Pemborosan pangan ikut berperan dalam perubahan iklim

Pemborosan pangan ikut berperan dalam perubahan iklim

Pendiri dan penasihat IE2I Satya Hangga Yudha (kedua kanan) dan CEO Ranum Farm Azmi Basyarahil (kedua kiri) dalam acara diskusi di Jakarta Selatan, Jumat (4/10) (ANTARA/Prisca Triferna)

Jakarta (ANTARA) - Makanan yang dikonsumsi oleh manusia tidak hanya berdampak kepada permasalahan penumpukan sampah tapi juga mempengaruhi pemanasan global, dan ikut berperan dalam perubahan iklim, menurut salah satu pendiri Indonesian Energy and Environmental Institute (IE2I) Satya Hangga Yudha Widya Putra.

"Limbah makanan yang berada di tempat pembuangan akhir menghasilkan metana dalam jumlah yang sangat besar. Metana adalah gas rumah kaca yang lebih kuat daripada CO2, yang dapat memperburuk konsekuensi negatif pada pemanasan global, yaitu perubahan iklim," ungkap Hangga dalam acara diskusi tentang limbah sisa makanan yang diadakan Tanipanen di pusat kebudayaan @america di Jakarta Selatan pada Jumat.

Menurut Hangga, permasalahan pemborosan pangan perlu diketahui oleh masyarakat luas yang kebanyakan tidak mengetahui dampak langsung dan sisa makanan yang mereka konsumsi.

Baca juga: Komnas HAM: Perubahan iklim akan jadi masalah HAM di masa depan

Berdasarkan data dari Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) PBB tahun 2016-2017, warga Indonesia membuang sekitar 300 kg makanan setiap tahun. Angka itu menempatkan Indonesia di urutan kedua pembuang makanan terbesar di dunia setelah Arab Saudi, yang rata-rata warganya membuang 427 kg makanan per tahun.

Semua pembuangan makanan itu memiliki dampak samping tidak hanya kepada ekonomi tapi juga terhadap perubahan iklim yang sekarang tengah menjadi fokus banyak negara di dunia, karena pemborosan pangan ternyata ikut berperan dengan CO2 dan metana yang dapat mempercepat pemanasan suhu bumi.

Hal serupa juga dinyatakan oleh CEO dan Co-Founder Ranum Farm Azmi Basyarahil, menekankan semua dampak itu semakin menekan pentingnya peran konsumen dalam mengurangi pemborosan pangan.

Baca juga: Kemenkes katakan perubahan iklim pengaruhi kesehatan manusia

Menurut dia, masyarakat harus mulai membangun ekosistem pertanian yang lestari dan saling menguntungkan bagi konsumen dan petani, berkontribusi pada keberlanjutan sistem pangan.

"Fokus untuk terus mengkampanyekan cara baru kita dalam mengkonsumsi pangan. Kenali siapa penanamnya, ketahui kisah perjalanan pangan kita," tutur Azmi, tentang usaha yang bisa dimulai untuk mengurangi pemborosan pangan.

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Saat mahasiswa manfaatkan sisa makanan & menjual buku

Komentar