Pulihkan daya saing, Pengamat sarankan buat peta potensi investasi

Pulihkan daya saing, Pengamat sarankan buat peta potensi investasi

Rektor Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie Hisar Sirait. (ANTARA/Aji Cakti)

Kita perlu memastikan untuk memiliki peta potensi investasi. Artinya kita harus bisa mendapatkan gambaran potensi investasi di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari tingkat provinsi hingga ke tingkat desa
Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi Hisar Sirait menyarankan agar pemerintah membuat peta potensi investasi di seluruh wilayah Indonesia hingga tingkat desa dalam rangka memulihkan kembali indeks daya saing global.

"Kita perlu memastikan untuk memiliki peta potensi investasi. Artinya kita harus bisa mendapatkan gambaran potensi investasi di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari tingkat provinsi hingga ke tingkat desa," ujar ekonom yang juga menjabat sebagai Rektor Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Hisar menjelaskan bahwa peta potensi ini dapat memberikan informasi penting mengenai potensi investasi di suatu wilayah dari ketersediaan sumber daya manusia, sarana-prasarana infrastruktur, keberlanjutan pasokan atau suplai dari bahan bakunya, serta beragam hal lainnya.

Selain peta potensi investasi, menurut dia, pemerintah juga perlu menciptakan iklim usaha yang kondusif dalam rangka menarik minat investor melalui peningkatan kenyamanan berinvestasi, memastikan kemudahan berinvestasi dan keamanan berinvestasi.

Tidak hanya itu, kepastian mengenai kebijakan yang terintegrasi mulai dari tingkat pusat hingga kelurahan harus digalakkan dalam rangka menarik minat investor ke Indonesia.

"Komponen terendah dalam indeks daya saing global Indonesia tahun ini, saya melihatnya ada dua yakni adopsi teknologi dan kapasitas investasi yang rendah. Ini memang harus menjadi perhatian ke depan," kata Hisar Sirait.

Kalau Indonesia mau meningkatkan daya saing global ke depannya, kata kuncinya hanya satu yakni produktivitas. Supaya produktivitas meningkat terdapat dua faktor yang perlu diperhatikan sangat serius yaitu ketersediaan sumber daya manusia berkualitas dan tingkat penguasaan teknologi yang bisa menciptakan nilai tambah bagi produk-produk Indonesia.

Indonesia bisa menarik minat lebih banyak investor asing dalam rangka menggenjot produktivitasnya jika para pengambil kebijakan mau mengubah pola pikir dan sikap atau mindset-nya. Selain itu mereka juga harus memiliki semangat kerelaan untuk melayani dan ketaatan terhadap prosedur, regulasi serta peraturan.

Sebelumnya, World Economic Forum mengeluarkan indeks daya saing global (GCI) tahun 2019 yang menempatkan Indonesia di posisi 50. Laporan itu menyebutkan Indonesia mengumpulkan skor 64,6 atau turun tipis 0,3 dibandingkan tahun lalu.

Forum Ekonomi Dunia (WEF) tersebut juga menyebut kekuatan utama Indonesia adalah pasarnya dengan nilai 82,4 dan stabilitas ekonominya (90). Mencermati kinerja dalam indikator lain pada indeks, WEF menilai masih ada ruang untuk peningkatan poin 30-40, meskipun tidak ada hambatan utama.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa regulasi investasi yang rumit menjadi penyebab turunnya peringkat Indonesia untuk daya saing ekonomi global.

Sedangkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan indikator kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi penyebab penurunan peringkat Indonesia dalam indeks tersebut.

Baca juga: Indef: Regulasi investasi yang fleksibel dapat pulihkan daya saing

Baca juga: Kota Magelang raih juara indeks daya saing daerah

Baca juga: Kabupaten Pati raih Favorit III indeks daya saing


 

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar