counter

Tantangan konservasi Wehea-Kelay adalah laju kerusakan

Tantangan konservasi Wehea-Kelay adalah laju kerusakan

Hutan Lindung Wehea di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. ANTARA/HO-Profauna

perlindungan yang efektif dan akan berhasil jika dilakukan dengan basis ilmiah
Samarinda (ANTARA) - Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) yang berafiliasi dengan The Nature Conservancy (TNC) berpendapat, tantangan besar dalam upaya konservasi bentang alam Wehea-Kelay, Kalimantan Timur, adalah laju kerusakan akibat berbagai aktivitas.

"Hingga kini masih terjadi perlombaan waktu antara kerusakan dan perlindungan di bentang alam Wehea-Kelay. Perlindungan yang efektif dan akan berhasil jika dilakukan dengan basis ilmiah," kata Manajer Senior YKAN Niel Makinuddin di Samarinda, Minggu.

Di Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Wehea-Kelay memiliki lahan dengan luas 532.143 hektare. Luasan ini membentang dari Kecamatan Wehea, Kabupaten Kutai Timur, hingga Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau.

Pada luasan tersebut terdapat wilayah konsesi hutan produksi, hutan alam, perkebunan sawit dan hutan lindung.

Para pemangku kepentingan di dalamnya berkolaborasi untuk mengelola KEE dengan bergabung dalam Forum Pengelolaan KEE Wehea-Kelay.

Baca juga: Laju Kerusakan Hutan Capai 0,7 Juta Hektar

Sebelumnya, saat Sosialisasi KEE Wehea-Kelay di Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Niel mengatakan bahwa bergabungnya Fakultas Kehutanan Unmul dalam Forum Pengelolaan KEE Wehea-Kelay, menjadi sinar terang keterlibatan kampus dalam memperkuat argumen atau basis kajian penyelamatan kawasan lindung.

Basis ilmiah dari civitas akademika, lanjutnya, merupakan senjata ampuh untuk meyakinkan pemangku kebijakan untuk perlindungannya. Apalagi di kawasan itu terdapat 1.282 individu orangutan dan ratusan spesies lain baik flora maupun fauna yang sebagian berpotensi menjadi obat-obatan.

"Kami berharap segera hadir penelitian dari Unmul yang melakukan kajian dan valuasi (nilai ekonomi) dari konservasi hutan di bentangan ini, karena kita perlu fakta dan angka untuk menjadi kartu truf ke publik dan pemangku kebijakan," ucap Niel.

Ia melanjutkan, Forum KEE Wehea-Kelay membuka kesempatan bagi mahasiswa Universitas Mulawarman baik tingkat sarjana S1 hingga S-2 dalam mengadakan penelitian di bentang alam tersebut. Tiap peneliti diharapkan bisa mengumpulkan proposal penelitian paling lambat 1 November 2019.

Baca juga: Laju Kerusakan Hutan di Asia Pasifik Tercepat di Dunia

Kawasan Ekosistem Esensial, lanjut dia lagi, merupakan ekosistem penting di luar kawasan konservasi yang secara ekologis penting dan ditunjuk sebagai kawasan lindung dengan pengelolaan berprinsip keberlanjutan.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sejak 2015 telah memulai pembentukan KEE di Bentang Alam Wehea-Kelay untuk perlindungan orangutan. Untuk pengembangannya kemudian dibentuk Forum KEE Wehea-Kelay dengan harapan keberadaan makin kuat yang didukung dengan kajian ilmiah.

Baca juga: Ditemukan 606 Sarang Orangutan di Wehea, Kutai Timur

Pewarta: M.Ghofar
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar