Artikel

Kisah BBM Satu Harga hadir di 170 titik Nusantara

Oleh Afut Syafril Nursyirwan

Kisah BBM Satu Harga hadir di 170 titik Nusantara

Pekerja PT Pertamina sedang membawa Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk pelaksanaan Program BBM Satu Harga di wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T). ANTARA/HO Humas PT Pertamina/am.

Ke depan saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden kalau bisa program ini dilanjutkan hingga 500 titik di 2024
Jakarta (ANTARA) - Sejak tahun 2017 berbagai upaya dilakukan untuk memberikan energi handal bagi negara, khususnya ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk Nusantara.

Namun hadir saja tidak cukup. Keekonomian yang setara atau satu harga adalah "harga mati" untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Luasnya lautan serta kepulauan di Nusantara memberikan tantangan tersendiri, bagaimana setetes demi setetes Premium tersebut menjadi begitu berarti bagi sebagian masyarakat pelosok, dari ketiadaan menuju kesetaraan.

Demi memberikan akses energi yang handal dan terjangkau, kehadiran BBM Satu Harga di wilayah terdepan, terluar dan tertinggal (3T), menjadi target utama memberikan pelayanan prima.

Pada pertengahan Oktober 2019 ini telah genap beroperasi BBM Satu Harga di 170 titik Indonesia. 

BBM dengan harga yang sama dengan di wilayah lainnya, Rp 6.450 untuk jenis Premium dan Rp 5.150 untuk Biosolar. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan meresmikan beroperasinya penyalur BBM Satu Harga ke-170 yang ditandai dengan peresmian 13 titik penyalur BBM Satu Harga yang dipusatkan di SPBU Kompak, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat (11/10).

"Ke depan saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden kalau bisa program ini dilanjutkan hingga 500 titik di 2024," ujar Menteri Jonan.

Tidak berhenti begitu saja, Pertamina yang mendapatkan mandat tugas mengoperasikan penyaluran BBM tersebut, bersama pemerintah tetap meneruskan titik demi titik pada tahun selanjutnya. SPBU BBM Satu Harga ke depan bisa ditingkatkan menjadi SPBU komersial, tidak hanya melayani BBM bersubsidi.

"Ke depan bisa juga melayani BBM jenis lainnya seperti Pertalite, Dexlite ,dan lain sebagainya," kata Jonan.

Pada kesempatan yang sama Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Fanshurullah Asa melaporkan rincian BBM Satu harga yaitu 160 penyalur dibangun oleh Pertamina dan 10 penyalur oleh PT  AKR Corporindo Tbk.  Adapun sebaran BBM Satu Harga yaitu  Sumatera 31 titik, Jawa 3 titik, Kalimantan 42 titik, Bali 2 titik, Nusa Tenggara 25 titik, Sulawesi 17 titik dan Maluku-Papua 50 titik.

Kemudian Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur mengungkapkan bahwa hadirnya 2 SPBU BBM Satu Harga di Kabupaten Lembata (Kecamatan Omesuri dan Kecamatan Nubatukan) sangat membantu memenuhi kebutuhan BBM masyarakat Lembata.

"Sebelumnya kami hanya punya 1 APMS. Dengan tambahan 2 SPBU ini harapan kami BBM Satu Harga bukan hanya dapat dinikmati masyarakat yang dekat penyalur, tapi juga nanti akan ada sub-penyalur di desa-desa, sehingga harga BBM yang sebelumnya dijual dengan harga Rp 10.000 hingga Rp 30.000, nantinya paling tidak bisa di bawah Rp10.000 (di subpenyalur)," ungkap Eliaser.
 
Menteri ESDM Ignasius Jonan (ketiga kanan) berjabat tangan dengan Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa (ketiga kiri) disaksikan Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mas'ud Khamid (kiri) dan Bupati Lembata Eliaser Yance Sunur (kedua kanan) usai penandatanganan peresmian Lembaga Penyalur Pertamina BBM satu harga, di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Jumat (11/10/2019). ANTARA FOTO/Risky Andrianto/pd



Dibalik Upaya

Keberadaan BBM Satu Harga tersebut melalui kisah dan proses yang cukup panjang. Salah satunya, kisah yang terpampang dari salah satu sudut sempit Indoneisia.

Perahu Galilea melambat sebelum sampai ke dermaga. Nampak awak kapal sibuk membuang sesuatu ke laut. Tidak berselang cukup lama, belasan drum bermunculan hanyut mengapung di laut dangkal, nampaknya sengaja dihanyutkan untuk tujuan tertentu. Kemudian terlihat delapan orang yang menunggu di tepi dermaga sengaja melompat menceburkan diri ke laut menghampiri drum-drum tersebut.

Mereka menggiring drum satu per satu ke tepian serta mendorong agar menggelinding mudah dipindahkan saat di daratan. Seakan barang yang berharga, drum tersebut dibawa ke tepi dengan sangat hati-hati, bukan dengan dorongan kasar. Rupa-rupanya, isi drum tersebut merupakan BBM yang dikirimkan oleh pemasok untuk dijual disalurkan kepada masyarakat.

Cara seperti ini lumrah terjadi di Desa Nolot, Pulau Saparua, Maluku. Sejarah asal muasal drum tersebut, ternyata diangkut dengan menggunakan Perahu Galilea pembuang drum tadi, yang bermuatan sekitar 18 drum BBM  jenis Premium dengan total volume 5.000 liter.

Awalnya BBM ini berasal dari Terminal BBM Wayame, Maluku, yang diangkut dengan mobil tangki berkapasitas 5 kiloliter. Setelah perjalanan sekitar 1 jam, mobil tangki tiba di Dermaga Tulehu untuk memindahkan muatan isi tangkinya ke belasan drum yang sudah siap menanti dipindahkan ke perahu di pinggir dermaga.

Setelah pengisian selesai, BBM dibawa dengan Perahu Galilea ke Pulau Saparua dengan waktu perjalanan sekitar 3 jam di atas laut, barulah dihanyutkan ke laut untuk digiring ke daratan.

Setelah sampai di darat, truk akan membawa BBM tersebut ke satu-satunya lembaga penyalur di pulau ini yaitu Agen Premium Minyak dan Solar (APMS) di pusat keramaian Pulau Saparua.

Untuk sekali proses penurunan BBM hingga siap diangkut truk, pengusaha APMS harus merogoh kocek sekitar Rp 180.000 per perahu. Dalam sehari, ada tiga kali pengantaran dengan perahu. Biaya tersebut belum termasuk biaya pengantaran dengan kapal dan truk ketika tiba di Pulau Saparua.

Begitulah salah satu gambaran dari sekian banyak, bagaimana distribusi BBM di salah satu pulau terpencil di Nusantara. Ada kemungkinan cara yang lebih sulit serta berbahaya terjadi di belahan lain pulau di Indonesia untuk bisa menikmati BBM.

Sebab terdapat 16.056 jumlah pulau yang sudah terverifikasi menjadikan konektivitas di Indonesia semakin luas serta kompleks jalurnya. Tentu saja kebutuhan masyarakat akan bahan bakar semakin vital untuk dicari.

Tantangan lainnya, selain distribusi, di Papua pada bulan Oktober 2016 untuk mengisi satu liter premium di tangki motor, pengendara harus merogoh "kocek" senilai Rp70.000 - Rp100.000 untuk jarak tempuh rata-rata hanya 40 kilometer dengan motornya. Sedangkan pada masa yang sama harga di Pulau Jawa untuk Premium Rp6.450 per liter dan solar Rp5.150 per liter.

Pengiriman dramatis serta tingginya harga BBM tersebut, direspons pemerintah melalui pencanangan program BBM Satu Harga di seluruh wilayah Nusantara. Menteri ESDM Ignasius Jonan menerbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 36 Tahun 2016 tentang Percepatan Pemberlakuan Satu Harga Jenis BBM Tertentu dan Jenis BBM Khusus Penugasan Secara Nasional.

Jenis BBM yang termasuk dalam aturan yang ditandatangani Jonan pada 10 November 2016 tersebut adalah solar dan minyak tanah bersubsidi serta Premium penugasan.

Kini 170 titik target sejak 2017 hingga 2019 sudah tuntas, harga di Papua serta Jawa sudah mulai setara yaitu Premium Rp6.450 dari yang tadinya Rp100.000 per liter.

Tapi belum semua memang merasakan BBM Satu Harga. Masih banyak tugas akan dituntaskan pada tahun-tahun ke depan, seperti mencanangkan 500 titik SPBU BBM Satu Harga lagi.

Namun yang pasti 170 titik BBM Satu Harga itu telah mampu menggerakkan kegiatan ekonomi domestik lebih besar dan diharapkan mampu menurunkan harga sembako.

Oleh Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Enam SPBU 3T di Kalimantan resmi beroperasi

Komentar