RI-Ceko Masuki Kemesraan di Tahun Emas

Oleh Zeynita Gibbons London (ANTARA News) - Limapuluh tahun sudah Republik Indonesia (RI) dan Republik Ceko --negeri yang dulu menyatu dengan Slovakia (Cekoslowakia)-- mengikatkan diri dalam perjanjian kerjasama kebudayaan. Itulah tahun emas kemesraan kedua negara. Kian hari ikatan kerjasama dua negara berbeda benua itu kian mesra. Tepat 31 Mei 1958, perjanjian kerjasama itu dituangkan dalam deklarasi bersama antara Perdana Menteri Cekoslowakia dengan Menteri Luar Negeri RI, Soebandrio, mewakili Pemerintah RI. "Saya dulu yang mengetik naskah perjanjian kerjasama tersebut," ujar Professor Zorica Dubovska (80), pakar budaya Indonesia dari Ceko, kepada ANTARA News. Zorica Dubovska mungkin tidak pernah membayangkan jika negerinya akan terpecah, beberapa puluh tahun setelah perjanjian kerjasama kerjasama di bidang ilmu, pendidikan dan kebudayaan itu ditandatangani. Pada ulang tahun emas kerjasama itu, Duta Besar RI untuk Ceko, Salim Said, menyerahkan piagam penghargaan dari Menteri Luar Negeri RI kepada Zorica, wanita mungil berkulit putih, berwajah keibuan, berambut pirang, serta berkaca mata minus itu. Namun, Salim Said memberikan piagam itu bukan lantaran jasanya sebagai "juru ketik". Pemerintah RI memberikan penghargaan kepada Professor Zorica Dubovska karena kecintaan ibu satu anak yang tetap enerjik itu kepada Indonesia. Selama berpuluh tahun Zorica terus mempromosikan Indonesia di kalangan masyarakat Ceko. Duboska mengatakan bahwa tidak pernah menyangka apa yang dilakukannya membuahkan hasil yang luar biasa dalam hubungan Indonesia dan Ceko. Dia bahkan tidak pernah mengharapkan penghargaan apa pun atas apa saja yang dilakukannya selama ini. "Saya hanya bisa berjanji selama hidup saya akan terus membantu menjalin kerjasama dengan Indonesia," ujarnya. Pasang surut Dalam rangka memperingati kemesraan RI-Ceko itu, maka Kedutaan Besar RI di Praha, mengelar berbagai acara sepanjang 2008. Sejarahwan Indonesia, Taufik Abdullah, yang ikut menyaksikan acara puncak peringatan 50 tahun perjajian kerjasama kebudayaan Indonesia-Ceko yang digelar di Perpustakaan Kota Praha, belum lama ini, mengakui bahwa terjadinya pasang surut dalam hubungan diplomatik Indonesia dan Ceko. Ketua Akademi Jakarta itu menjelaskan, perjajian kerjasama itu dibuat pada saat Cekoslavakia berada dalam pemerintahan Komunis. Terpecahnya kedua negara juga sempat membuat hubungan Indonesia-Ceko mendingin. Namun, ia mengakui, keberadaan Dubovska yang lebih dari 50 tahun mempromosikan budaya Indonesia di negeri itu memang layak mendapat penghargaan. Dubes Salim Said mengatakan, Prof Dubovska layak mendapat penghargaan karena jasa-jasanya dalam mempromosikan kebudayaaan Indonesia di Ceko. Duboska hingga kini tidak saja mengajarkan bahasa Indonesia kepada murid-muridnya di Charles University, Praha, tetapi ia juga banyak menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Ceko. Karyanya, antara lain Dongeng Rakyat Indonesia (1966), Buku Bacaan Indonesia untuk Mahasiswa (1969), Pengantar untuk Bahasa Jawa (1974), Buku Pelajaran Bahasa Indonesia (1998), Antologi Kesusasteraan Indonesia Modern (1996), dan Sejarah Indonesia (2005). Dubovska juga aktif menulis untuk majalah dan menjadi penerjemah, termasuk untuk film kerjasama Ceko-Indonesia pada 1961 yakni film Aksi Kalimantan. Sampai saat ini Professor Dubovska masih aktif memberikan