Bistar hadirkan layanan transportasi berbasis aplikasi di Jakarta

Bistar hadirkan layanan transportasi berbasis aplikasi di Jakarta

Pendiri aplikasi Bistar, Miftachul Amin (kanan) tengah memberikan penjelasan transportasi berbasis aplikasi yang kini diterapkan di Jakarta. (ANTARA/Agus Saeful Imam)

Jakarta (ANTARA) - Bistar, perusahaan penyedia provider karya anak bangsa menghadirkan layanan transportasi berbasis aplikasi di Jakarta, setelah sebelumnya berhasil dilakukan uji coba di Surabaya, Jawa Timur.

"Sudah kami uji coba di Surabaya sejak 2018 tidak ada masalah. Sehingga kami bawa ke Jakarta sudah tidak perlu uji coba lagi, sudah bisa langsung dipergunakan," kata pendiri Bistar, Miftachul Amin saat menjelaskan aplikasi ini di Jakarta, Jumat.

Menurut Amin, aplikasi ini di Surabaya telah memberikan layanan kepada 40.000 pengguna.

Untuk keamanan, aplikasi ini memiliki fitur untuk melakukan verifikasi data, kirim sinyal dan laporan langsung ke pihak aplikasi. Selain itu aplikasi juga tersedia sistem rating.

Fitur ini memungkinkan pengemudi maupun penumpang bisa saling memberikan penilaian. Dengan demikian jika ada pihak yang dirugikan, Bistar dapat membekukan akun tersebut.

“Jadi yang dibekukan bukan hanya akun drivernya aja. Kalau ada penumpang yang merugikan driver, penumpangnya juga bisa dibekukan,” ujar Amin.

Baca juga: Resmi jadi anggota DPRD Medan, Erwin Siahaan tidak berhenti "ngojek"
Baca juga: Cyber Jek pilihan baru tranportasi daring masyarakat Jakarta


Aplikasi ini sudah dikembangkan sejak 2014. Kemudian resmi di luncurkan di Google Play pada 2018 serta pada Januari 2019 aplikasi ini resmi diluncurkan di Appstore.

Jika di aplikasi transportasi online lain, penumpang diwajibkan membayar tarif sesuai dengan yang ditetapkan penyedia layanan, di Bistar penumpang diberi pilihan hingga lima variasi harga dan jenis kendaraan yang berbeda.

Dari sisi pengemudi pun diberi kebebasan untuk memasang tarif berdasarkan jarak tempuh dan kondisi kendaraan yang dimiliki.

"Dengan demikian, terjadi mekanisme pasar tawar-menawar sehingga tidak terjadi monopoli harga," ujarnya.

Amin menjelaskan aturan mainnya yang mengantarkan ini berhak memberikan harga sendiri karena Bistar bukan perusahaan taksi, bukan perusahaan angkutan online.

"Kami hanya mempertemukan saja," ujar Amin.

Supaya penumpang dan pengemudi dapat mengetahui tarif normal dalam suatu perjalanan, Bistar akan menerapkan tarif standar sehingga penumpang dapat memilih tawaran dari pengemudi, apakah harga yang ditawarkan terlalu mahal atau terlalu rendah.

Sedangkan dari sisi pengemudi, tarif standar yang tidak dijadikan patokan ini juga dapat diuntungkan.

Tidak hanya itu saja, aplikasi yang memiliki Tagline “Aplikasi Berbagi Tumpangan” ini juga memungkinkan para penggunanya tidak hanya dapat menggunakannya sebagai penumpang.

Hanya dengan satu aplikasi, seorang pengguna juga dapat mendaftarkan dirinya sebagai pengemudi tanpa harus terikat sebagai karyawan di perusahaan aplikasi tersebut.

Aplikasi ini hanya mengutip dari pengemudi sebesar Rp1.000 untuk sepeda motor dan Rp3.000 untuk mobil tanpa ada pembatasan jarak yang ditempuh.

Untuk bergabung dengan Bistar tergolong sangat mudah. Pengguna cukup mengisi data yg diminta di aplikasi baik sebagai driver maupun penumpang.

Proses verifikasi hanya butuh hitungan menit. "Dan bisa sedikit lama jika ada data yang diindikasikan memerlukan konfirmasi lebih lanjut," kata Amin.

Aplikasi ini, menurut Amin, sangat potensial di masa depan karena tingginya mobilitas masyarakat memungkinkan pengguna aplikasi ini juga sekaligus dapat berperan mengurangi kemacetan di kota-kota besar seperti Jakarta ini.

"Mereka dapat memberi tumpangan pengguna lain dengan rute searah," katanya.

Pewarta: Ganet Dirgantara dan Agus Saeful Iman
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Andong di Malioboro kini berbasis daring

Komentar