Tenis

Tsonga buat sejarah di Metz

Tsonga buat sejarah di Metz

Petenis Prancis Jo-Wilfried Tsonga berkompetisi melawan petenis Amerika Serikat Taylor Fritz dalam babak pertama turnamen tenis Monte Carlo Masters di Monte Carlo Country Club, Roquebrune-Cap-Martin, Prancis, Selasa (16/4/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Eric Gaillard/nz/cfo

Jakarta (ANTARA) - Jo-Wilfried Tsonga membuat sejarah dengan menjadi pemain putra pertama yang memenangkan empat gelar pada Moselle Open di Metz, Prancis, Minggu, setelah mengalahkan Aljaz Bedene 6-7(4), 7-6(4), 6-3.

Petenis Prancis berusia 34 tahun itu meningkatkan rekornya menjadi 4-1 pada final turnamen ATP 250 tersebut setelah meraih kemenangan dalam dua jam dan 47 menit.

Ia menjadi petenis Prancis kesembilan yang menjadi juara dalam 11 edisi terakhir turnamen tersebut. Sejak gelar yang diraih Gael Monfils pada 2009, hanya David Goffin (2014) dan Peter Gojowczyk (2017) adalah petenis dari luar Prancis yang menjadi juara di Metz.

"Secara mental, saya sangat kuat. Saya melakukan servis dengan sangat baik ketika saya memerlukannya," kata Tsonga. "Pertandingannya sama sekali tidak mudah. Aljaz adalah pemain yang sangat baik dan ini pertandingan yang lama, saya sudah pasti gembira menang di sini lagi," katanya dikutip dari laman ATP Tour, Senin.

Tsonga sekarang sudah memenangi 10 dari 18 trofi ATP Tour-nya di negara sendiri. Juara empat kali di Metz itu juga memiliki tiga mahkota Marseille (2009, 2013, 2017), bersama gelar individual di Rolex Paris Masters 2008, Open Parc Auvergne-Rhone-Alpes Lyon 2017 dan Open Sud de France tahun ini.

Baca juga: Tsonga raih gelar di Montpellier

Baca juga: Tsonga menangi gelar Rotterdam setelah kalahkan Goffin


Kemenangan tersebut terjadi satu tahun setelah Tsonga kembali ke ATP Tour di Metz, menyusul absen tujuh bulan karena operasi lutut kiri.

Setelah set pertama yang ketat, Bedene membuktikan diri sebagai pemain yang lebih solid pada tiebreak. Petenis berusia 30 tahun itu dengan cepat melaju untuk memimpin 4/0, memanfaatkan serangkaian kesalahan forehand Tsonga sebelum memenangi set tersebut dengan menekan petenis Prancis itu dengan maju ke depan net.

Namun, forehand Tsonga terbukti menjadi faktor penting pada tiebreak berikutnya, ketika petenis Prancis itu memaksakan set penentuan dengan serangkaian pukulan keras untuk menyamakan kedudukan. Tsonga membawa pola pikir menyerang itu ke set penentuan, memenangi 14 poin pertama untuk memimpin 3-0, sebelum meraih kemenangan dengan poin kemenangan pertamanya melalui forehand winner menyilang.

"Ini pertandingan yang sangat sulit. Saya tetap tenang, fokus pada melakukan yang dasar dengan baik dan menunggu momen yang tepat untuk mengubah reli,” kata Tsonga.

Bedene sedang mengejar trofi level tur pertamanya dalam pertandingan final keempatnya. Petenis Slovenia itu mengalahkan dua lawan unggulan - Gilles Simon dan Benoit Paire — untuk mencapai final pertamanya sejak Argentina Open Februari lalu.

"Saya hanya kehilangan dua servis pekan ini, jadi mungkin servis terbaik saya sepanjang karir," kata Bedene. "Saya punya peluang hari ini. Saya memperoleh satu set, 4-3 dan satu break point. Ia melakukan servis dengan baik dan saya memilih sisi yang salah, tapi ini ketat dan mungkin hasilnya bisa ke mana saja. Saya kecewa. Saya ingin menang, tetapi saya sangat gembira dengan pekan ini.”

Tsonga memperoleh 250 poin Ranking ATP dan mendapat hadiah uang 90.390 euro, sedangkan Bedene memproleh 150 poin Ranking ATP dan hadiah uang 48.870 euro.

Baca juga: Tim Eropa juara Laver Cup ketiga kalinya

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar