Dubes Polandia berharap isu sawit tidak ganggu negosiasi IEU-CEPA

Dubes Polandia berharap isu sawit tidak ganggu negosiasi IEU-CEPA

Duta Besar Polandia untuk Indonesia Beata Stoczyńska. (ANTARA/Yashinta Difa)

Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Polandia untuk Indonesia Beata Stoczyńska berharap isu sawit tidak mengganggu proses negosiasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA), yang telah memasuki putaran kedelapan pada Juni 2019.

“Saya berharap topik itu tidak akan mengganggu agenda ekonomi kedua pihak, terutama saat IEU-CEPA masih dinegosiasikan dan mudah-mudahan dapat segera ditandatangani,” kata Dubes Stoczyńska usai konferensi pers penyelenggaraan Forum Bisnis Indonesia-Visegrád di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa.

Baca juga: Perundingan IEU-CEPA kesempatan tingkatkan kualitas produk Indonesia Sebagai salah satu negara anggota EU, Polandia harus mengikuti kebijakan blok tersebut terkait pelarangan masuknya produk minyak sawit asal Indonesia karena isu kelestarian lingkungan.

Namun, dia menegaskan bahwa negaranya mendukung UE dan Indonesia untuk menemukan solusi terbaik dari persoalan ini, dengan membentuk kelompok kerja yang melibatkan sejumlah ahli dari kedua pihak.

“Pada dasarnya kelompok kerja itu adalah platform terbaik, jadi mari kita serahkan (solusinya) kepada para ahli,” ujar dia.

Lain halnya dengan Polandia, Duta Besar Hongaria untuk Indonesia Judit Pach justeru menegaskan dukungannya bagi Indonesia terkait isu sawit.

Baca juga: Pemerintah percepat negosiasi perjanjian ekonomi dengan Uni Eropa

Dukungan tersebut ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri Hongaria Péter Szijjarto saat menerima kunjungan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi di Budapest pada 17 September 2019.

“Dalam pernyataan persnya, menteri kami menekankan bahwa Hongaria tentu sangat mendukung Indonesia dalam masalah ini. Dalam hal perdagangan, kami sangat mendukung perdagangan bebas,” ujar Dubes Judit.

Duta Besar Besar Hongaria untuk Indonesia Judit Pach. (ANTARA/Yashinta Difa)


Dalam kesempatan tersebut, Menlu Szijjarto juga menegaskan bahwa Hongaria ingin politik internasional dibersihkan dari standar ganda.

Menlu Szijjarto menyampaikan, tidak benar jika organisasi internasional besar mengeluarkan penilaian yang tidak bertanggung jawab. Menurut dia, penting untuk menegakkan rasa saling menghormati dalam menjalin hubungan internasional.

Direktur Eropa II Kementerian Luar Negeri RI Hendra Halim menyebut Polandia, Hongaria, serta Ceko dan Slowakia yang tergabung dalam Kelompok Visegrád atau V4 secara politis berpihak pada Indonesia dalam merespons isu sawit.

“Empat negara itu termasuk negara yang bandel ya, mereka juga banyak berseberangan dengan (kebijakan) Uni Eropa,” ujar Hendra.

Baca juga: UE: Perjanjian dagang Indonesia-EU CEPA tidak bahas minyak sawit

Pemerintah Indonesia melalui Kemlu terus berupaya melakukan pendekatan dengan negara-negara Eropa yang disebutnya “sangat rasional” dalam menyikapi isu sawit itu.

“Contohnya (rasionalitasnya) beberapa negara mereka itu kan masih menggunakan energi tradisional, mereka masih pakai biofuel, bukan listrik,” kata Hendra.

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wapres minta Kementan realisasikan peremajaan sawit rakyat

Komentar