Putri Lingkungan Hidup miris soal mutilasi sirip hiu

Putri Lingkungan Hidup miris soal mutilasi sirip hiu

Putri Lingkungan Hidup 2018 Vania Fitryanti Herlambang saat tampil dalam diskusi interaktif pada "Youth Forum SDGs-14 Sustainable Fisheries" IPB International Convention Center (IICC) Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (1/10/2019) sore. Ia berbagi isu perburuan sirip hiu yang membuatnya miris. (FOTO ANTARA/Andi Jauhari-HO UNDP)

Aku berterima kasih karena teman-teman mahasiswa dan generasi muda milenial yang hadir di sini tidak mencicipi sirip hiu, karena untuk mendapatkannya ada penyiksaan-penyiksaan
Jakarta (ANTARA) - Putri Lingkungan Hidup 2018 Vania Fitryanti Herlambang menyampaikan rasa mirisnya mengenai mutilasi sirip ikan hiu yang hingga kini masih diburu untuk dikonsumsi kalangan tertentu dengan dalih prestise sosial.

"Aku berterima kasih karena teman-teman mahasiswa dan generasi muda milenial yang hadir di sini tidak mencicipi sirip hiu, karena untuk mendapatkannya ada penyiksaan-penyiksaan," katanya di depan mahasiswa Fakultas Ilmu Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dari Sabang-Merauke yang hadir pada "Youth Forum SDGs-14 Sustainable Fisheries" IPB International Convention Center (IICC) Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa sore.

Ajang "Youth Forum SDGs-14 Sustainable Fisheries" itu digagas Bappenas dengan UNDP melalui pembiayaan oleh Global Environment Facility (GEF) pada Proyek Global Sustainable Supply Chains for Marine Commodities (GMC)

Dalam diskusi interaktif yang dipandu Project Coordinator Global Sustainable Supply Chains for Marine Commodities (GMC)-Badan Pembangunan PBB (UNDP) Indonesia, Jensi Sartin, itu ia berbagi informasi mengenai upaya advokasi dan kampanye yang dilakukannya dalam kapasitasnya sebagai duta lingkungan.
 
Project Coordinator GMC UNDP Indonesia, Jensi Sartin (paling kiri) memandu diskusi interaktif dalam ajang "Youth Forum SDGs-14 Sustainable Fisheries" di IPB International Convention Centre (IICC) Bogor, Jabar, Selasa (1/10/2019). Dua dari kiri adalah Putri Lingkungan Hidup 2018 Vania Fitryanti Herlambang. (FOTO ANTARA/Andi Jauhari-HO-UNDP)


Baca juga: Ikan hiu masih dijual di TPI Indramayu

Baca juga: Polisi Gilimanuk sita ratusan sirip ikan hiu


Soal sirip hiu, sejauh informasi yang dipelajarinya, termasuk berdiskusi dengan para ahli lingkungan, Vania mengetahui bahwa di Tiongkok, sajian sirip ikan hiu itu dilakukan pada pesta perkawinan kalangan atas.

"Itu menjadi simbol status sosial," kata lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menjadi runner up ajang Putri Indonesia 2018 itu.

Gadis asal Tangerang Selatan, Provinsi Banten, kelahiran 11 Februari 1997 yang hobi  berkelana dan menikmati keindahan laut itu juga menceritakan soal bagaimana sirip ikan hiu di Hong Kong.

"Di Hong Kong sirip ikan hiu itu dijemur di atap-atap gedung," katanya.

Kembali soal rasa mirisnya atas kondisi ikan hiu yang hanya diambil siripnya itu, Vania juga menyampaikan dengan tampilan foto di layar bagaimana nasib malang ikan hiu yang "buntung" karena diambil siripnya.

"Kalau teman-teman tidak merasa miris, saya 'nggak' tahu bagaimana lagi bagaimana menjelaskannya," katanya.

Baca juga: Perajin sirip hiu tak sanggup penuhi ekspor

Baca juga: Konsumsi sirip ikan hiu justru bisa berbahaya bagi kesehatan


Vania kemudian menyatakan bahwa penyiksaan itu dimulai dari penangkapan ikan hiu yang cuma diambil siripnya saja dan kemudian ikan malang itu dibuang ke laut begitu saja.

"Ini gambar (foto) ikan hiu yang sudah dimutilasi dengan dipotong siripnya, dibuang ke laut, mereka lapar, sakit, mengeluh dan tidak ada yang menolong sampai kemudian mati," katanya.

Meski harga sirip hiu mahal dan banyak permintaan, ia menyebut "Harga sirip hiu yang mahal itu rasanya tidak sebanding dengan harga yang dijual dan siksaan yang diterima satwa laut itu,".

Dia mengaku bersyukur --meski tidak jadi juara dan hanya runner up, yang sekaligus dinobatkan sebagai Putri Lingkungan Hidup-- karena bisa mengangkat agenda perlunya generasi muda peduli, termasuk pada sirip hiu itu.

Dalam kaitan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden No.59 tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan, khususnya tujuan ke-14 terkait ekosistem lautan, dengan salah satu fokus untuk mewujudkan komoditas perikanan nasional yang berkelanjutan dan berdaya
saing, ia mengusulkan agar isu-isu semacam itu untuk kalangan milenial bisa dikemas dengan cara yang tidak berat.

"Kaum milenial butuh kemasan yang bisa mengusik," katanya.

Mengapa demikian, ia memberi contoh bahwa anak muda generasi sekarang tidak bisa lagi hanya diberi pemahaman, jangan menebang pohon karena angker.

"Generasi angkatan kita ini butuh alasan yang lebih kuat dari pada era-era sebelumnya," demikian Vania Fitryanti Herlambang.*

Baca juga: WWF: hentikan konsumsi produk hiu

Baca juga: Kementerian Malaysia Larang Sup Sirip Hiu

Pewarta: Andi Jauhary
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar