Di Banyuwangi, ODGJ bisa bekerja layaknya orang normal

Di Banyuwangi, ODGJ bisa bekerja layaknya orang normal

Sumartin (kanan) ODGJ yang diberdayakan membuat kue-kue kering di UD Aulia Royana Banyuwangi, Senin (30/9/2019). (ANTARA/Aditya Ramadhan)

mereka terus kita latih biar bisa berdaya dan tidak dikucilkan
Banyuwangi (ANTARA) - Orang Dengan Ggangguan Jiwa (ODGJ) di Kecamatan Regojampi, Banyuwangi, Jawa Timur bisa bekerja layaknya orang normal di masyarakat, bahkan mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya selama bertahun-tahun.

Kepala Program Kesehatan Jiwa Puskesmas Gitik Banyuwangi Eko Budi Cahyono di Banyuwangi, Senin, mengatakan program Dinas Kesehatan tentang keluarga asuh dan pengusaha asuh memungkinkan untuk mempekerjakan ODGJ dalam suatu unit usaha berbaur dengan masyarakat lainnya.

Salah satu keluarga asuh dan pengusaha asuh dari UD Aulia Royana Jamilah mengaku telah mempekerjakan ODGJ sebagai karyawannya untuk membuat kue-kue kering selama lima tahun. ODGJ tersebut pun menerima upah harian sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per hari.

"Total karyawan ada 40 orang, karyawan ODGJ empat orang. Paling lama Bu Sumartin sudah empat tahun," kata dia.

Baca juga: Menkes harap Rumah Berdaya bagi ODGJ ditiru daerah lain

ODGJ yang dipekerjakan di UD Aulia Royana, kata Jamilah, masih dalam penanganan kesehatan dari puskesmas. Pemberdayaan ODGJ dengan mempekerjakan di unit usaha kecil dan menengah salah satu terapi dalam pengobatan kesehatan jiwa.

Program Terapi Okupasi dan Pemberdayaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (Teropong Jiwa) yang dilakukan Puskesmas Gitik sejak 2017 membantu para ODGJ dalam penyembuhan kesehatan jiwanya dan memberikan ketenteraman masyarakat yang tinggal bersama ODGJ.

Masyarakat sekitar yang tadinya merasa terganggu dengan kehadiran ODGJ yang belum tertangani dan bisa membahayakan orang lain, saat ini merasa lebih tenteram karena petugas medis membantu menstabilkan kondisi para penderita gangguan jiwa.

"Sebelum dibentuk Teropong Jiwa pada 2017, kita melihat kasihan pada saudara kita tetangga kita, jangan sampai terkucilkan. Kita rangkul sejak 2017 hingga tiga tahun ini bisa berdaya punya penghasilan walaupun sedikit, mereka terus kita latih biar bisa berdaya dan tidak dikucilkan," kata pembimbing di UD Auliya Royana Andi Ainur Rohman.

Eko menyebutkan salah satu ODGJ yang sudah berdaya, yaitu Sumartin dengan pengalaman kerja di UMKM pembuatan kue kering selama empat tahun.

Selain bertugas membuat kue kering, Sumartin yang sudah berusia 50 tahun itu juga terampil dalam membuat kue-kue basah, seperti donat, onde-onde, dan nagasari yang dibuat sendiri di rumah lalu dijualnya.

Bahkan, Sumartin juga memiliki keterampilan memijat khusus untuk perempuan.

Baca juga: Dinsos Singkawang harapkan rumah singgah untuk ODGJ
Baca juga: PKK Pesisir Selatan-Sumbar bantu pengobatan ODGJ

 

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ada 46 kasus diskriminasi terhadap ODHA di Yogayakarta

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar