Tips menghadapi kabut asap pekat seperti di Palembang

Tips menghadapi kabut asap pekat seperti di Palembang

Sejumlah pengendara melintas di Jalan Jenderal Sudirman Palembang yang diselimuti kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/10/2019). ANTARA FOTO/Mushaful Imam/pras.

Jakarta (ANTARA) - Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan seperti di Palembang dapat memengaruhi kesehatan orang yang terpapar dan harus dilakukan pencegahan agar tidak semakin buruk.

Berdasarkan Buku Penanggulangan Krisis Kesehatan Lindungi Diri Dari Bencana Kabut Asap Kementerian Kesehatan yang dikutip di Jakarta, Selasa, terdapat beberapa tips untuk menghadapi kabut asap guna mencegah paparannya memengaruhi kondisi kesehatan.

Yang pertama hindarilah pajanan asap dengan mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama bagi yang menderita penyakit jantung dan gangguan pernapasan. Jika terpaksa pergi ke luar rumah, sebaiknya gunakanlah masker.

Baca juga: Masyarakat Solok Selatan mulai rasakan mata perih akibat kabut asap

Dampak kabut asap lebih memengaruhi kondisi kesehatan kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, lansia, dan orang yang telah memiliki penyakit paru ataupun jantung. Bagi yang telah mempunyai gangguan paru dan jantung sebelumnya, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk perlindungan tambahan sesuai kondisi.

Upayakan agar polusi dari kabut asap tidak masuk ke dalam rumah atau sekolah dan ruang tertutup lainnya. Penampungan air dan tempat makanan yang berada di ruangan harus terlindungi dengan baik agar partikel asap tidak menempel.

Cucilah sayuran dan buah-buahan sebelum dikonsumsi. Begitu pula dengan bahan makanan dan minuman harus dimasak dengan baik jika hendak dikonsumsi. Selain itu minumlah air putih lebih banyak dan lebih sering.

Baca juga: Satgas: Tiga heli pemadam karhutla dipindahkan dari Riau

Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan berdampak langsung pada kesehatan, khususnya gangguan saluran pernapasan. Asap mengandung sejumlah gas dan partikel kimia yang mengganggu pernapasan seperti sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), formaldehid, akrelein, benzen, nitrogen oksida (NOx) dan ozon (O3).

Material tersebut memicu dampak buruk yang nyata pada lansia, bayi dan pengidap penyakit paru. Meskipun tidak dipungkiri dampak tersebut bisa juga menyerang orang sehat.

Bagi orang sehat, dampak yang paling umum terjadi adalah dampak akut atau jangka pendek seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Segeralah menghubungi tenaga medis bila sudah merasakan gejala-gejala ISPA agar kondisi tubuh tidak semakin memburuk.

Gejala ISPA yang dapat dirasakan antara lain demam, sakit kepala, batuk, hidung berair atau tersumbat, sakit pada tenggorokan, badan terasa pegal atau nyeri pada sendi, dan sesak napas.

Baca juga: Kabut asap di Padang semakin pekat, jarak pandang jadi enam kilometer
Baca juga: Walhi: Kabut asap di Palembang semakin parah

 

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kabut asap tak surutkan niat warga Palembang berolahraga

Komentar