Karel Ralahalu: Masyarakat jangan terprovokasi gempa palung Banda

Karel Ralahalu: Masyarakat jangan terprovokasi gempa palung Banda

Informasi hoaks yang menyatakan longsornya Palung Banda bisa menyebabkan amblesnya Pulau Ambon, Lease dan Seram. ANTARA/Shariva Alaidrus

Beredar luas melalui medsos soal berita dan gambar yang menunjukkan Pulau Ambon, Pulau Lease dan Pulau Seram berada di tebing jurang palung laut paling terdalam di dunia itu, sesuatu yang tidak benar dan perlu dipercaya.
Ambon (ANTARA) - Mantan Gubernur Maluku, Karel Ralahalu mengimbau masyarakat jangan terprovokasi berita palsu (hoaks) melalui media sosial yang menyebutkan Pulau Ambon, Kepulauan Lease dan Pulau Seram akan hilang akibat guncangan gempa dari Palung Banda.

"Beredar luas melalui medsos soal berita dan gambar yang menunjukkan Pulau Ambon, Pulau Lease dan Pulau Seram berada di tebing jurang palung laut paling terdalam di dunia itu, sesuatu yang  tidak benar dan perlu dipercaya," ucapnya saat dikonfirmasi ANTARA dari Ambon, Sabtu.

Karel yang berada di Jakarta mengakui, menyikapi keresahan masyarakat Maluku yang dipimpinnya selama 10 tahun itu mendorongnya untuk berkoordinasi dengan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Doni Monardo dan diarahkan bertemu ahli tsunami BNPB, Abdul Muhari di Jakarta pada 11 Oktober 2019.
Baca juga: LIPI: Tidak benar Maluku ambles jika palung laut longsor

"Abdul menyampaikan berita viral potensi tsunami itu hoaks karena gambar batimetri tersebut telah diedit sedemikian rupa dan diberikan keterangan seakan - akan ilmiah, tetapi ternyata bertujuan untuk meresahkan masyarakat Maluku, terutama Kota Ambon serta Kabupaten Maluku Tengah maupun Seram Bagian Barat (SBB) pascagempa magnitudo 6,5 pada 26 September 2019," ujarnya.

Karena itu, dia menyarankan pemerintah di Maluku agar intensif berkoordinasi dengan BNPB, BMKG maupun lembaga resmi lainnya untuk memberikan sosialisasi atau pun enjelasan mengklarifikasi berita hoaks melalui medsos karena meresakan masyarakat.

"Masyarakat pun hendaknya tidak mudah terprovokasi berita hoaks, bahkan meneruskan melalui medsos ke warga lainnya sehingga menimbulkan kepanikan lebih luas," tandas Karel.
Baca juga: Gempa susulan di Maluku capai 1.316 kali

Sebelumnya, Abdul mengatakan, gambar diedarnya melalui medsos itu bukanlah foto setelit 3D karena tidak bisa membuat foto dasar laut, apalagi dengan kedalaman 7 KM di bawah permukaan laut.

Gambar tersebut, lanjutnya, hanyalah data batimetri biasa (tersedia banyak di internet) yang kemudian diberikan efek ketinggian dan kedalaman lebih signifikan seakan - akan data ini baru. Padahal ini data lama dan biasa saja.

"Asumsi jika terjadi gempa dari palung Banda akan menyeret pulau Ambon, Kepulauan Lease dan pulau Seram adalah tidak benar. Bahkan, hasil penelitian sangat jelas dinyatakan tidak ada bukti
bahwa segmen palung Banda adalah segmen seismik aktif," tegas Abdul.
Baca juga: Kota Ambon lengang setelah diguncang gempa beruntun

Pewarta: Alex Sariwating
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar