Sosiolog: Pemimpin negara bisa jadi panutan untuk revolusi karakter

Sosiolog: Pemimpin negara bisa jadi panutan untuk revolusi karakter

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tejun langsung bersih-bersih pantai di kaki Jembatan Suramadu sebagai bagian contoh langsung keteladanan pemimpin. ANTARA/Abdul Hakim

yang paling efektif dilakukan pemerintah adalah implementasikan oleh Presiden dan tataran elite perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila
Jakarta (ANTARA) - Pemimpin negara dan tokoh bangsa bisa menjadi panutan dalam proses revolusi mental dan karakter bangsa masyarakat Indonesia, menurut sosiolog Nia Elvina.

"Masyarakat kita masih sangat kental menganut nilai patron-klien, atau dengan kata lain perilaku pemimpin akan segera diikuti oleh pengikut atau masyarakat. Sehingga yang paling efektif dilakukan pemerintah adalah implementasikan oleh Presiden dan tataran elite perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila," ujar akademisi Universitas Nasional itu, ketika dihubungi di Jakarta pada Senin.

Implementasi atau percontohan, ujarnya, harus sesuai perilaku oleh tokoh harus sesuai dengan revolusi mental karakter yang ideal menurut falsafah bangsa Indonesia untuk menghasilkan karakter yang lebih baik.

Perilaku bijak pemimpin bangsa itu, kata Nia, kemudian akan diikuti jajaran bawahan dan masyarakat luas akan segera mengikuti perubahan perilaku yang diidealkan tadi.

Baca juga: Pengamat sosial tekankan revolusi karakter harus lewat pendidikan

"Karena secara teoritispun tindakan atau contoh perilaku itu lebih mudah untuk diikuti dan dilaksanakan daripada hanya sekedar jargon," tegas Nia.

Selain pemimpin yang memberikan contoh, revolusi karakter dan mental juga bisa dilakukan dalam bentuk struktur yaitu lewat pendidikan, menurut pengamat sosial vokasi Universitas Indonesia, Devie Rahmawati.

Menurut Devie, kurikulum pendidikan yang baik akan memberikan semua orang dasar karakter yang sama.

Tapi, tegasnya, kurikulum yang dapat membuahkan revolusi karakter hanya bisa dicapai jika tidak hanya fokus kepada hasil hafalan, tapi juga kualitas berpikir dan tindakan.

"Yang paling jelas adalah mengajarkan team work, etos kerja dan kejujuran itu kan harus diuji. Karena jujur tidak bisa dihafalkan, kerja keras tidak bisa dihafalkan," kata Devie.

Presiden Joko Widodo dalam periode keduanya 2019-2024 mengatakan akan lebih berfokus kepada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) meski tidak akan meninggalkan usaha membangun infrastruktur, untuk memasuki era Revolusi Industri 4.0.

Baca juga: Pengamat: Hasil revolusi karakter baru bisa dilihat beberapa tahun
Baca juga: Presiden ingin guru fokus didik karakter murid
Baca juga: Mendikbud nyatakan pendidikan karakter adalah prioritas utama

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pembangunan fisik juga wujud revolusi mental

Komentar