Simulasi - Pesawat Constlead Air alami masalah pada roda pendaratan

Simulasi - Pesawat Constlead Air alami masalah pada roda pendaratan

Ilustrasi - Kecelakaan pesawat. ANTARA/Ridwan Triatmodjo

Medan (ANTARA) - Pesawat Constlead Air dengan rute penerbangan CGK-KNO mengalami masalah pada roda pendaratan yang keluar tidak sempurna sehingga pada saat touchdown di Runway 23 sebelah kiri locked (terkunci) dan menyebabkan pesawat tidak terkendali.

Terdapat sejumlah "korban luka" dalam kejadian tersebut, di antaranya 10 orang luka berat, 10 luka ringan, penumpang selamat 85 orang, dan dua orang meninggal dunia.

Kejadian tersebut merupakan bagian skenario latihan penanggulangan keadaan darurat (PKD) di Bandara Udara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, Kamis.

Baca juga: DVI Polda Papua identifikasi jenazah korban kecelakaan pesawat

Latihan tersebut dengan Sandi "DIRGANTARA KUALANAMU II" yang bertema Increasing Preparedness of Airport Emergency Committee.

Latihan itu melibatkan kurang lebih 314 personel gabungan yang terdiri atas PT Angkasa Pura II,TNI/Polri, Perum LPPNPI AirNav Cabang Kualanamu, Kantor Otban Wilayah II Medan, Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Kualanamu, Basarnas Kota Medan, Pemadam Kebakaran Kabupaten Deli Serdang, sejumlah rumah sakit di Kabupaten Deli Serdang, Puskesmas, PMI, dan instansi pemerintah lainnya.

Latihan atau simulasi yang diselenggarakan tersebut, dirancang mendekati keadaan sebenarnya (riil) dan secara langsung dipimpin oleh Executive General Manajer Bandar Udara Internasional Kualanamu sebagai ketua dari Airport Emergency Committee (AEC) dan ditangani sesuai dengan pedoman yang tertuang di dalam Airport Emergency Plan (AEP) Bandar Udara Internasional Kualanamu.

Executive General Manajer PT Angkasa Pura II (Persero) Kantor Cabang Bandar Udara Internasional Kualanamu Bayuh Iswantoro mengatakan bahwa simulasi PKD untuk menguji kecepatan dan ketepan serta implementasi penanganan krisis sesuai dengan Dokumen Penanggulangan Keadaan Darurat Bandar Udara (Airport Emergency Plan Document).

"Khususnya, kami memfokuskan pada fungsi koordinasi, komunmikasi, dan komando antarunit, serta instansi pemangku kepentingan di Bandara," ujar Bayuh.

Baca juga: Tiga helikopter angkut korban kecelakaan pesawat Twin Otter

Ia menjelaskan tujuan utama dari pelaksanaan latihan ini adalah untuk menguji kesiapan dan ketanggapan dalam merespons keadaan darurat yang dapat terjadi kapan saja dan menguji ketepatan prosedur, mengingat keselamatan dan keamanan para pengguna jasa bandara.

"Kami pastikan bahwa operasional di Bandar Udara Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang tidak terganggu selama pelaksanaan latihan PKD.Latihan ini tidak hanya menguji penanganan setelah kejadian, seperti bagaimana peran maskapai dalam penanganan terhadap korban selamat di passenger holding area," ucapnya.

Selain itu, menyimulasi bagaimana penanganan terhadap keluarga korban yang datang dari Bandara di area meeters & greeters, dan efek lanjutan lainnya, yaitu penanganan manajemen delay, serta penanganan terhadap media melalui simulasi kegiatan media handling (press conference).

"Setiap 2 tahun sekali, bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II (Persero) melaksanakan latihan PKD dan latihan ini merupakan pelaksanaan PKD ke-4 di Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang," katanya.

Manajemen PT Angkasa Pura II (Persero) saat ini mengelola 16 bandar udara dan merupakan penyelenggaraan latihan PKD ke-2 pada tahun 2019. Sebelumnya, dilaksanakan di Bandar Udara Internasional Huseinsastranegara pada bulan Juli 2019.

Baca juga: Jenazah korban kecelakaan pesawat Twin Otter dievakuasi ke Timika
 

Pewarta: Munawar Mandailing
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar