counter

Sanggar Memetri Wiji berupaya bina budi pekerti anak

Sanggar Memetri Wiji berupaya bina budi pekerti anak

Anak-anak peserta didik Sanggar Pembinaan Budi Pekerti dan Pelestarian Budaya Memetri Wiji yang ada Pedukuhan Tamanan, Desa Tamanmartani, Kabupaten Sleman sedang mengikuti kegiatan, Kamis (19/9/2019). (ANTARA/Dewanto Samodro)

Akhirnya pada Juni 2012, kami mendirikan Sanggar Memetri Wiji yang mengajarkan bahasa Jawa halus,
Sleman (ANTARA) - Sanggar Pembinaan Budi Pekerti dan Pelestarian Budaya Memetri Wiji yang berdiri di Pedukuhan Tamanan, Desa Tamanmartani, Kabupaten Sleman bermula dari keluhan orang-orang tua terhadap anak-anak muda yang mulai meninggalkan etika sopan santun dan tata krama orang Jawa, kata pendiri Sanggar Tri Joko Saptono.

"Keluhan tersebut diungkapkan beberapa orang tua. Orang tua juga mengeluhkan anak-anak yang seriing bermain di luar yang hampir tidak terpantau dan didampingi orang tua," kata Joko saat menemui wartawan dari Jakarta di Kabupaten Sleman, Kamis.

Menanggapi keluhan itu, Joko yang di keluarganya dibiasakan menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari, kemudian mengumpulkan beberapa tokoh masyarakat.

Baca juga: Seluruh desa di Kecamatan Depok, Sleman sudah deklarasi layak anak

Komitmen keluarga Joko, yang dimulai dari orang tuanya hingga anak-anaknya, dalam berbahasa Jawa halus kemudian mendapat dukungan dari masyarakat.

"Akhirnya pada Juni 2012, kami mendirikan Sanggar Memetri Wiji yang mengajarkan bahasa Jawa halus, membaca dan menulis aksara Jawa, tembang Jawa Macapat dan dolanan, serta etika sopan santun dan tata krama Jawa. Memetri Wiji artinya memelihara benih," jelasnya.

Joko menerangkan peserta didik Memetri Wiji tisak permanen, karena memang tidak ditarik biaya. Kegiatannya tidak mengganggu sekolah formal dan pendidikan agama anak-anak di taman pendidikan Al Quran, sehingga dilakukan setiap Rabu sore pukul 15.00 WIB dan Minggu sore pukul 15.00 WIB.

"Peserta didik kami mulai dari usia TK hingga SMA. Anak-anak usia SMA yang kegiatan belajarnya di sekolah sudah semakin banyak, semakin sedikit yang belajar di Memetri Wiji. Jadi tidak ada istilah lulus di sini," tambahnya.

Awal berdiri, Memetri Wiji memiliki 15 peserta didik. Jumlah tersebut mengalami kenaikan dan penurunan karena memang tidak ada ikatan antara sanggar dengan peserta didik.

Baca juga: Pemkot Semarang beri pendampingan perempuan-anak korban kekerasan

"Saat ini yang terdaftar ada 40 anak," ujarnya.

Pendidikan, pemanfaatan waktu luang, dan kegiatan budaya merupakan salah satu klaster dalam evaluasi Kabupaten/Kota Layak Anak.

Kabupaten Sleman berhasil meraih predikat Nindya dalam evaluasi Kabupaten/Kota Layak Anak 2019 yang diadakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengadakan kunjungan media ke beberapa kabupaten/kota yang meraih predikat Nindya dalam evaluasi Kabupaten/Kota Layak Anak 2019.

Selain di Kabupaten Sleman, kunjungan media juga akan dilakukan ke Kota Semarang dan Kota Balikpapan.

Baca juga: Menteri Yohana: Tak ada kabupaten layak anak di Papua

Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Benteng Oranje jadi pusat kegiatan budaya

Komentar