lingkungan dengan teknologi "ultra super critical".

Baca juga: Peneliti nilai pembangunan PLTU tidak pengaruhi langsung kesehatan

Dengan teknologi itu, PLTU ini disebut bisa meningkatkan efisiensi hingga 40 persen untuk membakar batubara kalori 4.000-4.600 kcal/kg. Nantinya, pembangkit dengan nilai investasi sebesar 2,1 miliar dolar AS ini akan mengkonsumsi sekitar 3,5 juta ton batu bara dalam setahun.

Cirebon Electric Power ini merupakan konsorsium yang terdiri atas lima perusahaan yang dimiliki oleh mayoritas PT Marubeni dengan kepemilikan saham 35 persen, PT Indika Energy sebesar 25 persen. Lalu, Samtan Ltd 20 persen, Korea Midland Power Co., Ltd sebesar 10 persen, dan Jera Power 10 persen.

Di pembangkit yang pertamanya, yang saat ini sudah beroperasi, PLTU Cirebon 660 MW, Cirebon Power menggunakan teknologi ramah lingkungan Super Cricital (SC) yang sudah berdiri sejak 2012.

Hisahiro mengatakan, Cirebon Power merupakan perusahaan yang berkomitmen dalam pelestarian lingkungan melalui tekonologi. Bahkan, Cirebon Power juga mengincar pembangunan energi baru terbarukan karena selain keramahan lingkungan, renewable energy adalah kebutuhan dan peluang di masa depan.

Perusahaan yang sedang mengembangkan pembangunan PLTS tersebut menerapkan program pelestarian lingkungan yang dinamakan A Harmony of Advance Technology and Green Commitment for Sustainable Environment".

Perusahaan ini banyak mendapat penghargaan pelestarian lingkungan di tingkat nasional maupun internasional. Salah satunya, pada Jumat (13/9), di JIExpo, Kemayoran Jakarta, Cirebon Power mendapatkan penghargaan ASEAN Enggineering Achievement Awards, dalam acara CAFEO037 yang dibuka oleh Presiden Joko Widodo.

Hisahiro Takeuchi mengatakan, penghargaan ini menjadi verifikasi atas komitmen dan konsistensi Cirebon Power untuk menerapkan program pemeliharaan dan peningkatan kualitas lingkungan di kawasan pembangkit.
Baca juga: Menteri Jonan: Program 35.000 MW disesuaikan kebutuhan masyarakat

 

Pewarta: Royke Sinaga
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar