Ketersediaan air irigasi di sebagian wilayah Bantul 'kritis'

Ketersediaan air irigasi di sebagian wilayah Bantul 'kritis'

Saluran irigasi untuk pertanian (Foto Antaranews)

sungai tidak bisa mengaliri saluran irigasi, hujan tidak ada, makanya saya tidak berani memutuskan kalau musim tanam ketiga ini pakai tanaman padi,
Bantul (ANTARA) - Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menyebut ketersediaan air untuk irigasi pertanian di sebagian daerah ini 'kritis' akibat musim kemarau panjang 2019 yang terjadi sejak Maret lalu.

"Iya kondisi air di saluran sangat kritis, karena sudah hampir tujuh bulan sejak Maret, April, Mei sampai dengan September ini Bantul tidak turun hujan," kata Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman Bantul Yitno di Bantul, Rabu.

Oleh karena itu, kata dia, pemerintah menganjurkan petani di wilayah ini untuk sementara tidak menanam padi, melainkan tanaman palawija yang kebutuhan airnya sedikit, tetapi apabila di daerah irigasinya ketersediaan air cukup, pihaknya tidak melarang.

"Makanya kita bareng-bareng termasuk dari media menginfokan bahwa (petani) tidak menanam padi, namun saya tidak melarang selama air cukup, tetapi kalau air kurang jangan nanam padi, karena beresiko kering di tengah jalan," katanya.

Dia mengatakan, dalam kondisi normal kecukupan air irigasi di semua wilayah Bantul mencapai 81,12 persen, dengan demikian sudah dalam keadaan baik di Bantul, tetapi kalau kondisi kemarau panjang seperti ini jelas ketercukupan air rendah dan tidak menjangkau seluruh wilayah.

Baca juga: Menteri PUPR tinjau proyek senilai Rp1,50 triliun
Baca juga: PJT II Jatiluhur: Air di saluran irigasi tetap mengalir selama kemarau

"Jujur saya bilang memang kurang, karena sungai tidak bisa mengaliri saluran irigasi, hujan tidak ada, makanya saya tidak berani memutuskan kalau musim tanam ketiga ini pakai tanaman padi, tidak berani menganjurkan," katanya.

Dia mengatakan, beberapa lahan irigasi di Bantul yang ketersediaan air sangat kurang adalah di wilayah Sono Kecamatan Kretek, karena selain tidak terdapat jaringan irigasi, sumber air yang ada yaitu Sungai Opak jauh dari lahan, sehingga kesulitan dialirkan melalui pompa.

"Di daerah irigasi Sono tidak ada jaringan irigasi, adanya pompa jinjing, bisa diambilkan dari Sungai Opak pakai pompa tetapi tidak mencukupi, karena sampai di areal sawah sudah habis, apalagi ada seluas 170 hektare, tentu ini menjadi pemikiran kita bersama di daerah Sono," katanya.

Meski demikian, kata dia, ada beberapa daerah di Bantul yang masih menanam padi saat kemarau ini, seperti di wilayah Sewon, hal itu karena ketersediaan air di jaringan irigasi dan suplai air dari Sungai Winongo mencukupi setidaknya untuk daerah itu.

"Saya tidak melarang, toh kalau petani tetap tanam padi silahkan, apalagi hubungannya dengan Dinas Pertanian supaya Bantul ini surplus pangan tidak hanya padi, makanya kami dari Sumber Daya Air ibaratnya yang mengatur air harus kita kondisikan secukupnya," katanya.


Baca juga: Stok air Waduk Pacal Bojonegoro menipis
Baca juga: Kekeringan hantui daerah lumbung padi Karawang

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Saluran irigasi di Serang merah tercemar limbah

Komentar