Artikel

Terapi gangguan jiwa model "ndeso" ala puskesmas Banyuwangi

Oleh Aditya Ramadhan

Terapi gangguan jiwa model "ndeso" ala puskesmas Banyuwangi

Orang-orang dengan gangguan jiwa merangkai bunga dalam program terapi gangguan jiwa yang dijalankan oleh Puskesmas Gitik di Kecamatan Rogojambi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (2/10/2019). (ANTARA/Aditya Ramadhan)

Banyuwangi (ANTARA) - Keterbatasan-keterbatasan mendorong Puskesmas Gitik di Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, berinovasi untuk menangani warga dengan gangguan jiwa, yang semula banyak berkeliaran di jalanan atau mengalami pemasungan. 

Kepala Puskesmas Gitik Didik Rusdiono mengatakan bahwa tahun 2017 jumlah orang dengan gangguan jiwa di wilayah kerja puskesmasnya tercatat 54 orang dan tujuh di antaranya mengalami pemasungan.

Puskesmas dalam setahun berhasil menurunkan angka pemasungan menjadi nol dan menurunkan jumlah orang dengan gangguan jiwa menjadi 37 orang, antara lain berkat penanganan gangguan jiwa yang dinamai Teropong Jiwa, Terapi Okupasi dan Pemberdayaan Orang Dengan Gangguan Jiwa.

Dalam upaya menangani masalah gangguan jiwa di wilayah kerjanya, Puskesmas Gitik sejak 2017 menjalankan upaya untuk menemukan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan orang dengan gangguan jiwa yang mengalami pemasungan. Tugas itu dijalankan oleh kader puskesmas yang dinamai Gardu Jiwa.

Kader Gardu Jiwa mencari dan melapor ke puskesmas saat menemukan ODGJ atau orang yang mengalami pemasungan. Puskesmas akan menindaklanjuti laporan dengan menurunkan tenaga medis, yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh warga dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakay (Bhabinkamtibmas).

Puskesmas Gitik mengirimkan tenaga medis yang telah dilatih menangani masalah kejiwaan untuk merawat orang dengan gangguan jiwa di rumah mereka dengan bantuan keluarga selama kurun waktu tertentu, sesuai dengan kondisi kejiwaan pasien.

Petugas puskesmas akan melakukan rawat jalan kalau pasien gangguan jiwa dirasa sudah cukup stabil, tidak gaduh gelisah, tidak berkeliaran tanpa arah, dan bisa merawat diri dalam keseharian.
​​​​​​​
Selama rawat jalan, anggota keluarga atau warga sekitar akan mengantar pasien gangguan jiwa tersebut menjalani perawatan lanjutkan ke puskesmas.

Kepala Program Kesehatan Jiwa Puskesmas Gitik Eko Budi Cahyono mengatakan puskesmas juga mengadakan kelas terapi setiap satu bulan sekali.

Dalam kelas terapi tersebut, orang-orang yang mengalami gangguan jiwa diajak membuat barang kerajinan seperti menganyam dan merangkai bunga atau bermain musik.

Namun, yang menjadi andalan puskesmas adalah terapi kerja dalam program keluarga asuh dan pengusaha asuh yang memungkinkan ODGJ bekerja di unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dalam program itu, pengusaha kue kering rumahan UD Aulia Royana Andi Ainur Rohman mempekerjakan empat ODGJ yang ditugasi membantu membuat kue kering, termasuk di antaranya Sumartin, yang sudah bekerja membuat kue kering sejak 2017.

"Dulu masih kurang stabil, lewat depan rumahnya saja saya takut. Lalu tim puskesmas menangani, tahun 2017 membuat Teropong Jiwa. Adik saya yang dulu takut sekarang Alhamdulillah santai, masuk rumahnya berani, bahkan guyon," kata Andi tentang Sumartin.

Pada Senin (30/9), Sumartin tampak sangat terampil mencetak kue satu, kue khas Banyuwangi, di dapur UD Aulia Royana yang berada di Desa Lemahbang Dewo, Kecamatan Rogojampi.

Saat berbincang, perempuan berusia 50 tahun itu tidak terlihat seperti orang yang mengalami gangguan jiwa.


