Warga Leihitu kembali mengungsi pascagempa magnitudo 5,2

Warga Leihitu kembali mengungsi pascagempa magnitudo 5,2

Warga Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu (Pulau Ambon), Kabupaten Maluku, mengungsi ke lereng bukit setelah gempa magnitudo 5,2 (10/10/2019). (ANTARA/Shariva Alaidrus)

Panik sekali tadi. Rasanya tidak tenang, takutnya saat sedang tidur tiba-tiba ada gempa besar dan tidak sempat lari ke luar. Malam ini kami semua tidur dengan tenda di atas sini.
Ambon (ANTARA) - Warga desa-desa pesisir di Kecamatan Leihitu (Pulau Ambon), Kabupaten Maluku Tengah kembali mengungsi ke dataran tinggi dan lereng bukit, pascagempa bumi bermagnitudo 5,2 mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya, Kamis.

Pantauan Antara, warga Leihitu yang sebelumnya sudah beraktivitas normal setelah gempa bumi bermagnitudo 6,5 pada 26 September 2019, kini kembali mengungsi karena panik guncangan lindu (gempa bumi) bermagnitudo 5,2 yang terjadi pada pukul 13.39.44 WIT.

Mereka mengungsi dengan membawa keperluan seadanya dan membangun tenda-tenda darurat di kawasan dataran tinggi dan sekitar lereng-lereng bukit setempat.

Faidzah Hatuwe (28), seorang warga Desa Kaitetu dan keluarga memutuskan untuk kembali mengungsi ke dataran tinggi, karena merasa tidak tenang berada di dalam rumah yang bergetar kuat akibat guncangan gempa.

Baca juga: Seorang siswa SMP tewas akibat gempa beruntun

Baca juga: Bhabinkamtibmas Passo : Vincent meninggal tertimpa reruntuhan Ruko

 

Kota Ambon digoyang gempa bumi 5,2 Magnitudo



Perasaan waswas akan ada gempa lagi dan merubuhkan rumah, membuat Faidzah dan keluarga segera membereskan dokumen-dokumen penting lalu mengungsi ke sekitar lereng bukit bersama warga lainnya.

"Kami sudah merasa sedikit tenang sebelumnya, tapi gempa kali ini membuat panik lagi, kuat sekali, mau ke kamar mandi saja takut tiba-tiba ada guncangan, dari pada tidur tidak tenang lebih baik mengungsi dulu," ucapnya.

Sama halnya dengan Faidzah Hatuwe, Vika Ngera (24) mengatakan dua pekan setelah gempa bumi magnitudo 6,5, ia dan keluarga sudah mulai bekerja dan beraktivitas seperti biasanya, tapi kembali merasa panik dengan adanya guncangan gempa susulan magnitudo 5,2.

Saat gempa terjadi Vika sedang menyusun beberapa makalah dan tugas kuliah yang harus dibawa ke kampus, tapi segera menghentikan aktivitasnya dan berlari panik ke luar rumah karena guncangan gempa menggetarkan seluruh dinding rumah.

Ia mengaku khawatir akan ada gempa besar saat dirinya dan keluarga sedang tertidur, sehingga tidak sempat menyelamatkan diri. Karena itu, ia dan keluarga memutuskan untuk mencari aman dengan menghindar ke dataran tinggi.

"Panik sekali tadi. Rasanya tidak tenang, takutnya saat sedang tidur tiba-tiba ada gempa besar dan tidak sempat lari ke luar. Malam ini kami semua tidur dengan tenda di atas sini," ucap Vika.*

Baca juga: Posko tanggap darurat gempa Desa Liang kekurangan terpal

Baca juga: Penjabat Sekda tinjau korban gempa di Passo

Pewarta: Shariva Alaidrus
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar