Artikel

Profil - Nono Sampono putra "blasteran" Maluku-Madura pimpinan DPD

Oleh Anom Prihantoro

Profil - Nono Sampono putra "blasteran" Maluku-Madura pimpinan DPD

Nono Sampono (Antaranews/Riza Harahap)

Jakarta (ANTARA) - Nono Sampono, Purnawirawan Letjen TNI (Mar), adalah seorang prajurit kelahiran Bangkalan, Madura, Jawa Timur, merupakan lelaki yang banyak menghabiskan masa remaja di Maluku kini menjadi salah satu pimpinan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) periode 2019-2024.

Wakil Ketua DPD periode 2014-2019 tersebut, kini bertarung merebut kursi ketua DPD Periode 2019-2024 bersaing dengan tiga kandidat lainnya yakni Sultan Bachtiar Najamuddin, La Nyalla  Mahmud Mattalitti dan Mahyudin.

Empat nama itu menyingkirkan calon pimpinan senat yang tergolong kuat seperti Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, Jimly Asshiddiqie dan Fadel Muhammad.

Baca juga: Tiga saingan Nono Sampono untuk duduki Kursi Ketua DPD 2019-2024

Sultan Bachtiar Najamuddin terpilih sebagai pimpinan DPD Wilayah Barat I, La Nyalla Mahmud Mattalitti (Pimpinan DPD Wilayah Barat II), Mahyudin (Pimpinan DPD Wilayah Timur I) dan Nono Sampono (pimpinan DPD Wilayah Timur II).

Nono sendiri adalah kelahiran 1 Maret 1953 merupakan sosok berdarah campuran Madura-Maluku, memiliki loncatan karir yang baik jika dibandingkan masa kecilnya yang banyak hidup dalam kesederhanaan karena ekonomi keluarga yang pas-pasan.

Menurut dia, ibunya di rumah tidak bisa baca, tetapi kalau soal uang tahu. Kemudian ayahnya seorang sopir dan bersekolah sampai kelas empat sekolah dasar saja.

Baca juga: Nono Sampono berharap anggota DPD RI bisa langsung bekerja

Nono mencari tambahan penghasilan dengan menjual ikan di pasar dan juga menjual roti bubengka. Terkadang jadi kondektur angkutan kota pada hari libur seperti Minggu untuk menopang pendapatan ayahnya. Nono juga beribadah sesuai agama dan kepercayaan yang dianutnya.

Senator petahana itu sempat bersekolah di Fakultas Teknik Universitas Pattimura. Namun baru setahun di sana, dia memulai loncatan dengan masuk ke Akademi Angkatan Laut pada tahun 1972 setelah galau dengan masa depan saat kuliah. Sebagian besar karirnya dihabiskan di dunia militer.

"Saya dari Rokodok (sekarang Taman Kanak-kanak) sampai SMA di sekolah Katholik dan lanjut kuliah di Teknik Perkapalan selama dua semester, tetapi berhenti akibat orang tua tidak mampu dan teken soldadu (TNI AL) saja dan alhamdulillah Puji Tuhan jadi jenderal," kata Nono Sampono dikutip ANTARA Ambon pada awal tahun ini.

Tak pelak, di Angkatan Laut (Marinir), dirinya meniti karir yang moncer. Selama empat tahun di akademi dia mampu menyelesaikan pendidikan dengan baik. Sejumlah posisi strategis sempat dijabat sampai pernah dianugerahi pangkat jenderal bintang tiga TNI Angkatan Laut.

Beberapa posisi penting dalam bidang militer satu persatu didudukinya seperti menjadi Komandan Paspampres, Gubernur AAL dan Komandan Jenderal Akademi TNI.

Pada 2010, Nono mengemban amanah di Badan Search And Rescue Nasional (Basarnas) sebagai orang nomor satu di lembaga untuk penyelamatan dan pencarian korban musibah/bencana itu.

Baca juga: Nono : Trias politika tidak relevan lagi saat ini

Dunia politik

Setelah selama setahun menjadi orang nomor satu di Basarnas, Nono mencoba peruntungannya di dunia politik. Bersama Alex Noerdin, putra "blasteran" Madura dan Maluku itu digandeng Partai Golongan Karya untuk bertarung dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta.

Beberapa pesaing paket Alex - Nono dalam Pilkada Jakarta adalah tokoh-tokoh yang memiliki popularitas dan elektabilitas tinggi semacam Fauzi Bowo (Foke) - Nachrowi Ramli dan Joko Widodo - Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Partai Golkar menjadi partai pertama yang memastikan diri mengusung pasangan Alex - Nono sebagai calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta.

Pasangan tersebut didukung dua partai lainnya, yakni Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Damai Sejahtera. Proses "perkawinan" keduanya terbilang mengejutkan karena Nono sebelumnya sempat masuk dalam daftar calon gubernur DKI dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Nono bersama mantan Wali Kota Solo Joko Widodo yang kini jadi Presiden RI bahkan sudah lolos seleksi uji kelayakan dan kepatutan yang dilakukan PDI-P. Proses yang begitu singkat ini sempat dipertanyakan banyak pihak.

Meski belum keluar sebagai yang terbaik dalam persaingan DKI-1 dan DKI-2, Nono tidak patah arang di percaturan politik lokal dan nasional. Pada 2013-2018 dia mendaftar maju sebagai kandidat gubernur Maluku 2013-2018.

Tak lolos menjadi calon Gubernur Maluku, Nono seperti masih penasaran dengan dunia politik untuk kemudian mendaftarkan diri sebagai bakal calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) 2014-2019 asal Maluku.

Baca juga: DPD susun RUU Perlindungan Hak Masyarakat Adat

Nono mendaftar di KPUD Maluku bersama 24 calon anggota DPD lainnya.

Sebagai orang yang aktif dalam berbagai bidang kegiatan, Nono juga beraktivitas dalam bidang pendidikan, sosial dan kebudayaan.

"Saya juga terjun di dunia pendidikan dengan bikin sekolah dari TK sampai SMP dan SMA/SMK," kata ayah tiga anak ini (dua puteri dan seorang putera).

Menurut dia, sekolah tidak sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan, tapi juga membina moral siswa. Pada era saat ini hal yang harus diutamakan bagi siswa adalah badan yang sehat terlebih dahulu kemudian diajari agar cerdas.

Selanjutnya, anak harus memiliki karakter moral dan spiritualitas atau agama. Tidak boleh terlepas adalah bagi siswa harus memiliki etos kerja yang baik karena sangat mempengaruhi kinerja mereka di masa kini dan masa mendatang yang semakin kompetitif.

Nono juga mengingatkan pentingnya kemitraan dengan orang lain dalam menunjang kesuksesan.

Oleh Anom Prihantoro
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pelantikan ketua DPD 2019

Komentar