Pengamat: Hasil revolusi karakter baru bisa dilihat beberapa tahun

Pengamat: Hasil revolusi karakter baru bisa dilihat beberapa tahun

Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak saat memberi sambutan di sela kegiatan penguatan revolusi mental bagi generasi milenial menuju Indonesia berkarakter dalam rangka Nawa Bhakti Satya untuk Jatim maju sejahtera di Surabaya, Minggu (29/09/2019). ANTARA/Fiqih Arfani

kalau kita mengambil contoh anak SD maka baru bisa akan teruji pada saat mereka SMA atau kuliah
Jakarta (ANTARA) - Pemerintah sudah berada di jalan yang benar dalam melakukan revolusi karakter bangsa tapi masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk melihat hasilnya dalam beberapa tahun mendatang, ungkap pengamat sosial Devie Rahmawati.

"Upaya untuk membentuk karakter itu perlu waktu yang lama. Kenapa lama karena dilakukan harus lewat pendekatan struktur yaitu lewat kurikulum. Kenapa harus lewat kurikulum? Agar tidak ada satupun orang yang tertinggal," kata akademisi Universitas Indonesia itu ketika dihubungi di Jakarta pada Senin siang.

Menurut Devie, pembentukan karakter lewat kurikulum diperlukan agar setiap orang mendapatkan dasar yang sama. Jika hanya dilakukan lewat ceramah atau diskusi, ujarnya, maka tidak semua orang akan mendapatkan instrumen pendidikan tersebut.

Dia menegaskan dengan pendidikan semua orang akan mendapatkan materi yang sama dengan nilai yang serupa, diambil dari sumber yang tidak akan bertentangan satu dengan lainnya.

Baca juga: Akademisi sebut pola penguatan karakter bangsa perlu disesuaikan

Devie mengambil contoh negara-negara barat yang menggunakan haluan yang sama selama bertahun-tahun dan berhasil mencapai indeks pembangunan manusia yang tinggi berkat konsistensi dari pendidikan dan ideologi mereka selama bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun.

Karena melalui pendidikan, maka hasil dari revolusi karakter atau mental baru bisa dilihat hasilnya secara nyata dalam beberapa tahun mendatang.

"Ini yang membuat mengapa butuh waktu untuk mengujinya, karena kalau kita mengambil contoh anak SD maka baru bisa akan teruji pada saat mereka SMA atau kuliah," tegasnya.

Pemerintah sendiri, ujarnya, sudah melakukan langkah yang benar tapi perlu lebih lanjut mengadakan reformasi kurikulum untuk lebih mengedepankan pada kualitas pembangunan manusia bukan hanya kuantitas yang berdasarkan menghafal.

Presiden Jokowi Widodo dalam periode keduanya berencana mengedepankan revolusi karakter bangsa untuk membangun sumber daya manusia yang unggul demi menghadapi revolusi industri 4.0.

Baca juga: Basarah khawatirkan Medsos ambil alih pembentukan karakter bangsa
Baca juga: JPPI: bumikan Pancasila jadi karakter bangsa Indonesia sejak dini

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pembangunan fisik juga wujud revolusi mental

Komentar