Akademisi: Jalur sepeda harus dirancang dengan baik

Akademisi: Jalur sepeda harus dirancang dengan baik

Pengamat transportasi Unika Soegijapranata Semarang. Djoko Setijowarno. ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi

faktor keamanan, polusi udara, serta minimnya fasilitas pendukung menjadi kendala utama perwujudan sepeda sebagai sarana transportasi
Jakarta (ANTARA) - Akademisi Unika Soegijapranata Semarang dan pengamat transportasi Djoko Setijowarno menyatakan, pembangunan jalur sepeda yang telah digiatkan di beberapa kota seharusnya benar-benar dirancang dengan baik agar membangkitkan jumlah pengguna sepeda.

"Di beberapa kota sudah terbangun jalur sepeda, seperti Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Palembang, Bogor, Malang, Semarang, Balikpapan. Namun belum bisa membangkitkan pesepeda lebih banyak untuk aktivitas kesehariannya," kata Djoko Setijowarno dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Menurut dia, berbagai jalur sepeda yang telah dibangun tersebut tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya, karena kerap digunakan oleh laju kendaraan bermotor dan sebagai tempat parkir.

Ia berpendapat, faktor keselamatan dan polusi udara menjadi faktor penghambat sepeda menjadi moda mobilitas keseharian.


Baca juga: Fasilitas jalur sepeda harus disertai penegakan hukum

Selain itu, Djoko mengemukakan bahwa kasus tabrak lari yang dialami pesepeda kerap terjadi, seperti yang menimpa Sandy Syafiek, karyawan televisi swasta di Jakarta yang tewas saat tertabrak mobil di Jalan Gatot Subroto, Februari 2018.

"Ada tiga macam jalur sepeda yang dapat dibangun. Pertama bike path, yaitu memberikan jalur sepeda dan pejalan kaki dalam satu jalur sama tinggi dengan meminimkan persilangan keduanya. Contohnya, sudah terbangun di sekeliling Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor," papar Djoko yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat.

Sedangkan jenis jalur kedua adalah bike lane, yaitu menyediakan jalur khusus bagi sepeda di jalan umum, yang sebaiknya dilengkapi pembatas fisik, seperti jalur sepeda yang dibangun di kota-kota di China.

Terakhir, jenis ketiga adalah bike route, yaitu menyediakan penggunaan sepeda bersama dengan lalu lintas pejalan kaki atau kendaraan bermotor, biasanya di ruas jalan dengan volume lalu lintas lebih rendah.

"Sepeda merupakan sarana transportasi yang belum menjadi penunjang aktivitas keseharian. Pasalnya, faktor keamanan, polusi udara, serta minimnya fasilitas pendukung menjadi kendala utama perwujudan sepeda sebagai sarana transportasi," katanya.

Baca juga: Jakarta Selatan setuju jalur sepeda ditambah

Sementara di Indonesia, lanjutnya, kini sepeda hanya sebagai sarana olah raga atau hanya sekedar untuk mencari keringat sambil berekreasi di akhir pekan atau hari libur.

Akibatnya, warga dinilai lebih memilih bersepeda pada akhir pekan di lokasi car free day atau di suatu kawasan yang memiliki jaringan jalur sepeda yang cukup panjang.

Menurut dia, jika fasilitas jalur sepeda dibangun dengan memperhatikan faktor keselamatan, keamanan dan ramah lingkungan, niscaya akan semakin banyak warga yang mau menggunakan sepeda untuk mobilitas kesehariannya.

"Jaringan jalur sepeda yang dibangun harus terintegrasi dan berkelanjutan. Tidak hanya di jaringan jalan tengah kota, akan tetapi dimulai dari kawasan perumahan dan pemukiman warga," katanya.

Ia mengutarakan harapannya agar ke depannya, sepeda dapat menjadi salah satu moda transportasi keseharian yang ramah lingkungan, selamat, aman dan berkelanjutan.

Baca juga: Di Jakarta kendaraan masuk jalur sepeda dikenakan denda Rp500 ribu
Baca juga: DKI Jakarta akan punya 63 km jalur khusus sepeda

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komunitas sepeda dan pejalan kaki sayangkan pembangunan jalur sepeda terhambat

Komentar