counter

Menteri PPN jadikan investasi sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi

Menteri PPN jadikan investasi sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dalam acara penyusunan rancangan awal rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2020-2024 di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (19/9/2019). ANTARA/Astrid Faidlatul Habibah/am.

Ada dua komponen yang akan menjadi prioritas utama dalam membantu menaikkan ekonomi Indonesia yaitu investasi dan ekspor, namun kondisi eksternal yang tidak kondusif membuat tingkat kontribusi ekspor tidak akan maksimal.
Jakarta (ANTARA) - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyebutkan bahwa pemerintah akan menjadikan sektor investasi sebagai motor utama dalam menunjang pencapaian target pertumbuhan ekonomi hingga 2024.

Ia menuturkan sebenarnya ada dua komponen yang akan menjadi prioritas utama dalam membantu menaikkan ekonomi Indonesia yaitu investasi dan ekspor, namun kondisi eksternal yang tidak kondusif membuat tingkat kontribusi ekspor tidak akan maksimal.

“Ketika bicara ekspor kita harus melihat kondisi eksternal yang sedang tidak kondusif karena masih melemah kondisi global. Berarti kuncinya pada investasi,” katanya dalam acara penyusunan rancangan awal rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2020-2024 di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis.

Selain itu, Bambang mengatakan pertumbuhan ekonomi hingga kuartal II 2019 sebesar 5,05 persen menunjukkan ada kontribusi antara investasi dan konsumsi rumah tangga yang sama-sama berada di level sekitar 5 persen.

Namun, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga sebagai penunjang ekonomi sebab menurut Bambang konsumsi rumah tangga tersebut hanya bisa membuat ekonomi stabil tapi tidak bisa menjadikannya tumbuh cepat.

Baca juga: Pemindahan ibu kota dongkrak kesempatan kerja hingga 10,5 persen

“Kalau kita lihat pola pertumbuhan ekonomi didominasi oleh konsumsi rumah tangga dan itu tidak akan membuat tumbuh cepat, hanya tumbuh stabil,” ujarnya.

Menurutnya, jika investasi meningkat maka akan berpengaruh pada bidang lain seperti pengurangan angka kemiskinan dan penurunan jumlah pengangguran sebab investasi merupakan salah satu upaya dalam menciptakan adanya lapangan pekerjaan.

“Kalau investasi turun maka upaya mengurangi pengangguran dan kemiskinan makin sulit sebab ekonomi juga tidak meningkat,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa investasi itu tidak hanya terbatas untuk luar negeri namun juga dalam negeri. Bahkan, ada tiga sumber untuk investasi dalam negeri yaitu peran dari swasta, Badan Usaha Milik Pemerintah (BUMN), dan pemerintah.

“Pembangunan juga bisa didorong oleh BUMN dan swasta yang dibiayai oleh investasi mereka. Nah investasinya tetap dalam koridor profit mereka tapi apa yang dilakukan itu sejalan dengan yang menjadi target pembangunan,” jelasnya.

Terlebih, dengan adanya fakta bahwa tidak ada satupun dari 33 perusahaan yang keluar dari Cina untuk memilih Indonesia dan justru menjadikan Vietnam dan Malaysia sebagai negara tujuan membuat Bambang semakin giat meminta pihak BUMN untuk menggandeng investasi asing.

“Arus investasi asing ke Indonesia akan makin lancar kalau ada kerja sama dengan BUMN terutama terkait infrastruktur karena mereka yang mau masuk ingin masuk ke aset terbaik tapi aset terbaik masih dimiliki BUMN,” ujarnya.
Baca juga: Menteri ATR: Omnibus law ciptakan iklim investasi lebih baik

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Alasan Menteri PPN tolak Bukit Soeharto jadi ibu kota baru

Komentar