seminar mengenai kebudayaan Indonesia di berbagai kota di Ceko. Mantan Dubes Ceko untuk Indonesia, Jaroslav Olsa, yang juga murid dari Dubovska, memberikan kesaksian bagaimana Professor Dubovska selama bertahun-tahun mempromosikan budaya Indonesia. Peringatan acara 50 tahun perjanjian kebudayaan Indonesia Ceko yang digelar sepanjang tahun dipercayakan Dubes Salim Said kepada Azis Nurwahyudi, diplomat muda yang banyak berkiprah di dunia diplomasi internasional. Menurut Salim Said, hubungan Indonesia dan Ceko(Slovakia) telah terjalin sejak tahun 1924 dengan ditunjuknya Konsul kehormatan Cekoslovakia di Batavia. Meski demikian Indonesia baru mulai dikenal warga Cekoslavakia pada 1947 saat digelar Kongres Pertama Pemuda dan pelajar di Praha. Kongres yang diadakan bertepatan dengan peristiwa mempertahankan Indonesia. Seruan Merdeka dan lagu Halo Halo Bandung menjadi lagu kebangsaan tidak resmi bagi delegasi yang datang dari Tanah Air dan Belanda. Pada tahun 1948 Indonesia mendirikan kantor perwakilan tidak resmi di Praha. Hubungan kedua negara semakin dekat ketika pada 2 Pebruari 1950 Cekoslovakia mengakui Republik Indonesia Serikat sebagai negara berdaulat atas dasar Konferensi Meja Bundar yang diadakan di Denhaag. Berdasarkan pengakuan pemerintah Cekoslovakia, pada 7 Maret 1950 di Jakarta dibuka Konsul Jenderal Cekoslovakia. Kedekatan kedua negara semakin terasa ketika Bung Karno mengadakan kunjungan resmi untuk pertama kalinya ke Cekoslovakia pada 22 September 1956 atas undangan Presiden Antonin Zapotocky. Pada saat itu Bung Karno memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari Charles University dan medali Kehormatan Kenegaraan Singa Putih dengan rantai kelas I yang merupakan penghargaan tertinggi negara baik Cekoslovakia maupun Ceko saat ini. Pada tahun 1957 Perwakilan Cekoslovakia di Jakarta resmi menjadi kedutaan besar yang dipimpin Jan Zitek dan di Praha juga dibuka Kedutaan besar RI dengan dubes pertamanya R.A. Asmaoen SH. Kedekatan hubungan kedua negara dipatri dalam bentuk perjanjian kebudayaan. Pada tahun 1961 untuk kedua kalinya Bung Karno kembali hadir di Praha atas undangan Presiden Antonin Novotny. Pada kerkembangannya hubungan Indonesia Ceko sempat terhambat dengan peristiwa 1965 dan baru pada 1979 kembali mesra, setelah Parlemen Indonesia berkunjung ke Cekoslovakia dan kunjungan balasan Menlu Bohuslav Choupka yang menemui Presiden Soeharto dan Menlu Adam Malik. Hubungan terus berlanjut ketika Indonesia mengakui Ceko sebagai negara baru pada 1993 dan setahun kemudian dimulai kembali pengiriman mahasiswa Indonesia ke Ceko dan sebaliknya mahasiswa Ceko mengikuti program beasiswa darmasiswa untuk belajar di Indonesia. Sekretaris I Penerangan, Sosial dan Budaya (Pensobud) KBRI Praha, Azis Nurwahyudi mengatakan, untuk merayakan 50 tahun perjanjian kerjasama kebudayaan Indonesia-Ceko digelar berbagai acara mulai dari festival film Indonesia, penampilan kesenian, dialog ilmiah dan seminar yang menghadirkan Prof Dr R William Liddle dan Prof Taufik Abdullah. Acara puncaknya adalah pemberian penghargaan untuk Professor Zorica Dubovska, dan penampilan Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya dengan lakon Zero, ujar Azis Nurwahyudi. (*)

Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2008

RI minta dukungan Ceko agar sawit tetap masuk Eropa

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar