Pengamat: Penusukan Wiranto bukan "playing victim"

Pengamat: Penusukan Wiranto bukan "playing victim"

Pengamat Komuniskasi Politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing. ANTARA/Istimewa.

Karena ini bisa saja dilakukan kelompok tertentu, ya biasa lah membentuk opini publik yang tidak produktif menurut saya, ujarnya
Jakarta (ANTARA) - Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing menilai insiden penusukan terhadap Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam) Wiranto bukan playing victim atau menempatkan diri sebagai korban dalam suatu permasalahan.

"Kalau ada sementara orang yang berpendapat itu playing victim, itu sama sekali tidak benar," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Emrus mengaku sudah melihat langsung gambar dan video yang tersebar di berbagai media sosial maupun layar televisi. Namun, tidak ditemukan adanya unsur playing victim.

Artinya, kata dia, tidak benar jika mantan Panglima TNI tersebut seolah-olah dibuat sebagai korban untuk mencari simpatik, sehingga masyarakat diminta untuk lebih cerdas dan dewasa dalam memahami masalah.

Baca juga: Penusukan Wiranto dicurigai rekayasa, Tedjo Edhy:jangan melebar kesana

"Jadi jika ada anggapan seperti itu, sama sekali tidak benar dan tidak berdasar," ujar dia.

Ia mengatakan, dilihat dari sudut lambang verbal maupun nonverbal sama sekali tidak mengarah adanya unsur playing victim atau seolah-olah sebagai korban.

Pandangan tersebut ia sampaikan karena mengkhawatirkan akan ada pro dan kontra di tengah masyarakat atas insiden yang menimpa Menko Polhukam tersebut.

"Karena ini bisa saja dilakukan kelompok tertentu, ya biasa lah membentuk opini publik yang tidak produktif menurut saya," ujarnya.

Baca juga: Penyerangan Wiranto, Agum: Ancaman seperti ini kuncinya intelijen

Oleh karena itu, ia mendorong aparat kepolisian mengusut tuntas terkait motif pelaku yang dengan terang-terangan menyerang Wiranto menggunakan benda tajam.

Adanya sejumlah kalangan yang mencurigai kasus penusukan Menko Polhukam Wiranto sebagai kejadian rekayasa, menurut pengamat intelijen Ngasiman Djoyonegoro menunjukkan bahwa masyarakat belum benar-benar menyadari keberadaan kelompok radikal teroris di negara ini.

Baca juga: Penusukan Wiranto, Fadel: Perketat pengamanan tiga pejabat negara

Oleh karena itu, lanjut Simon, sapaan akrabnya, perlu terus dilakukan literasi yang benar terkait bahaya terorisme dan juga keberadaan serta aktivitas kelompok radikal teroris itu kepada masyarakat.

"Kita semua punya kewajiban mengajak masyarakat luas untuk melawan tindakan radikalisme dan terorisme dengan memberikan wawasan edukasi literasi yang benar," kata Simon.

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Polri perberat pidana tersangka penikam Wiranto

Komentar