Pseudobulbar Affect, penyakit penyebab tawa tak terkontrol "Joker"

Pseudobulbar Affect, penyakit penyebab tawa tak terkontrol "Joker"

Joker (ANTARA News/Warner Bros)

Jakarta (ANTARA) - Dalam film "Joker", karakter Arthur Fleck digambarkan tak bisa mengontrol tawa. Dia bisa terbahak-bahak meski perasaannya sedang sedih atau gundah.

Tahukah Anda bahwa pseudobulbar affect memiliki gejala khas seperti yang dialami Joker?

Dokter Merry Dame Cristy Pane dari Alodokter menjelaskan bahwa pseudobulbar affect (PBA) adalah gangguan pada sistem saraf yang membuat seseorang tiba-tiba tertawa atau menangis tanpa dipicu oleh sebab apa pun.

"Perubahan emosi yang tiba-tiba ini sering membuat penderitanya merasa malu, cemas, mengalami depresi, hingga mengisolasi diri dari lingkungan," kata Merry dalam keterangan resmi, Jumat.

Gejala yang sering dialami penderita PBA di antaranya bisa tiba-tiba menangis atau tertawa. Dia dapat mengeluarkan reaksi yang berkebalikan dengan perasaannya, entah tertawa saat merasa sedih atau menangis ketika gembira.

Penderita BPA juga biasanya menangis atau tertawa dalam durasi yang lebih lama dari orang normal. Tak hanya itu, ekspresi wajah pun tidak sesuai dengan emosi dan dia bisa mendadak berubah marah-marah atau frustrasi.

Merry mengatakan gejala tersebut umumnya muncul secara tiba-tiba tanpa disadari. Gejala ini kerap disalahartikan dengan gangguan mental seperti depresi dan bipolar.

Baca juga: Jared Leto kesal tak diajak main "Joker"

Belum ada sebab jelas

Apa penyebab pseudobulbar affect? Hingga kini, penyebab PBA belum diketahui secara jelas. Namun para ahli meyakini PBA terjadi akibat adanya kerusakan pada korteks prefrontal, yakni area otak yang mengendalikan emosi.

Gangguan saraf PBA bisa menimpa seseorang yang memiliki penyakit serta gangguan pada otak dan saraf, seperti orang yang punya penyakit Alzheimer, Parinson, Wilson, Multiple sclerosis, Amytrophic lateral sclerosis (ALS)
Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Orang yang punya penyakit epilepsi, demensia, tumor otak, cedera otak dan tumor otak juga bisa mengalami gangguan seperti yang dialami Joker.

"Selain itu, perubahan zat kimia di otak yang berkaitan dengan depresi dan suasana hati juga berperan dalam munculnya pseudobulbar affect. Perubahan zat kimia ini dapat menggangu sinyal dan pengolahan informasi di otak, sehingga memicu munculnya gejala dan keluhan PBA."

Baca juga: Daftar rekor "box office" yang berhasil dipecahkan "Joker"

Pengobatan

Hingga kini belum ada obat khusus yang efektif mengatasi pseudobulbar affect. Tapi obat antidepresan dan obat quinidine sulfate, seperti dextromethorphan, mampu mengendalikan frekuensi serta ledakan emosi yang dialami oleh penderita PBA.

Bukan cuma obat, ada beberapa langkah yang bisa diterapkan untuk mengendalikan gejala pseudobulbar affect.

Pertama, cobalah mengubah posisi duduk dan berdiri. Coba perlahan ubah posisi, kemudian bernafas dalam demi meredakan ledakan emosi yang muncul mendadak.

Selain itu, buatlah tubuh merasa santai. Tertawa keras atau menangis mendadak bisa membuat penderita PBA mengalami ketegangan pada otot-otot wajah dan tubuh. Oleh karena itu, penderita perlu melakukan teknik relaksasi, khususnya pada otot bahu dan dahi, setelah gejala PBA berakhir.

Jangan lupa bicarakan dengan orang terdekat agar mereka tidak terkejut ketika gejala tersebut mendadak muncul.


Baca juga: Bioskop di Eropa larang topeng dan senjata mainan di pemutaran "Joker"

Baca juga: Joaquin Phoenix tertarik bermain di sekuel "Joker"

Baca juga: Adegan pertemuan Thomas Wayne dan Arthur Fleck "Joker" ditulis ulang

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Canda tawa Presiden bersama Wapres dan Menteri Kabinet Kerja

Komentar