Tari Papua ditampilkan di Turki dalam perayaan HUT ke-74 RI

Tari Papua ditampilkan di Turki dalam perayaan HUT ke-74 RI

Tari Mambo Simbo dari Papua Barat ditampilkan dalam Resepsi Diplomatik HUT RI ke-74 di Ankara, Sabtu (21/9/2019). ANTARA/HO/KBRI Ankara

Jakarta (ANTARA) - Tari Mambo Simbo dari Papua Barat ditampilkan dalam Resepsi Diplomatik HUT ke-74 RI yang diselenggarakan KBRI Ankara di Turki, 21 September 2019.

Tari Papua tersebut ditampilkan dalam satu rangkaian dengan tari Bali, Jawa, dan Kalimantan. Rangkaian tari yang diberi nama Swara Bhinneka itu merupakan karya buat ulang oleh koreografer Agung Gunawan.

"Pesan yang ingin disampaikan melalui tarian ini adalah bahwa Papua adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kekayaan dan keragaman budaya Nusantara," ujar Duta Besar RI untuk Turki Lalu Muhamad Iqbal dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Presiden Erdogan pastikan kunjungi Indonesia awal 2020

Baca juga: Jokowi sahkan perjanjian penerbangan Indonesia dengan Turki dan Swiss


Ketua Parlemen/Majelis Permusyawaratan Nasional Turki Mustafa Sentop hadir sebagai tamu kehormatan dalam resepsi tersebut dan menyaksikan pertunjukan sejak awal hingga akhir.

Selain itu, penampilan tari Indonesia juga disaksikan oleh sedikitnya 500 orang dari kalangan diplomatik, kalangan bisnis dan pejabat pemerintah Turki. Pertunjukan itu juga diliput oleh media televisi dan cetak utama di Turki.

Tarian tersebut ditampilkan oleh 16 penari Turki yang tergabung dalam Sanggar Tari Indonesia "Armonina", yang baru sebulan terbentuk.

Belasan penari tersebut masing-masing menari dalam empat kostum daerah yang berbeda.

"Keragaman Indonesia adalah harta dunia yang harus kita jaga bersama," ujar Ketua Parlemen Turki Mustafa Sentop usai menyaksikan rangkaian koreografi ulang tarian daerah Nusantara tersebut.

Baca juga: Dubes RI serahkan surat kepercayaan, Erdogan sebut Jokowi "my brother"

Selain menampilkan rangkaian tarian daerah, pada kesempatan tersebut juga ditampilkan tari koreografi baru, Samansema, dalam rangka peluncuran dimulainya peringatan 70 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Turki, serta pentas gamelan Jawa oleh pelajar Indonesia di Ankara.

Tari Samansema diinspirasi oleh dua tarian bernuansa mistis sufisme, masing-masing Tari Saman dari Aceh dan Tari Sema dari Turki.

Tarian tersebut menceritakan bagaimana sufisme ikut menciptakan efek pencerahan dan kebangkitan dalam sejarah kedua bangsa.

Selain tari, tari Samansema juga mengkolaborasikan alat musik suling sema dari Turki dengan rebab dari Indonesia.

Tari Samansema, yang merupakan kolaborasi Tari Saman dari Aceh dan Tari Sema dari Turki, ditampilkan dalam peluncuran peringatan 70 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Turki di Ankara, Sabtu (21/9/2019). ANTARA/HO/KBRI Ankara
Baca juga: Indonesia-Turki teken kesepahaman tentang pelindungan perempuan-anak

"Pesan moral dari tarian ini adalah agar, sebagaimana halnya di masa lalu, hubungan kedua negara di masa mendatang harus membawa dampak membangkitkan dan mencerahkan bagi kemajuan kedua bangsa," ujar Sekretaris II Sosial Budaya KBRI Ankara Haviz Aprilian.

Berbagai kegiatan telah dicanangkan oleh KBRI Ankara bersama berbagai pihak di Turki guna mengisi peringatan 70 tahun hubungan diplomatik kedua negara.

Selain meluncurkan dimulainya rangkaian kegiatan peringatan 70 Hubungan Diplomatik Indonesia-Turki, pada kesempatan tersebut juga diluncurkan logo peringatan yang dikomposisikan dari motif ukiran Bali dan motif ornamen khas Ottoman berupa bunga tulip.

Meskipun hubungan diplomatik Indonesia dengan Turki secara resmi dimulai sejak 1950, catatan sejarah menunjukkan bahwa berbagai kesultanan di Indonesia, baik di Jawa maupun Sumatra, sudah memiliki interaksi dengan kesultanan Ottoman/Usmaniyah sejak abad ke-15.

Jejak interaksi tersebut salah satunya terlihat dari berbagai praktek sufisme yang masih tumbuh subur di Indonesia dan di Turki hingga saat ini.

Baca juga: Indonesia-Turki bahas negosiasi kemitraan ekonomi komprehensif

 

Erdogan dijadwalkan kunjungi Indonesia 2020

 

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Azizah Fitriyanti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar