Guru Besar: Tantangan global ideologi pemuda di era milenial

Guru Besar: Tantangan global ideologi pemuda di era milenial

Dokumentasi - Petugas membersihkan pelataran Monumen Pancasila Sakti, di Jakarta Timur, Senin (26/9/2016). (ANTARA FOTO/Risky Andrianto)

Dan menyadari bahwa apapun godaan kita bahwa negara republik Indonesia yang satu ini tidak bisa dipisah-pisahkan,
Banda Aceh (ANTARA) - Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Yusny Saby mengatakan para generasi muda di era milenial ini memiliki tantangan yang begitu besar terhadap berbagai macam serangan ideologi dari seluruh penjuru dunia.

Hal itu disampaikan Prof Yusny dalam momentum peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang selalu diperingati setiap tahunnya pada 1 Oktober. Dan Pancasila menjadi ideologi dasar bangsa Indonesia.

"Tantangannya tentu saja tantangan global. Kita tinggal satu kampung dalam dunia ini, apa yang tidak terbuka, semua terbuka, ideologi bermacam-macam, kejahatan bermacam-macam, pembohongan bermacam-macam," katanya di Banda Aceh, Selasa.

Baca juga: Ade Yasin ingatkan pelajar Bogor tetap jaga persatuan

Menurut dia, sebahagian generasi muda tidak sadar bahwa mereka yang menjadi target serangan dari berbagai macam ideologi tersebut. Maka pemuda sangat penting untuk meningkatkan kemampuan keilmuan serta keterampilan.

"Dan menyadari bahwa apapun godaan kita bahwa negara republik Indonesia yang satu ini tidak bisa dipisah-pisahkan," ujarnya.

Prof Yusny menyebutkan sesama warga negara berbeda pendapat merupakan sesuatu hal yang lumrah. Namun dibalik itu kita harus menyadari bahwa negara yang kuat adalah negara yang besar, yang tidak merasa lebih bahagia dengan perpecahan.

Menurutnya, anak muda harus mencontoh orang tua atau pendahulu bangsa untuk meneladani. Maka peran pemerintah baik pemimpin formal maupun non formal sangat penting.

Baca juga: Hari Kesaktian Pancasila penting bangkitkan kesadaran membangun bangsa

“Ini adalah tantangan pertama termasuk yang tua, senior, pejabat, petinggi agama, pemimpin politik, dan pemerintah paling penting memberi contoh kepada yang muda ini,” katanya.

Prof Yusny menambahkan dalam momentum peringatan hari kesaktian Pancasila ini, pemuda tidak terpengaruh dengan apapun hal negatif. Dan harus menyadari bahwa Indonesia adalah negara yang besar, dan bersatu merupakan anugerah paling berharga.

Kemudian, kita anak bangsa telah menyepakati untuk menjaga kesatuan negara, dan apabila ada penyelewengan peraturan maka masyarakat harus menggugat.

“Kesadaran anak muda ini bukan penerima ide pemecahan tapi bagaimana apapun pemecahan itu mereka anak muda yang meluruskan,” lanjutnya.

Baca juga: Hari Kesaktian Pancasila jadi momentum perdamaian bangsa

Pewarta: Khalis Surry
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kenakan busana adat nusantara di upacara kesaktian Pancasila

Komentar