Umrah Tanjungpinang usulkan pemerintah bentuk UPT Pulau Penyengat

Umrah Tanjungpinang usulkan pemerintah bentuk UPT Pulau Penyengat

Kondisi Pulau Penyengat sebagai salah satu objek wisata di Kota Tanjungpinang, memprihatinkan. Tampak salah satu cagar budaya yang kurang terawat dikunjungi wisatawan. (Nikolas Panama)

Tanjungpinang (ANTARA) - Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) Tanjungpinang mengusulkan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau membentuk unit pelaksana teknis yang bertugas mengembangkan Pulau Penyengat sebagai destinasi pariwisata andalan di wilayah tersebut.

Rektor Umrah Prof Syafsir Akhlus, di Tanjungpinang, Sabtu mengatakan sebaiknya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pulau Penyengat itu di bawah Sekretaris Daerah Kepri, dan memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan sejarah budaya, sastra, dan bahasa sebagai objek wisata berskala nasional dan internasional.

"Jadi ada lembaga khusus yang fokus membangun Pulau Penyengat sebagai kawasan yang megah, menarik dan berbudaya. Ini yang belum dimiliki Kepri," ujarnya.

Baca juga: Pulau Penyengat akan diusulkan sebagai warisan dunia

Baca juga: Penyengat ditetapkan sebagai Pulau Perdamaian Dunia


Selama ini, menurut dia pengembangan Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang dilakukan secara sporadis. Bahkan pemerintah daerah terkesan larut dalam euforia sejarah kejayaan Kerajaan Riau, Lingga, Pahang dan Johor yang berpusat di Pulau Penyengat.

Hegemoni Pulau Penyengat ternyata tidak seimbang dengan perlakuan pemerintah pusat dan daerah terhadap Pulau Penyengat yang ingin diperkenalkan sejumlah pihak ke dunia internasional.

Penyengat, menurut dia memang sudah sewajarnya dikenal dunia karena di pulau ini cikal bakal Bahasa Indonesia.

Di pulau ini lahir Gurindam 12, syair yang berisi petuah bagi masyarakat, karangan Pahlawan Nasional, Raja Ali Haji.

Pulau yang relatif kecil ini pula sebagai pusat pemersatu sebagai negara ketika masih berkuasa raja-raja pada Kerajaan Riau, Lingga, Pahang dan Johor.

Baru-baru ini, Pulau Penyengat juga ditetapkan sebagai Pulau Perdamaian Dunia.

Dari semua kehebatan Pulau Penyengat itu, ternyata tidak diimbangi dengan perlakuan pemerintah dan masyarakat. Sampai sekarang saja, aset sejarah belum terpelihara dengan baik, ujarnya.

Di lokasi Pulau Penyengat muncul kesan taman-taman tidak terawat, padahal setiap hari dilalui warga maupun wisatawan yang berkunjung.

Pelabuhan Pulau Penyengat di Tanjungpinang maupun di Pulau Penyengat sebagai fasilitas dasar yang dilalui wisatawan dan masyarakat juga kurang memadai. Semestinya fasilitas dasar itu dibangun megah dan nyaman.

Perahu-perahu yang digunakan menuju Pulau Penyengat juga sebaiknya lebih unik, cantik, aman dan nyaman sehingga wisatawan tertarik.

"Perlakuan terhadap Pulau Penyengat harus istimewa jika ingin membangun pulau itu. Harus ada lembaga khusus yang menanganinya," ucapnya.

Akhlus mengatakan UPT Pulau Penyengat sebaiknya diisi oleh orang-orang yang ahli dalam berbagai bidang, dan dapat bekerja secara profesional. Mereka berpengalaman untuk bidang tertentu yang diburuhkan, dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan berbagai program yang sudah dikaji.

"Tentu harus berkoordinasi dengan OPD lainnya sehingga program yang direncanakan dapat segera dilaksanakan, tidak sekadar wacana," katanya.

Pelaksana Tugas Gubernur menginginkan agar Pulau Penyengat berkembang pesat sebagai objek wisata, pusat perkembangan budaya dan sastra serta agama.

"Saya mengajak semua pihak untuk peduli terhadap Pulau Penyengat agar berkembang pesat," katanya.

Baca juga: Pulau penyengat, sungguh tak menyengat

Pewarta: Nikolas Panama
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar