Adik dan Ipar Arifin Panigoro Perkuat PPDI

Surabaya (ANTARA News) - Adik dan ipar dari pengusaha Arifin Panigoro, Deddy Panigoro dan Indra Damayanti Sugono, ikut memperkuat Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI). Penetapan kedua saudara bos Medco tersebut berlangsung disela-sela Musyawarah Nasional Luarbiasa Partai PDI di Hotel Equator Surabaya 28-29 Juli 2008. Deddy ditetapkan sebagai salah satu ketua DPP PPDI, dan Indra Damayanti Sugondo sebagai Wakil Bendahara DPP PPDI. Munaslub juga mengukuhkan kembali Mentik Budiwiyono dan Alex Leaweya sebagai Ketua Umum PPDI dan Sekjen PPDI. Munaslub diikuti 358 DPC dan 33 propinsi, dengan peserta 500 orang dari seluruh Indonesia. Dalam pemandangan umum cabang-cabang, isu sentral Capres dan Cawapres yang akan diusung menjadi salah satu fokus perhatian. Nama-nama yang dimunculkan sebagai Capres maupun Cawapres, antara lain Arifin Panigoro, Prabowo Subianto, Saurip Kadi, Siswono Yudohusodo, Sultan Hamengkubuwono X dan Wiranto. Bahkan ada yang mengusulkan Mentik Budiwiyono sebagai Capres sebagaimana diusulkan DPD PPDI Kalbar dan Jabar. Ketua DPD PPDI Jatim, Sabrot D Malioboro mengusulkan agar isu sentral Capres dan Cawapres diserahkan kepada DPP Partai PDI, dengan catatan capres dan cawapres yang sudah pernah diajukan pada pemilu-pemilu sebelumnya tidak usah dicalonkan. Sementara itu Mentik Budiwioyono mengatakan Partai PDI pasti tetap mendukung Karsa dalam Pilgub Jatim putaran kedua sesuai hasil keputusan Rapimda PPDI Jatim yang belum berubah. "Kami akan lebih all-out untuk memenangkan KarSa, sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim," kata Mentik. Dia mengatakan, PPDI akan menggalang satu kampanye yang dilakukan secara struktural sendiri, yang nanti juga selaras dengan program-program KarSa. Partai PDI baru saja menyelesaikan kemelut internal, dengan adanya DPP PPDI tandingan yang dipimpin Endung Sutrisno dengan dukungan mantan Ketua Umum PDI, Drs Soerjadi, namun yang diakui Depkumham adalah Partai PDI yang dipimpin Mentik Budiwiyono. (*)

Editor: Bambang
COPYRIGHT © ANTARA 2008

Komentar