KUA Pulau Tidung dibangun di samping Makam Raja Pandita

KUA Pulau Tidung dibangun di samping Makam Raja Pandita

KUA Kepulauan Seribu Selatan melayani 100 calon pengantin setiap tahunnya. KUA ini berdiri di lahan berdekatan dengan Makam Raja Pandita atau Raja Tidung XII, Jumat (20/9/2019). ANTARA/Laily Rahmawaty

Jakarta (ANTARA) - Pulau Tidung di Kepulauan Seribu menyimpan berbagai keunikan yang menarik untuk dikunjungi salah satunya keberadaan Kantor Urusan Agama (KUA) Kepulauan Seribu Selatan yang dibangun di samping Makam Raja Pandita atau Raja Tidung XIII.

Baca juga: OFF-Jakarta targetkan 2.000 wisatawan ke Pulau Seribu

Staf Admistrasi KUA Kepulauan Seribu Selatan, Irwan, saat ditemui di Pulau Tidung, Jumat, mengatakan KUA Kepulauan Seribu Selatan berdiri sejak 2004.

"KUA lebih dulu berdiri dari pada makam. Kebetulan saja posisinya bersebelahan," kata Irwan.

Menurut dia, keberadaan KUA bersebelahan dengan makam keramat tersebut agar tidak menimbulkan kesan kramat bagi masyarakat sekitar.

Baca juga: OFF-Jakarta ajang promosi pariwisata Kepulauan Seribu

Raja Pandita merupakan Raja Tidung XIII berasal dari Malinau, Kalimatan Utara. Konon Raja Pandita merupakan raja dari Kerajaan Tidung yang diasingkan oleh Belanda ke Kepulauan Seribu pada 1892.

Selain bersebelahan dengan makam Raja Tidung XIII, KUA Kepulauan Seribu Selatan terletak di Jalan Pantai Utara Pulau Tidung ini juga berada satu area dengan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pulau Tidung.

Irwan mengatakan terdapat dua KUA di Kepulauan Seribu yakni KUA Kepulauan Seribu Selatan dan KUA Kepulauan Seribu Utara masing-masing melayani tiga kelurahan.

Total ada enam kelurahan di Kepulauan Seribu, KUA Kepulauan Seribu Selatan melayani kelurahan Pulau Pari dan Pulau Untung Jawa.

Seperti KUA pada umumnya meski berada di sebuah pulau di tengah laut, KUA Kepulauan Seribu Selatan melayani pada hari kerja mulai dari pukul 07.30 WIB hingga 16.30 WIB.

Baca juga: Festival Budaya Bahari bertaraf internasional dihelat di Pulau Tidung

Kehadiran KUA di Pulau Tidung untuk mengakomodir warga Kepulauan Seribu untuk mengurus pernikahan.

"Kalau dulu masih menginduk ke Jakarta Utara, sekarang sudah tidak perlu ke Jakarta lagi," kata Irwan.

Ia mengatakan penduduk Pulau Tidung tidak terlalu banyak jumlahnya hanya sekitar 10 ribu jiwa. Rata-rata sehari yang mendaftar nikah satu orang, sebulan mencapai tujuh orang.

Baca juga: Karang Taruna Pulau Pari-Tidung galang donasi untuk korban tsunami Selat Sunda

KUA akan ramai di musim nikah yakni pada bulan Syawal atau setelah lebaran Idul Fitri dan tahun baru Dzulhijah.

"Kalau lagi musimnya yang daftar bisa 15 pendaftar dalam sebulan," tutur Irwan.

Pulau Tidung merupakan satu dari 11 pulau berpenghuni yang ada di Kepulauan Seribu. Tergolong sebagai pulau paling besar dari 110 pulau yang ada di kepulauan milik pemerintah DKI Jakarta.

Baca juga: Anies Resmikan Sekolah di Kepulauan Seribu

Pulau Tidung memiliki luas 60 hektare, sekitar 25 persen wilayahnya dikelola sebagai lokasi wisata dan sisanya merupakan pemukiman penduduk.

Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu, Cucu Ahmad Kurnia mengatakan Pulau Tidung memiliki potensi pariwisata yang menarik untuk dikunjungi.

Pulau Tidung terdiri atas Pulau Tidung besar dan Pulau Tidung kecil yang dihubungkan oleh Jembatan Cinta.

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Taufik Ridwan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pengembang Pulau Pari minta penggarap illegal hengkang

Komentar