Dubes: jarak jadi hambatan psikologis relasi dagang Indonesia-Peru

Dubes: jarak jadi hambatan psikologis relasi dagang Indonesia-Peru

Duta Besar Peru untuk Indonesia, Julio Cardenas, ketika ditemui di sela kegiatan Forum Bisnis Indonesia-Amerika Latin dan Karibia (Indonesia-Latin America and the Caribbean/INA-LAC) di Tangerang, Banten, Senin (14/10/2019). (ANTARA/Suwanti)

Banyak yang berpikir Indonesia terlalu jauh dari Amerika Latin, namun keterhubungan sudah meningkat pesat, mengirimkan barang semakin mudah, kargo udara juga semakin murah
Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Peru untuk Indonesia, Julio Cardenas, menilai bahwa jarak yang jauh menjadi hambatan psikologis dalam hubungan perdagangan negara itu dengan Indonesia.

Ditemui di sela Forum Bisnis Indonesia-Amerika Latin dan Karibia (Indonesia-Latin America and the Caribbean/INA-LAC) di Tangerang, Banten, pada Senin, Cardenas menyebut bahwa pihaknya sedang mencoba mengatasi hambatan psikologis tersebut.

“Banyak yang berpikir Indonesia terlalu jauh dari Amerika Latin, namun keterhubungan sudah meningkat pesat, mengirimkan barang semakin mudah, kargo udara juga semakin murah,” ujar Dubes Cardenas.

Ia menekankan bahwa yang semestinya mendapat perhatian lebih dalam kerja sama perdagangan kedua negara bukan lagi jarak, melainkan bagaimana bisa menjalankan bisnis dengan memanfaatkan teknologi dan fasilitas termutakhir saat ini.

Hambatan yang secara realistis masih dirasakan adalah sejumlah biaya yang diterapkan dalam perdagangan Indonesia dan Peru, terlebih belum ada Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA: Comprehensive Economic Partnership Agreement) yang disepakati.

“Isu terkait tarif itulah yang membuat kami mengejar penandatanganan perjanjian ekonomi komprehensif untuk meningkatkan perdagangan kedua negara,” kata Dubes Cardenas.

Saat ini, menurut Dubes Cardenas, Indonesia dan Peru sedang berada dalam proses pembicaraan awal untuk menuju kesepakatan perjanjian ekonomi tersebut.

Baca juga: Indonesia-Peru sepakat lakukan perundingan perjanjian perdagangan

Selain itu, forum bisnis seperti dalam kerangka INA-LAC yang baru pertama kali diselenggarakan menjadi salah satu upaya untuk mendukung proses tersebut dengan cara lebih saling memahami, berjejaring, dan berkontak antarpelaku bisnis (business to business).

Dubes Cardenas juga melihat adanya kemauan politik (political will) dari pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk melirik pasar Amerika Latin sebagai pasar baru non-tradisional, selain Afrika Selatan dan Asia Selatan.

Begitu pula dengan Peru yang ingin menjadikan Indonesia sebagai mitra dagang signifikan berikutnya setelah tiga negara lain di kawasan Asia.

“Biasanya negara Amerika Latin bermitra dagang dengan China, Jepang, dan Korea, namun Peru sendiri tengah melihat Indonesia sebagai ‘kaki keempat yang menyokong sebuah meja’,” kata Dubes Cardenas.

Data Kedutaan Besar Peru menunjukkan bahwa nilai perdagangan antara Indonesia dengan Peru sekitar 245 juta dollar Amerika, yang dianggap relatif kecil jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan dan Eropa.

Adapun komoditas ekspor unggulan dari Peru, seperti disebutkan Dubes Cardenas, antara lain buah anggur dan alpukat, sementara komoditas ekspor Indonesia yang mendapat perhatian karena kualitasnya adalah sepatu, perangkat otomotif, dan tekstil.

Baca juga: Menlu RI-Peru bahas kerja sama bilateral

Pewarta: Suwanti
Editor: Azis Kurmala
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perdagangan Indonesia - Vietnam tunjukkan tren positif

Komentar