counter

KKP dorong panen parsial cegah kematian massal ikan

KKP dorong panen parsial cegah kematian massal ikan

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP Sjarief Widjaja. ANTARA/HO/Dokumentasi KKP

saat ini Indonesia mengalami musim kemarau akibat memanasnya suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong dilakukannya panen parsial sebagai salah satu upaya pencegahan dan pengendalian atas penyebab kematian ikan massal yang terjadi akibat gejala perubahan musim.

"Ketika waktu kematian massal ikan sudah diketahui, kenapa tidak dilakukan panen parsial, panen awal, sehingga risiko kematian massal akan lebih kecil," kata Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP Sjarief Widjaja, Selasa.

Terlebih, ujar dia, pada saat ini Indonesia tengah mengalami musim kemarau akibat memanasnya suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur.

Ia memaparkan bahwa musim kemarau kini sudah menghampiri utara dan timur Aceh, Sumatera Utara, Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan bagian tenggara, pesisir barat Sulawesi Selatan, pesisir utara Sulawesi Utara, pesisir dalam perairan Sulawesi Tengah, sebagian Maluku, dan Papua bagian selatan.

Kematian massal ikan pada umumnya terjadi karena adanya pergantian cuaca sehingga terjadi penurunan massa air hingga upwelling, yang menyebabkan pasokan oksigen ikan berkurang secara drastis, yang berimbas kepada rusaknya suhu air.

Baca juga: Kematian ikan di Pantai Ambon bukan pertanda akan gempa dan tsunami

BRSDM merekomendasikan untuk sementara waktu aktivitas keramba jaring apung dapat dihentikan terlebih dahulu sekitar dua bulan, agar perairan bisa memperbaiki kondisinya seperti semula.

Berdasarkan hasil riset dan informasi yang dilakukan oleh Peneliti Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan (BRPSDI) BRSDM, Krismono dan Joni Haryadi, kemarau yang melanda Indonesia saat ini membuat daerah perairan waduk dan telaga mengalami penurunan kedalaman air dari 10 - 20 m luas perairan menurun sehingga tinggal 50 - 60 persen.

Hal ini berarti daya dukung perairan juga menurun, yang menimpa sejumlah kawasan antara lain Telaga Sarangan, danau Singkarak, Waduk Kedung Ombo, Rawa pening, waduk Saguling, waduk Cirata,waduk Wadaslintang, waduk Sempor serta waduk Jatiluhur.

Penyusutan volume air tersebut dinilai juga menyebabkan konsentrasi beberapa senyawa kimia perairan menjadi lebih tinggi. Berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG, musim hujan akan diawali sekitar Oktober-November 2019 serta puncaknya terjadi pada Januari 2020.

"Pada musim hujan akan terjadi pencucian daerah tangkapan air dengan air hujan yang kemudian masuk ke perairan waduk atau danau. Masuknya air dengan material yang dibawa dari wilayah daratan dan besarnya arus yang masuk keperairan mengakibatkan pembalikan material di dasar perairan yang dangkal, sehingga kualitas air jelek dan dapat mengakibatkan kematian ikan khususnya ikan budidaya dalam keramba jaring apung," ujar Krismono

Untuk beberapa lokasi seperti Waduk Jatiluhur dan Danau Toba, BRSDM telah mengeluarkan rekomendasi berupa kalender "Prediksi Kematian Massal Ikan" dan skema "Alur Penanganan Kematian Massal Ikan", yang berisikan data dan informasi penyebab kematian massal ikan di KJA, termasuk upaya penanggulangannya sebagai bagian upaya pencegahan dan pengendalian peristiwa kematian massal ikan agar tidak kembali terjadi.

Diharapkan dengan kalender tersebut dapat menjadi pedoman bagi pembudidaya ikan.
Baca juga: Kematian massal ikan di Ambon disebut LIPI bukan karena ledakan

 

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menteri Susi resmikan pendingin ramah nelayan

Komentar