Kemenkeu minta profesi keuangan responsif terhadap potensi resesi

Kemenkeu minta profesi keuangan responsif terhadap potensi resesi

Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Hadiyanto dalam Expo Profesi Keuangan di Jakarta, Selasa (8/10/2019). ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna.

Melalui analisis dan logika yang kuat, maka risiko finansial bisa dikelola
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Keuangan meminta profesi keuangan Indonesia harus responsif menyikapi dinamika global termasuk potensi resesi ekonomi untuk mengantisipasi dampak finansial.

"Dari aspek profesinya, apakah perlu ada penguatan, mekanisme metodologi baru dengan memanfaatkan data dan sebagainya," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Hadiyanto dalam Expo Profesi Keuangan di Jakarta, Selasa.

Apalagi dengan era digital saat ini, lanjut dia, profesi keuangan harus mampu memanfaatkan digitalisasi dan teknologi informasi dalam mendukung kinerjanya.

Baca juga: Ada ancaman resesi ekonomi, swasta diminta lebih hati-hati tarik utang

Profesi keuangan di Indonesia tergabung dalam sejumlah asosiasi diantaranya Ikatan Akuntan Indonesia, Institut Akuntan Publik Indonesia dan Institut Akuntan Manajemen Indonesia.

Selain itu, Masyarakat Profesi Penilai Indonesia, Persatuan Aktuaris Indonesia, dan Asosiasi Konsultan Aktuaria Indonesia.

Profesi aktuaris misalnya, mereka harus mampu menganalisis estimasi kejadian di masa depan yang memberi dampak finansial.

Melalui analisis dan logika yang kuat, maka risiko finansial bisa dikelola.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam sambutan yang disampaikan Hadiyanto juga mengingatkan tantangan ekonomi global bagi profesi keuangan.

Menkeu menyebutkan tantangan itu diantaranya normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat, fluktuasi harga komoditas dan perang dagang.

Baca juga: Pemerintah siapkan skenario proyeksi pertumbuhan ekonomi

Tantangan lainnya meliputi kebijakan proteksionisme, moderasi pertumbuhan di China, serta keamanan dan geopolitik dunia.

"Kondisi tersebut diperkirakan dapat berpengaruh terhadap nilai ekspor Indonesia. Ini membuat volatilitas dari nilai tukar, maupun capital flow, dan cost of borrowing yang meningkat," kata Menkeu dalam sambutan yang dibacakan Hadiyanto.

Menurut Menkeu, kondisi itu salah satunya disebabkan oleh banyak negara besar dunia yang saat ini cenderung mengalami potensi resesi, diantaranya Jerman, Singapura, Argentina, Meksiko, dan Brazil.

Selain resesi, lanjut dia, muncul juga permasalahan di Eropa terkait dengan Brexit, serta perang dagang antara Amerika dan China yang masih berlanjut yang perlu diwaspadai.

Potensi perang dagang di negara Asia antara Jepang dan Korea serta potensi kontraksi ekonomi India serta kenaikan dan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed) juga menjadi perhatian.

"Ini menjadi sesuatu yang tetap perlu diperhatikan serta ketidakpastian arah kebijakan beberapa negara akibat meningkatnya tensi politik dan geopolitik," katanya.

Tantangan lainnya, lanjut Menkeu, juga perlu dicermati menyangkut kondisi iklim, situasi politik, urbanisasi hingga tantangan digital.

Baca juga: Ada ancaman resesi, peneliti ingatkan intensifkan diversifikasi ekspor
 

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Presiden ingatkan pimpinan daerah soal perlambatan ekonomi dunia

Komentar