counter

PPI UTM bahas Revolusi Industri 4.0

PPI UTM bahas Revolusi Industri 4.0

Sesi foto bersama dari kiri ke kanan Muhammad Haidar Mohalisi selaku Ketua International Talks, Prof. Hadi Nur, Adi Arriansyah dan Mr. Aminuddin Bin Zakaria selaku pembicara, Muhammad Ammar Naufal selaku Ketua Umum PPI Malaysia dan Muhammad Hafiz Pratama selaku Ketua Umum PPI UTM. Foto ANTARA / Tania (1)

Kuala Lumpur (ANTARA) - Persatuan Pelajar Indonesia  Universiti Teknologi Malaysia (PPI UTM) Johor Bahru membahas Revolusi Industri 4.0 dalam acara "International Talk" di Convention Hall FABU kampus setempat, Selasa.

Pembicara mengisi seminar dengan subtopik yang sudah disediakan dan difokuskan kepada empat aspek yaitu kebangkitan ekonomi berbasis teknologi, menciptakan industuri kreatif, kemampuan yang diperlukan di era revolusi industri ke-4 dan smart city.

Beberapa pembicara yang hadir adalah Walikota Bogor Dr. Bima Arya Sugiarto yang menjadi pembicara utama.

Kemudian CEO dari MAS Wings Sdn Bhd Malaysia Aminuddin Bin Zakaria, CEO dari Saga Technology Indonesia Adi Arryansyah dan Prof. Dr. Hadi Nur selaku dosen Universiti Teknologi Malaysia yang juga menjabat sebagai penasihat PPI UTM.

Dengan mengusung tema Smart City, Bima Arya menegaskan pentingnya kontribusi masyarakat dalam membangun "smart city".
Baca juga: PPI Malaysia pimpin PPI dunia

"Kontribusi masyarakat dalam membangun kota dengan menciptakan komunitas yang bermanfaat untuk kota sangatlah diperlukan, karena jika infrastruktur serta tatanan fasilitas sudah berpindah menjadi semakin canggih tetap saja akan membuat hambatan bagi masyarakat awam, yang rata-rata baru memulai untuk memegang teknologi baru pada zaman ini." katanya.

Untuk itu, ujar dia, perlu adanya dukungan dari masyarakat guna melakukan inovasi dan kreatifitas yang berbakat di bidang teknologi untuk menunjang keberlangsungan era Revolusi Industri 4.0 ini.

Arya mengatakan selaku masyarakat Indonesia juga tidak dapat lari dari perubahan zaman yang cepat ini.

"Bagaimanapun kita tidak mendukung era Revolusi Industri 4.0, maka dia sendiri yang akan menghampiri rakyat Indonesia lambat laun, dan jika tidak bisa mengikuti akan memberi dampak yang cukup besar bagi keberlangsungan warga masyarakat Indonesia," katanya.

Tentang bidang industri kreatif, Aminuddin Bin Zakaria dan Adi Arriansyah menyampaikan untuk kaum pemuda-pemudi sudah bisa mulai berpikir untuk melirik bidang kewirausahaan seperti dengan menjadi usahawan atau CEO suatu perusahaan.

Menurut Aminuddin menjadi usahawan ataupun CEO itu terpulang kepada para peserta seminar hanya saja tentu perlu dipahami bakat dan minat serta arah maju ke depan yang lebih pasti dan bisa diraih.
Baca juga: Olimpiade mahasiswa Indonesia di Malaysia resmi dibuka

Sementara itu Adi Ariyansyah memberikan gambaran singkat bagaimana seorang CEO di bidang teknologi dapat meraih keuntungan akibat adanya perubahan era Revolusi Industri 4.0.

"Seluruh aspek kehidupan mulai menggunakan data yang ia sebut sebagai 'a new gold'. Dari sinilah dengan menciptakan start-up berbasis teknologi dan membentuk tim di perusahaan tersebut, beliau mencoba untuk meraih keuntungan dalam menjamu era Revolusi Industri ini," katanya.

Sedangkan Prof. Dr. Hadi Nur menyatakan berkembang dalam kehidupan ini terutama di bidang teknologi sangat baik dan tentu suatu kemajuan yang sangat diinginkan.

"Tapi patut kembali menjadi refleksi kita bahwa dengan adanya perubahan zaman ini tentu akan memberi dampak kepada beberapa aspek kehidupan sosial bermasyarakat kita seperti mulainya kurang rasa peka terhadap sesama, lebih mementingkan kepentingan pribadi dan ini yang harus turut dibenahi agar tidak terjadi penyimpangan arah perubahan yang seperti di-idamkan," katanya.

Sementara itu Divisi Humas Pantia "International Talks" UTM Tania Sriangul Detin mengatakan tujuan utama seminar ini adalah untuk menginformasikan dan meningkatkan kesadaran mahasiswa UTM dan universitas lain tentang Revolusi Industri 4.0.

"Gelombang kemajuan teknologi berturut-turut telah mengguncang ekonomi global selama berabad-abad, mengkonfigurasi ulang angkatan kerja dan memunculkan peluang ekonomi baru dengan masing-masing gelombang," katanya.

Kemajuan ilmu pengetahuan modern, ujar dia, termasuk kecerdasan buatan dan robotika menghadapi potensi untuk mengubah ekonomi, yang mungkin lebih cepat dan lebih dramatis daripada sebelumnya.


Acara ditutup dengan sesi foto bersama antara Ketua Pelaksana International Talks, Muhammad Haidar Mohalisi dengan undangan VIP serta beberapa pembicara.
Baca juga: 13 delegasi hadiri kongres PPI Malaysia

Pewarta: Agus Setiawan
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Presiden terima Hyundai bahas mobil listrik

Komentar