counter

Pameran batik Keraton dan Pakualaman tunjukkan eksistensi batik

Pameran batik Keraton dan Pakualaman tunjukkan eksistensi batik

GKBRAy Adipati Paku Alam atau Gusti Putri saat pameran batik koleksi Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman di Taman Pintar Yogyakarta. ANTARA/Eka Arifa Rusqiyati/pri

Yogyakarta (ANTARA) - Pameran batik koleksi Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman yang digelar di Taman Pintar pada 20-29 September diharapkan semakin menunjukkan eksistensi Yogyakarta sebagai Kota Batik yang dianugerahkan oleh World Craft Council sejak 2014.

“Sebagai Kota Batik, maka Yogyakarta berkewajiban menunjukkan eksistensi batik yang melekat dalam kehidupan sehari-hari selain menambah wawasan tentang batik ke masyarakat luas,” kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi saat membuka pameran “Batik dalam Ruang dan Waktu” di Taman Pintar Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, batik tidak hanya sekadar pakaian yang dikenakan sehari-hari tetapi batik adalah mahakarya seni dan budaya karena setiap motif batik memiliki makna dan filosofi yang dalam.

Baca juga: Di Taman Pintar, batik Keraton Yogyakarta dan Pakualaman dipamerkan

“Membatik adalah membuat karya yang dilandasi semangat untuk memberi pesan. Sehingga saat batik dikenakan sebagai pakaian, maka pemakai pun akan merasakan getaran pesan dan inilah yang membedakan pakaian batik dan bukan batik,” kata Heroe.

Dalam pameran batik yang digelar untuk tahun kedua tersebut, ditampilkan 17 koleksi kain batik yang terdiri dari tujuh koleksi batik Keraton Yogyakarta dan 10 koleksi batik Kadipaten Pakualaman. Seluruh motif batik yang ditampilkan pun melambangkan fase kehidupan manusia dari awal kehidupan hingga akhir.

Koleksi batik dari Keraton Yogyakarta yang ditampilkan adalah kain batik yang pernah dikenakan salah satu putri Raja Keraton Yogyakarta, GKR Hayu saat prosesi “Mitoni” atau selamatan tujuh bulan kandungan. Setiap kain batik yang dikenakan melambangkan doa dan pengharapan ibu kepada anak yang sedang dikandung.

Ketujuh motif batik tersebut adalah Nogosari yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran, motif Kesatriyan melambangkan pemimpin yang melindungi budaya luhur, Sidomukti yang melambangkan kemuliaan, Semen Sidoasih dengan makna sayang dan mengasihi, motif Grompol melambangkan banyak rejeki, Semen Romo mengandung makna kehidupan yang makmur, serta motif Cakar Ayam melambangkan kemampuan mencari nafkah.

Sedangkan dari Kadipaten Pakualaman menampilkan 10 koleksi Pepadan yang terinspirasi dari gambar-gambar Pepadan dalam naskah-naskah yang menjadi koleksi Perpustakaan Pakualaman. Naskah yang dihiasi gambar pepadan antara lain dari Serat Babad Pakualaman, Babad Giyanti, Babad Dipanegaran dan Serat Astabrata.

Baca juga: Warga Portugal antusias belajar membatik

Koleksi batik tersebut adalah Maskumambang yang memiliki makna dalam kandungan, Mijil dengan makna lahir, Sinom atau saat muda, Kinanthi atau tuntutan, Asmarandana atau asmara, Dhangdhanggula atau senang, Durman atau dermawan, Pangkur atau menjauhi hawa nafsu, Megatruh atau kematian dan Pocung yaitu dibungkus kain mori.

Putri Keraton Yogyakarta, GKR Bendara mengatakan, batik adalah untaian doa yang berisi rentetan harapan dengan proses pembuatan yang tidak sebentar sehingga batik pun ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda.

“Bagi masyarakat Jawa, batik sangat erat dalam kehidupan sehari-hari bahkan menjadi bagian dalam daur hidup manusia dari sejak lahir hingga meninggal dunia,” katanya.

Sedangkan Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu (GKBRAy) Adipati Paku Alam mengatakan, batik memiliki makna dan filosofi yang luar biasa sehingga tidak salah jika UNESCO menetapkannya sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi.

“Batik sudah dikenal sejak zaman dulu. Namun, masih banyak warga yang belum mengenal atau memahami batik. Harapannya, dengan pameran ini batik bisa lebih memasyarakat,” katanya.

Sementara itu, Perwakilan UNESCO Shahbaz Khan yang memberikan sambutan melalui rekaman video mengatakan keberadaan batik sudah melewati rentang waktu yang cukup panjang bahkan kini dikenal luas tidak hanya di Indonesia tetapi juga di negara lain.

“Sebagai warisan budaya, ada tantangan yang harus dihadapi yaitu membawa batik ke level yang lebih tinggi. Salah satunya, bagaimana membuat batik yang ramah lingkungan,” katanya.

Baca juga: Rohaniwan di Italia belajar membatik
Baca juga: Perak dan Nuansa Batik daya tarik di Vienna Fashion Week


Pewarta: Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Membuat layang-layang sendiri di Pekan Kebudayaan Nasional

Komentar