Actuarial Simulation, cara BUMN ini cegah perang tarif Group Term Life

Actuarial Simulation, cara BUMN ini cegah perang tarif Group Term Life

Ilustrasi (Ist)

Jakarta (ANTARA) -- Ketatnya persaingan di sektor asuransi jiwa, khususnya pada asuransi kumpulan atau Group Term Life (GTL) mendorong terjadinya perang tarif antar pelaku asuransi, yang pada akhirnya, berimbas pada terhambatnya pertumbuhan asuransi jiwa nasional.

Merespon kondisi pasar, BUMN reasuransi, Indonesia Re, tergerak untuk melakukan sosialiasi dengan mengajak segenap pelaku industri melaksanakan praktik bisnis yang sehat lewat penyelenggaraan Actuarial Simulation for Group Term Life Insurance di Jakarta, Selasa.

Life Reinsurance Underwriting & Customer Experience Management Division Head Indonesia Re Radix Yunanto mengatakan, lewat event ini, pihaknya ingin berbagi pengalaman dan kondisi pasar saat ini.

"Karena jika hal ini (perang tarif) terus terjadi, niscaya akan menggerus profit, dan pada akhirnya berdampak negatif pada tingkat kesehatan asuransi nasional," ungkapnya.

GTL merupakan produk asuransi jiwa korporat yang diberikan kepada karyawan. Produk asuransi ini dirancang sebagau santunan bagi karyawan yang wafat pada masa dinas.

Sektor asuransi jiwa dinilai rentan akan perang tarif karena memiliki pangsa pasar yang besar dari total keseluruhan kelas bisnis asuransi. Selain GTL, persaingan di sektor asuransi jiwa kredit (AJK) pun mengalami hal serupa.

Sebagai BUMN yang ditunjuk pemerintah sebagai Perusahaan Reasuransi Nasional (PRN), Indonesia Re berinisiatif untuk menjadi mitra industri asuransi nasional dalam melahirkan inovasi dan nilai tambah bagi masyarakat. 

"Sesuai jargon kami 'Indonesia Re for Reinsurance Solutions', kami ingin menjadi mitra para ceding untuk bersama-sama wujudkan inovasi," lanjutnya. 

Ditemui di kesempatan yang sama, Head of Corporate Actuary Avrist Tju Cunardi mengakui adanya perang tarif di sektor asuransi jiwa, khususnya GTL. Meskipun demikian, pihaknya berupaya untuk tidak terseret arus perang tarif tersebut.

"Memang ada (perang tarif), ya. Tapi, kami selalu reasonable (dalam pricing), jangan sampai merugikan perusahaan juga," tuturnya.

Lebih lanjut, dirinya berharap Indonesia Re terus konsisten dalam mengedukasi pasar dalam rangka mewujudkan pertumbuhan industri yang positif. 

"Yang saya tahu, (Indonesia Re) memang rutin (menggelar event-event edukasional). Saya sangat mengapresiasi hal tersebut karena kita dapat sama-sama bertumbuh," tukasnya.





Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemenkeu: Gedung Kejaksaan Agung yang terbakar belum diasuransikan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar