Ribuan peserta meriahkan Festival Babukung Lamandau

Ribuan peserta meriahkan Festival Babukung Lamandau

Karnaval Topeng Bukung sebagai rangkaian pembukaan Festival Babukung 2019 di Nanga Bulik, Jumat, (11/10/2019). ANTARA/Koko Sulistyo

berbagai inovasi dan bentuk penyajian festival yang lebih menarik, agar Babukung tetap masuk dalam kalender pariwisata nasional
Nanga Bulik, Kalteng (ANTARA) - Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, menggelar Festival Babukung 2019 yang masuk dalam kalender pariwisata nasional Kementerian Pariwisata dan ditandai dengan Karnaval Topeng Bukung yang diikuti ribuan peserta.

"Tak kurang dari 1.350 peserta yang tampil dalam Karnaval Topeng Bukung, mereka terdiri dari berbagai kelompok masyarakat di delapan kecamatan dan pihak lainnya yang berasal dari Lamandau dan luar daerah," kata Bupati Lamandau Hendra Lesmana di Nanga Bulik, Kalteng, Sabtu.

Ribuan peserta itu, mewakili masing-masing kecamatan dengan menampilkan delapan karakter topeng atau luha. Pada kegiatan itu dapat ditemui peserta dengan topeng Bali dari kerukunan masyarakat Bali di Lamandau, Reog Ponorogo, serta penampilan budaya dari tanah Toraja dan Batak.

Baca juga: Lamandau pecahkan rekor MURI sajikan coto keladi korup matah terbanyak

Sebelum dilepas dari halaman Kantor Kecamatan Bulik, dilakukan upacara adat Nota Garung Pantan untuk menyambut kedatangan tamu dari Kementerian Pariwisata, serta ritual Maumpan Bukung.

Meski panas terik, ribuan masyarakat yang memadati ruas Jalan Batu Batanggui, tak beranjak dari tempatnya untuk bisa menyaksikan kemeriahan karnaval topeng yang juga dilengkapi dengan aksi flash mob para penari.
Karnaval Topeng Bukung sebagai rangkaian pembukaan Festival Babukung 2019 di Nanga Bulik, Jumat, (11/10/2019). ANTARA/Koko Sulistyo
Masuknya Festival Babukung dalam kalender pariwisata nasional, selain menjadi kebanggaan bagi pemerintah kabupaten dan warga setempat, juga kebanggaan bagi Kalimantan Tengah.

"Tahapan pelaksanaan acara yang dilakukan sudah masuk ke Kementerian Pariwisata dan akan terus kami tingkatkan, sehingga menjadi sebuah kegiatan yang benar-benar prestisius yang nyaman untuk disaksikan," harapnya.

Gelaran yang sudah memasuki tahun kelima itu, akan ditingkatkan kembali pada tahun mendatang, dengan berbagai inovasi dan bentuk penyajian festival yang lebih menarik, agar Babukung tetap masuk dalam kalender pariwisata nasional.

Festival tersebut juga diharapkan mampu membawa peningkatan terhadap aspek ekonomi bagi masyarakat, dengan meningkatkan tingkat hunian di penginapan serta sarana untuk lebih dikenalnya kuliner khas Lamandau.

Baca juga: Karnaval perahu tandai Peringatan Hari Kemaritiman Nasional

Sementara itu perwakilan Kementerian Pariwisata Ratna Suranti menuturkan agar Babukung tidak tereliminasi dari kalender pariwisata nasional, ada tiga kriteria yang harus dipenuhi, yaitu dilihat dari aspek kreativitas suatu kegiatan, aspek ekonomi terhadap pelaksanaan agenda budaya, serta antusiasme masyarakat.

Ia menilai Festival Babukung 2019 sangatlah baik, hal ini dibuktikan dengan wawancara langsung yang dilakukannya dengan para pelaku ekonomi dan warga setempat, hingga banyaknya wisatawan mancanegara yang datang.

Baca juga: Menpar apresiasi Gorontalo Karnaval Karawo 2019

Terlebih kegiatan Festival Babukung 2019, bertepatan dengan Wonderful Sail To Indonesia. Para wisatawan yang sudah masuk ke Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, juga banyak yang datang ke Lamandau untuk menyaksikan festival tersebut.

"Kami melihat antusiasme masyarakat yang begitu luar biasa dan tentunya mampu memacu percepatan ekonomi di daerah," ujarnya.

Ia juga berharap agar masing-masing kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah, bekerja sama antara satu dan lainnya untuk membuat paket wisata bersama.

Salah satu contohnya, para wisatawan yang melakukan perjalanan ke Tanjung Puting digandeng untuk membuat perjalanan wisata ke Lamandau, sehingga upaya pengembangan sektor pariwisata di Kalteng bisa dilakukan secara optimal.

Baca juga: Peringati Hari Batik, Cirebon gelar festival topeng

Pewarta: Kasriadi/Koko Sulistyo
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar