328 ribu ha lahan terbakar akibat karhutla 2019

328 ribu ha lahan terbakar akibat karhutla 2019

Kepala pusat data informasi dan hubungan masyarakat (Kapusdatin) BNPB Agus Wibowo (kiri) saat diwawancarai di ruang kerjanya. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

"Paling mahal itu untuk operasional helikopter yaitu mencapai Rp1 triliun,
Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan sejak Januari hingga Agustus 2019 tercatat 328.722 hektare (ha) lahan terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah di Indonesia.

"Itu baru data yang masuk dari periode Januari hingga Agustus," kata Kepala pusat data informasi dan hubungan masyarakat (Kapusdatin) BNPB Agus Wibowo di Jakarta, Senin.

Ia merinci untuk Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 19.490 ha, Kalimantan Tengah 44.769 ha, Kalimantan Barat 25.900 ha, Riau 49.266 ha, Jambi 11.022 ha dan Sumatera Selatan 11.826.

"Dari total luas lahan yang terbakar itu, 100 ribu ha ada di Nusa Tenggara Timur," katanya.

Kemudian, untuk mengatasi karhutla di sejumlah daerah, BNPB telah menggelontorkan biaya hingga Rp2,5 triliun. Jumlah tersebut diperkirakan lebih kecil jika dibandingkan dengan penanganan karhutla pada 2015.

"Untuk jumlah pasti saya tidak tahu, namun saya kira penanganan lima tahun lalu jauh lebih besar karena dulu itu pemadaman api menggunakan pesawat dari Rusia yang bisa mengambil air langsung dari laut dan sungai," ujar dia.

Biaya tersebut di antaranya digunakan untuk pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dan sewa helikopter. Khusus operasi TMC, BNPB harus mengeluarkan biaya hingga Rp34 miliar namun baru dibayar Rp20 miliar.

"Paling mahal itu untuk operasional helikopter yaitu mencapai Rp1 triliun," katanya.

Baca juga: BNPB: Operasi TMC lanjut ke kekeringan setelah penanganan karhutla


Kemudian, selama penanganan karhutla 2019, pemerintah juga telah menghabiskan 333.774.451 liter air dan 237.716 kilogram garam untuk pelaksanaan 'water bombing' atau bom air dan (TMC).

Ia mengatakan jumlah tersebut bisa saja terus bertambah mengingat pelaksanaan water bombing dan TMC di sejumlah daerah masih terus dilakukan hingga kini. Bahkan, operasi itu berkemungkinan diperpanjang akibat belum datangnya musim hujan.

"Operasinya kemungkinan akan diperpanjang dan tentunya anggaran juga bertambah," kata dia.

Sementara itu, Plt Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Raffles Brotestes Panjaitan mengatakan instansi itu telah menghabiskan biaya hingga Rp105 miliar untuk penanganan karhutla pada 2019.

"Awalnya anggaran itu Rp65 miliar, namun ada penambahan sebesar Rp40 miliar," kata dia.

Anggaran tersebut di antaranya digunakan untuk pengadaan alat, gaji, honor petugas di lapangan hingga biaya operasional helikopter selama pemadam api di sejumlah daerah.

Untuk biaya sewa helikopter setiap jamnya menghabiskan dana sekitar Rp100 juta hingga Rp200 juta.


Baca juga: Di sejumlah daerah BNPB sebutkan titik panas kembali naik

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemerintah perpanjang masa transisi darurat pascagempa NTB

Komentar