 

Sumartin (kanan) sedang membuat kue kering di UD Aulia Royana di Desa Lemahbang Dewo, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Senin (30/9/2019). (ANTARA/Aditya Ramadhan)
Sumartin, yang biasa dipanggil Ibu Tin, sangat mahir membuat aneka kue kering dan basah. Dia berdiskusi dan berkelakar bersama pekerja lainnya.
​​​​​​
"Ayo coba tebak usia saya berapa?" kata Ibu Tin sambil mencetak kue ketika ditanya mengenai usianya. Perempuan yang suka merias diri saat pergi bekerja itu pun tertawa ketika usianya ditebak masih 35 tahun.

Sumartin kondisinya bisa terjaga stabil karena rutin mengonsumsi obat dari puskesmas.
​​​​​​​
Namun tidak semua ODGJ binaan Puskesmas Gitik seperti Sumartin. ODGJ lain seperti Buang Haryono masih sering senyum-senyum sendiri dan cekikikan sambil tersipu malu ketika diajak berbincang. Dia tidak terlihat tenang seperti Sumartin ketika diwawancarai.

Namun, Buang yang sehari-hari bertani di lahan milik keluarga cekatan dalam menghitung pendapatan bersih, mengurangi penghasilan kotor dengan modal dan biaya operasional menanam padi. Bahkan, Buang bahkan berencana menabung keuntungan hasil panen padinya.
 

Buang Haryono mengikuti kegiatan menganyam sebagai bagian dari terapi kesehatan jiwa yang dijalankan oleh Puskesmas Gitik di Banyuwangi, Rabu (2/10/2019). (ANTARA/Aditya Ramadhan)
Menghilangkan Pemasungan

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Widji Lestariono mengatakan bahwa pemerintah berusaha keras menghilangkan pemasungan pada orang dengan gangguan jiwa.
​​​​​​​
Ia menjelaskan, warga umumnya memasung orang dengan gangguan jiwa dengan mengikat kaki mereka menggunakan rantai atau memasukkan mereka ke ruangan terkunci dengan satu jendela karena khawatir perilaku mereka bisa membahayakan orang lain.

Dinas Kesehatan, ia mengatakan, melakukan sosialisasi menyeluruh kepada keluarga, tetangga, dan warga sekitar mengenai penanganan gangguan jiwa guna mencegah pemasungan.​​​​​​​

"Karena tidak sama dengan mengobati penyakit. Gangguan jiwa, kita tidak hanya mengobati pasiennya, tapi keluarga dan lingkungan sekitar juga harus diobati. Artinya bagaimana memberikan dukungan penuh terhadap yang diobati," kata dia.​​​​​​​

Lewat program inovasi Teropong Jiwa, ia melanjutkan, puskesmas berusaha memberdayakan ODGJ bekerja sama di UMKM dalam upaya mengatasi kekambuhan pada pasien.

Andi mengatakan UD Aulia Royana mau mempekerjakan ODGJ karena ingin membantu mereka supaya tidak semakin terkucil. 

"Kita rangkul hingga bisa berdaya punya penghasilan walaupun sedikit, mereka terus kita latih biar bisa berdaya dan tidak dikucilkan," kata Andi.

Ibu Andi, Jamilah, juga menjadi keluarga asuh bagi Sumartin dalam program Teropong Jiwa. Dia memberikan perhatian lebih kepada Sumartin, yang kadang minta upah lebih banyak atau lebih cepat dari seharusnya.

"Upahnya Rp300 ribu tapi sudah minta Rp350 ribu. Tapi itulah yang hanya ada di sini, tidak ada di tempat lain," kata Jamilah.

Pemberian upah diharapkan bisa menyemangati pasien menjalani kerja sehari-hari mereka dan bergaul dengan warga lainnya. Upaya itu tampaknya cukup berhasil pada Sumartin.

​​​Selain bekerja membuat kue kering, Sumartin bahkan menjual kue-kue basah buatannya saat libur dan menerima permintaan jasa pijat khusus untuk perempuan.

Baca juga:
Rasa Sejiwa terobosan layanan kesehatan bagi pasien jiwa di Padang
"Si Terpa Daya Jiwa" lolos Top Inovasi


Oleh Aditya Ramadhan
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar