Satu korban tewas akibat badai yang mendekati ibukota Tokyo

Satu korban tewas akibat badai yang mendekati ibukota Tokyo

Ilustrasi - Ombak besar akibat badai tropis Nanmadol pecah di pinggir pantai Senjojiki, kota Shirahama, perfektur Wakayama, Jepang, dalam foto yang diambil Kyodo, Selasa (4/7/2017). (Mandatory credit Kyodo/via REUTERS)

Tokyo (ANTARA) - Satu orang tewas dan lebih dari 3 juta orang disarankan untuk mengungsi ketika badai topan yang kuat terjadi di ibu kota Jepang pada Sabtu, sehingga membawa hujan dan angin terberat dalam 60 tahun.

Topan Hagibis, yang berarti "kecepatan" dalam bahasa Filipina Tagalog, diperkirakan mendarat di pulau utama Jepang Honshu pada Sabtu malam, mengancam akan membanjiri dataran rendah Tokyo karena bertepatan dengan air pasang.

Badai, yang diperingatkan pemerintah bisa menjadi yang terkuat melanda Tokyo sejak 1958, telah membawa rekor curah hujan di prefektur Kanagawa di selatan Tokyo dengan curah hujan 700 mm (27,6 inci) selama 24 jam.

Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan tingkat tertinggi untuk beberapa daerah di Tokyo, Kanagawa dan lima prefektur sekitarnya lainnya, peringatan jumlah hujan yang terjadi hanya sekali dalam beberapa dekade.

"Kami melihat hujan yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata seorang pejabat agensi pada konferensi pers yang diadakan oleh penyiar publik NHK. "Kerusakan akibat banjir dan tanah longsor sepertinya sudah terjadi."

Banyak orang di dan sekitar Tokyo sudah berlindung di fasilitas evakuasi sementara.

Yuka Ikemura, seorang guru sekolah penitipan anak berusia 24 tahun, berada di salah satu fasilitas semacam itu di sebuah pusat komunitas di Edogawa di Tokyo timur dengan putranya yang berusia 3 tahun, anak perempuan yang berusia 8 bulan dan kelinci peliharaan mereka. Dia memutuskan untuk pindah sebelum terlambat.

"Aku punya anak-anak kecil untuk diurus dan kami tinggal di lantai pertama sebuah apartemen tua," kata Ikemura.

"Kami membawa serta kebutuhan-kebutuhan yang dasar. Saya takut memikirkan kapan kami akan kehabisan popok dan susu," katanya kepada Reuters.

Baca juga: Badai kencang mendekat, Jepang imbau ratusan ribu warga mengungsi

Rentan

Bandara Haneda Tokyo dan bandara Narita di Chiba keduanya menghentikan penerbangan dari pendaratan dan koneksi dengan kereta ditangguhkan, memaksa pembatalan lebih dari seribu penerbangan, menurut media Jepang.

Pejabat prefektur Kanagawa mengatakan mereka akan mengalirkan air dari bendungan Shiroyama, barat daya Tokyo, dan memperingatkan warga di daerah-daerah di sepanjang sungai terdekat.

Angin kencang telah menyebabkan beberapa kerusakan, khususnya di Chiba timur Tokyo, di mana salah satu topan terkuat yang melanda Jepang dalam beberapa tahun terakhir menghancurkan atau merusak 30.000 rumah sebulan lalu.


"Kami sedang menuju ke air pasang. Jika topan menghantam Tokyo saat air pasang tinggi, itu bisa menyebabkan badai dan itu akan menjadi skenario paling menakutkan," katanya. "Orang-orang di Tokyo memiliki rasa aman yang salah."

Lebih dari 16.000 rumah tangga kehilangan daya listrik, termasuk 7.200 di Chiba, yang dilanda angin topan Faxai sebulan yang lalu, kata kementerian industri.

Kementerian Pertahanan menyiapkan akun Twitter baru untuk menyebarluaskan informasi tentang upaya bantuan bencana.

Toko, pabrik, dan sistem kereta bawah tanah telah ditutup sebagai tindakan pencegahan, sementara penyelenggara Grand Prix Formula One Jepang membatalkan semua sesi latihan dan kualifikasi yang dijadwalkan pada Sabtu.

Dua pertandingan Piala Dunia Rugby yang akan dimainkan pada hari Sabtu juga dibatalkan.

Topan Ida, yang dikenal sebagai "Topan Kanogawa" dalam bahasa Jepang, menewaskan lebih dari 1.000 orang pada tahun 1958.

Sumber: Reuters

Baca juga: Jepang bakal dihantam hujan terdahsyat dalam 60 tahun terakhir
Baca juga: Badai dahsyat Faxai mendarat di Tokyo
Baca juga: Sedikitnya 10 orang hilang, 400.000 diungsikan akibat hujan lebat di Jepang

Penerjemah: Maria D Andriana
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar