Peneliti sebut Kerang Hijau Teluk Jakarta cocok untuk biofilter

Peneliti sebut Kerang Hijau Teluk Jakarta cocok untuk biofilter

Dua peserta kegiatan Restorasi Kerang Hijau di Pantai Ancol merangkai kawat ram sebagai media tanam untuk menabur kulit kerang hijau di perairan Ancol, Minggu (6/10/2019). ANTARA/Laily Rahmawaty/aa.

Dampak yang ditimbulkan jika mengkonsumsi Kerang Hijau yang berasal dari perairan tercemar logam berat berpotensi munculnya penyakit kankerĀ  dan penyakit degeneratif non kanker juga tinggi
Jakarta (ANTARA) - Keberadaan Kerang Hijau (Perna viridis) di perairan Teluk Jakarta tidak layak untuk dikonsumsi, sebaliknya makhluk bercangkang ini lebih cocok sebagai biofilter untuk memulihkan perairan laut yang tercemar.

"Di 2004 saya sudah mengatakan kerang hijau di Teluk Jakarta tidak layak dikonsumsi sehingga yang paling layak itu dijadikan biofilter," kata Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Keluatan (FPIK) IPB University, Prof Etty Riani saat dihubungi Antara di Jakarta, Minggu.

Fitri mengatakan Kerang Hijau (Perna viridis) di Teluk Jakarta tidak layak konsumsi karena mengandung logam berat yang berasal dari pencemaran perairan.

Dari hasil penelitian di Teluk Jakarta tersebut ditemukan kerang hijau yang mengandung cukup banyak logam berat di dalamnya seperti mekuri (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb), krom (Cr) dan timah (Sn).

Oleh karena itu ia menyarankan agar kerang hijau yang ada di kawasan Teluk Jakarta dimanfaatkan untuk upaya konservasi yakni memperbaiki kualitas perairan pantai Jakarta yang sudah mengalami pencemaran berat.

Ia menjelaskan, keberadaan kerang hijau di perairan bukan sekedar menjernihkan air laut saja, tapi sebagai biofilter.

"Biofilter itu jasad hidup atau makhluk hidup yang memfilter logam berat," aktanya.

Baca juga: Warga Jakarta kehilangan sumber nutrisi terbaik akibat pencemaran

Baca juga: Kerang Hijau 'senjata' alami jernihkan Teluk Jakarta

Baca juga: Pencurian jadi tantangan restorasi kerang hijau di Ancol


Ia mengatakan menjernihkan air bagi kerang hijau sangat gampang, cukup hanya mengendapkannya saja, karena kalau Total suspendid solid (TSS) atau kepadatan tersuspendensi total mengendap secara fisik bisa, tapi kalau kerang hijau sebagai biofilter adalah kerang hijau akan menyerap, biofilter untuk menyerap logam berat.

"Ya bisa mirip seperti ikan sapu-sapu lah, sebagai biofilter untuk menyerap logam berat, tidak untuk dikonsumsi, tapi bisa memfilter logam berat," katanya.

Etty mendukung upaya konservasi kerang hijau yang dilakukan sejumlah pihak, sehingga kerang hijau yang ada di Teluk Jakarta sebaiknya jangan lagi dibudidayakan untuk diperjualbelikan dan dikonsumsi, tetapi dibiarkan hidup sebagai biofilter perairan Jakarta.

Menurut dia, dampak yang ditimbulkan jika mengkonsumsi Kerang Hijau yang berasal dari perairan tercemar logam berat berpotensi munculnya penyakit kanker  dan penyakit degeneratif non kanker juga tinggi.

Etty menyebutkan mengkonsumsi kerang hijau akan menjadi teratogenik (membuat monster) untuk anak, terutama untuk bayi-bayi yang dilahirkan bisa memunculkan cacat bawaan, dalam arti cacat bukan hanya fisik, tapi bisa mengakibatkan intelegensi anak turun, down syndrome, dan autis.

"Karena sudah ada penelitian terkait itu, bahwa pada anak-anak autis itu memang kandungan logam beratnya rata-rata tinggi," kata Etty.

Etty menambahkan, pada seminar di Bali tahun 2017 ia pernah  memaparkan hasil penelitiannya tentang potensi kerang hijau sebagai bioakumulator.

"Memang kerang hijau sangat potensial sebagai bioakumulator untuk perairan laut yang tercemar," kata Etty.

 

Bahaya Kerang Hijau Muara Angke

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar